oleh

Payah…..Pelayanan Disdukcapil Tangsel Kurang Memuaskan

TANGSEL, KICAUNEWS.COM – Berbelit-belit, ruwet dan ekonomi biaya tinggi itulah yang dirasakan oleh warga masyarakat kota Tangerang Selatan saat akan membuat kartu identitas diri seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan juga Kartu Keluarga (KK). Menurut Glen salah seorang warga kecamatan Setu, kepada media online. pada Selasa (10/04/2018) pagi, menyampaikan rasa pusing dan kejengkelannya atas pelayanan yang diberikan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Tangerang Selatan, yang pelayanannya masih mirif model jaman Ki Benen (jaman VOC) dan bertele-tele terhadap proses pembuatan KTP dan KK di Tangerang Selatan.

“Coba banyangkan saja, masa membuat KTP sama KK yang terbuat dari kertas, saya harus menunggu selama satu bulan lebih, sedangkan Pangeran Bandung Bondowoso yang membuat candi Prambanan dan candi Roro Jonggrang di Klaten Yogyakarta, hanya satu malam saja membuatnya itu candi Roro Jonggrang yang terbuat dari ribuan batu yang sangat keras,” terangnya.
Lebih lanjut Glen menambahkan bahwa, para pegawai dan pejabat Disdukcapil Tangerang Selatan, dalam memberikan keterangan kepada masyarakat mukanya pada jutek dan tidak ramah serta beralasan yang tidak logis dan relevan lagi di jaman digitaliasi seperti sekarang ini.
“Lagu lama dan kaset kusut kalau hari gini masih pakai alasan prosedur dan S.O.P. yang bertele-tele dan rumit. Ini jaman komputer bos, bukan lagi jaman Ki Benen jaman Kompeni yang nyetak sesuatu harus anter dulu berkasnya ke kota Batavia. Buat apa namanya KTP dan KK nasional, kalau ngimput data yang sudah ada saja pakai waktu 14 hari kerja, saya sampai Dua kali berargumentasi keras dengan pegawai Disdukcapil dan sekali dengan salah satu Kabidnya, belum lagi bolak-balik kekantor kecamatan, padahal katanya ini jaman Now……,” tandas Glen menyiratkan raut muka yang sangat kesal.
Sementara itu, beberapa warga masyarakat yang tidak mau dipublikasikan identitasnya juga menyatakan kekecewaannya atas pelayanan yang buruk saat proses pembuatan KTP dan KK di Tangerang Selatan. Tan Tjing Kiem warga keturunan yang sudah 35 tahun tinggal di Tangsel (dulu kabupaten Tangerang) menyatakan bahwa, dirinya bingung dengan tindakan pihak pegawai Dinas Disdukcapil Tangsel yang mencoret dengan spidol, Dua nama saudaranya yang sebelunnya terdaftar di Kartu Keluarga nya.

Baca juga :  Mulai 30 Agustus 2016, Aturan Ganjil Genap Mulai Berlaku

“Dua nama saudara saya di coret pakai spidol oleh pegawai Dukcapil dengan alasan sudah tidak tinggal di rumahnya, tapi saat saya mau buat Pasport ternyata pihak kantor imigrasi tidak mau menerima KK saya tersebut dan menyuruh saya untuk menggantinya ke kantor Dukcapil. Pan bapak tau sendiri bagaimana ribet, susah dan lamanya ngurus bikin KTP ama KK disini,” terangnya menggerutu.

Hal yang sama juga dialami oleh Mirah (nama samaran), saat bertemu dengan beberapa media online, kecamatan Ciputat Timur pada Selasa (10/04/2018) siang, dirinya bingung kenapa nomor NIK Kartu Keluarganya tidak bisa di input oleh pihak manapun, termasuk pihak bank.

“Saya bikin KTP sama Kartu Keluarga ini prosesnya lamaaaaaaaa banget pak, buang waktu dan tenaga, bolos kerja mulu dan ngeluarin ongkos buat transfor dan makan, rasanya nangis darah dah ngejalanin proses buat KTP sama KK nya, tapi setelah jadi eeh…..nomor NIK nya ngak bisa di input untuk keperluan bikin SKCK dan urusan ke bank, terpaksalah buang waktu dan lainnya lagi ke kecamatan,” pungkas Mirah menahan kekecewaan yang mendalam.( BTL/tris)

Facebook Comments
Print Friendly, PDF & Email

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

1 comment

  1. Sy juga mengalami kekecewan yg amat sangat pada hari ini 31 agustus 2018 terhadap pelayanan di dukcapil tangerang selatan

    Hari ini saya mengurus surat kematian bapak saya yg sdh ke 3 kalinya datang karena selalu aja datanya kurang, sebelumnya petugas minta photo copy ijazah , setelah susah payah mencari untuk melengkapi, tp saat dibawa petugas lain bilang tdk perlu dan harus di ganti dgn isian formulir.

    Yang paling sangat mengecewakan n saat itu lahir batin saya tdk terima perlakuan mereka adalah seperti meremehkan n menyepelekan saya.

    Hari ini jum’at 31 Agustus 2018 saya mendapatkan antrian no 142, saya meninggalkan DUKCAPIL jam 11:45 krn sebagian msh ada yg melayani masyarakat yg lain walau sebagian sudah pergi karena jum’atan, sekembali jum’atan saya sempat ke ATM dulu sehingga terlambat dan urutan no terpanggil sudah no 151, dan coba menanyakan krn no antrian saya terlewat kepada ibu Chasiah, namun dgn wajah dan jawaban yg kurang ramah dibilang disuruh menunggu sampai semua no antrian habis sekitar 60 antrian, dan saya coba memohon ke loket 4 dgn memohon kebijakan dgn harapan bisa dbantu karena terlewatnya no antrian saya bukan unsur kesengajaan, tapi karena sholat jum’at dan ternyata saya mendapat jawaban yg sama tanpa ada toleransi dan kebijakan sedikitpun, saya coba konfirmasi ulang diloket depan dan memastikan jika memang tdk bisa saya akan kembali ke lain hari, tapi loket depan menyarankan saya untuk menunggu sekitar 1 jam setelah smua antrian selesai dipanggil, saya coba menuruti sarannya karena saya juga sdh menunggu n antri dari pagi,

    Sekitar jam 14:05 no antrian terakhir no 217 dan 218 dipanggil bahkan sampai 2 kali, tapi setelah lama sampai jam 15:00 tdk ada panggilan berikutnya dan layar monitor tv depan loket 3 dimatikan dan tdk ada kabar atau pemberitahuan secara resmi atau mengumkan untuk proses no tertinggal atau terlewatkan.
    Diloket 4 saya melihat bangku antrian yg sudah lama kosong dan petugas sudah tidak sibuk untuk menagih janji akan memproses jika antrian sudah selesai semua jam menunjukkan 15:10 msh saat jam kerjs, tapi saya sangat amat kecewa dengan jawaban mereka “bapak silahkan cari loket yg lain saja, karena saya sdh tutup” begitu juga yg disebelahnya dan langsung ditinggalkan pergi begitu saja, saya masih penasaran dgn janji ibu Chasiah yg katanya untuk dan harus menunggu proses semua antrian selesai, tapi sungguh amat sangat mengecewakan dan lahir batin dunia akhirat saya tdk terima dan rasanya ingin berteriak karena mendapatkan jawaban yg sama untuk mencari loket lain dan langsung ditinggalkan pergi tanpa kembali, ingin rasanya saya langsung bertemu ibu Airin Rahmi untuk melaporkan kinerja mereka yang pasti kurang sopan dan saya saat itu merasa amat sangat diremehkan direndahkan dan dihinakan, jika tidak mengingat ibu saya, rasanya tidak mau lagi saya mengurus akte kematian bapak saya, begitu sulit dan rumit serta tidak manusiawi, tapi kenapa ada yg lain bisa dilayani dgn baik bahkan dari kejauhan sdh disapa n dihampiri??!!! Sedangkan saya sudah sesuai prosedur sudah antri dari pagi sampai sore sedangkan saat itu jam 15:15 masih jam kerja tdk dilayani dgn baik, adakah sesuatu ??!!!

    Ingin rasanya tulisan saya ini dibaca oleh walikota ibu Airin Rahmi atau pejabat lainnya yg berwenang agar bisa ada pembenahan kl perlu training tentang pelayanan masyarakat yg lebih baik, agar tidak terjadi rasa sakit hati n kecewa seperti saya ini terjadi pada yg lain, saya rasa mereka PNS sdh mendapat gaji yg cukup dari pemerintah dan mereka juga mendapatkan gaji dari Rakyat seharusnya mereka tau itu, dan harusnya mereka bersyukur bisa jd PNS dbanding yg lain seperti saya sebagai mitra OJOL yg harus kepanasan muter susah payah mencari uang, sungguh saya sangat amat kecewa dan sakit hati krn sdh meninggalkan ngojek dari pagi sore dan mendapatkan pelayanan yg sangat kurang baik dari pelayan masyarakat yg mendapatkan gaji juga dari masyarakat.
    Mengurus surat orang yg sudah meninggal saja sulit sekali, gimana ngurus surat orang yg masih hidup??!!

    Semoga tulisan saya ini bisa dibaca walikota tangerang selatan Ibu Airin Rahmi yg baik hati yang sangat perduli pada masyarakat Tangerang Selatan dan juga pejabat lain yg terkait untuk perbaikan pelayanan masyarakat kedepan yg lebih baik khususnya di Tangerang Selatan, Amiin

Berita Terbaru