oleh

Kasus Kekerasan Pada Anak, Butuh Pengawasan Serius Dari Pemerintah

 

JAKARTA, KICAUNEWS.COM – Kasus kekerasan anak di Indonesia, membutuhkan pengawasan serius. Dalam 7 tahun terakhir, bukan hanya jumlah kekerasan yang meningkat, tetapi juga jenis kekerasannya.

Dari perolehan data yang dihimpun redaksi dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia 2017. KPAI sendiri  menggolongkan kasus kekerasan dalam 10 kategori. Dari setiap kategori itu, ada anak yang berstatus sebagai pelaku, korban, maupun saksi kasus kekerasan.

Dalam data KPAI periode 2011 sampai 31 Desember 2017 ini disebutkan, kasus kekerasa lebih banyak terjadi dan tidak terlaporkan ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia.

Selain itu, dalam data itu, KPAI menyimpulkan, banyaknya aturan bukan jaminan, kepedulian dan pemahaman orang tua pun masih harus ditingkatkan. Oleh karena itu,
dibutuhkan peran bersama dalam memutus rantai kekerasan anak.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Susanto memaparkan,  biang kekerasan pada anak di Indonesia terjadi karena lemahnya pemahaman masyarakat dan orang tua, terhadap makna perlindungan anak.

Saat ini, kata Susanto, masih banyak orang tua dan masyarakat menganggap, anak itu milik dia sendiri. Alhasil, sambung Susanto, apapun yang dilakukan terhadap anak dianggap sah-sah saja dengan alasan agar perilaku dan sikap anak menjadi lebih baik.

“Padahal tidak seperti itu dalam hal perlindungan. Anak itu titipan Tuhan, harus dijaga, dirawat, dididik agar tumbuh optimal, dan proses itu dilakukan dengan baik-baik,” kata Susanto, seperti dikutip redaksi dari situs Beritagar.id, Kamis (24/04).

Dari data yang berhasil di himpun redaksi KICAUNEWS.COM, pada periode 2011-2014 kekerasan terhadap anak didominasi kategori anak yang berhadapan dengan hukum, seperti kekerasan seksual (perkosaan, pencabulan, atau sodomi), atau kekerasan fisik.

Bahkan pada data itu juga diuraikan, pada tahun 2014, ada sebanyak 1.250 kasus (17,5 persen) dari 21.985 kasus. Dalam hal ini anak sebagai korban.

Baca juga :  Peduli Lingkungan Hidup Babinsa Tinjau Pembuatan Ipal

Meski pada tahun 2015, angka kekerasan seksual atau kekerasan fisik terhadap anak itu tetap maraton, dan mengalami kenaikan pada 2016 hingga 2017. (Haji Merah)

 

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru