oleh

Sukmawati Gagal Faham dan Mengolok Olok Umat Islam

JAKARTA, KICAUNEWS.COM – Seseorang yang cerdas dan berintegritas, dan warna negara yang baik, tidak akan melakukan kesalahan yang sama secara berulang kali, selain terselip suatu kepentingan. Belum terlalu jauh dari pandangan mata kita dan belum juga terlupakan dari ingatan public kita, bhw di negeri ini telah terjadi gelombang aksi gerakan comunalisme ummat islam, 411, 212, 313 dst. Para analis atau pengamat politik menyebut gerakan ummat itu diistilahkan dg Gerakan Populisme. Gelombang masa yang sangat mengejutkat perkiraan mencapai 5 – 7 juta umat islam.

Gelombang massa itu memang cukup fenomenal karena sanggup menyedot massa tiga kali melibihi masa yang menduduki senayan saat meminta Presiden Soeharto turun di thn 1998. Oleh para pengamat gerakan masive 411, 212, 313 dst yang menuntut Pengadilan terhadap Ahok atas penistaan al Quran S. Almaidah 51 diidentikan sebagai gelombang kebangkitan politik identitas atau politik islam. Gerakan ini amat sangat merepresentasikan politik umat islam Indonesia di tanah air.

Belum pernah dlm sejarah Politik Indonesia sejak Orla dan orba umat islam datang dari penjuru negeri membanjiri Jakarta hanya sekedar mengingatkan Mr. Ahok bhw keinginan politik setinggi langit silahkan saja tapi tidak boleh mencederai perasaan beragama umat islam. Menurut para pengamat gerakan politik identitas ini adalah bentuk dari krisis demokrasi. Karena bagi mereka demokrasi membolehkan gerakan aksi masa tapi tidak boleh mengatasnamakan tema islam dan oleh orang islam. Aksi aksi umat islam atas nama islam bagi mereka mencederai demokrasi atau menodai demokrasi. Bukankah ini merupakan bahagian dari indikasi menguatnya pemikiran secularisme di tanah air ?

Olehnya atas nama demokrasi, atas nama Pluralisme serta menjaga NKRI dan Bihneka Tunggal Ika Polisipun bekerja ekstra keras menjebloskan para activis islam dlm tahanan. Selain itu fitnah keji bertubi bertubi dialamatkan kepada para ulama yang tiada bukti dan tak masuk akal. Umat islam yang moyaritas di negeri ini dianggap sebagai penghuni baru dan diperlakukan sebagai kelompok minoritas yang tak bersejarah di republik ini. Polisi lalu bekerja dg dalih penegakan supremasi hukum menyasar kepada activis dan ulama. Namun public yang cerdas tentu memahami bhw semua itu hanyalah rekayasa untuk mendiskreditkan martabat umat islam pada fora kehidupan berbangsa dan bernegara.

Baca juga :  Bhabinkamtibmas Polsek Bandung Kulon Polrestabes Bandung Sambang dan Beri Himbauan Protokol Kesehatan

Lalu untuk apa Puisi Sukmawati yang membandingkan Suara Adzan dan Kidung, Cadar dan Konde ? Rakyat memahami Sukmawati binti H. Ahmad Soekarno bukanlah orang baru dan bukan pula baru lahir seakan ia tidak punya referensi politik atau pengatahuan tentang rangkaian reaksi umat atas penistaan al quran itu. Puisi Sukmawati bernada memperolok olok dimensi keberagamaan umat muslim, yang memicu kemarahan umat islam. Dan juga cermin dari gerakan kaum seculer untuk meredam api kebangkitan islam di tanah air.

Sukmapun tahu bhw ajaran Islam di Indonesia sdh melembaga dan membudaya, menjadi model keberadaan islam sebagai agama negara. Islam hadir jauh lebih awal dari usia NKRI itu bukan rahasia tapi facta sejarah. Sukma sebagai anak Proklamatorpun tahu bahwa tidak ada kemerdekaan yang dideklarasikan oleh Soekarno – Hatta tanpa perjuangan panjang dg senjata bambu runcing oleh mayoritas umat muslim di negeri ini yang telah gugur menjadi syuhada.

Soekmawati pun tahu Republik ini bisa dideklarasikan atas kebesaran jiwa dan kerelaan politik dan watak kenegarawanan para tokoh islam pendiri bangsa yang rela dan mengikhlaskan hilangnya 7 kata dlm sila pertama Pancasila demi tercapai tujuan segera berdirnya negara dan terselenggaranya pemerintahan negara Indonesia yg Merdeka berdaulat dan tetap bersatu. Dari situ saya yakin dan percaya bhw Sukmawati sangat sadar saat menulis puisi untuk sebuah tujuan. Dengan begitu menurut keyakinan saya ada unsur kesengajaan Sukmawati dan mempunyai tujuan tertentu saat menulis dan membaca puisi tsb.

Sukmawati Putri Soekarno tapi rasanya ia tak memiliki sukma bangsa yang menjahit persatuan kebangsaan. Apalagi Sukmawati tahu bhw ayah biologisnya seorang Pendiri dan ideolog bangsa yang sangat menjiwai denyut nadi kesebangsaan kita. Soekarno beberapa kali mendapat pengukuhan Doktor HC di Universitas al Azhar Mesir dan IAIN Yogyakarta dlm bidang Pemikiran Islam. Jadi rasanya Sukmawati tidak mungkin tidak tahu di negeri ini islam telah menginstitusi dan mengcultur sepanjang jejak nusantara.

Baca juga :  Polsek Cisarua Giat Himbauan 3M Pada Masyarakat

Adzan itu tiap hari dikumandangkan untuk mengajak orang shalat, adzan itu berisi lafadz tentang Tuhan yang maha agung, syahadat Tauhid, syahadat Rosul, mari sholat dan mari menuju kebahagian. Apakah kamu terganggu ? Cadar itu refleksi iman dan islam seorang muslimah. Fenomena cadar bukan baru hari ini saja tapi sejak 20 – 30 thn yang lalu sebahagian muslimah di negeri ini sdh bercadar. Dan kesadaran akan cadar oleh muslimah dan masuk ke ruang public, seperti masjid, ruang kuliah, kampus, pasar, mall, supermarket, dll. Kenapa baru sekarang putri Bungkarno terusik dan disampaikan melalui puisinya.

Suara adzan baik atau buruk, sahdu atau merusak pendengaran adalah sesuatu yang relatif dan tidak substansif. Tetapi lafal adzan yang disuarakan oleh muadzin merupakan panggilan untuk mengingatkan kaum muslimin dan muslimah bhw telah tiba waktu sholat wajib bagi muslima dan muslimah. Maka bersegeralah untuk menunaikan shalat wajib.

Adzan, memang sesuatu yang terpisah dari shalat, tetapi adzan bermakna seruan, yakni mengajak orang untuk segerah menunaikan shalat wajib. Adzan dan shalat merupakan rangkaian dasar construksi gerakan peradaban islam. Sesungguhnya perkara shalat lima waktu kedudukannya menjadi kunci dari salah satu rukun islam. Dan construksi shalat itu dimaksudkan untuk mencegah seseorang dari tindakn fahsya dan munkar. Shalat meneguhkan kualitas kemandirian essensi dan eksistensi manusia.

Adzan dianalogikan sebagai jembatan penghubung shalat. Bila adzan dinihilkan, diruntuhkan, sama halnya meruntuhkan shalat wajib. Erdogan, Presiden Republik Rakyat Turki menyatakan keteguhan eksistensialnya sebagai muslim, ia menyerukan pada dunia bhw dimana adzan berkumandang di situlah tanah airku. Betapa dahsyatnya nilai adzan. Itu sikap carakter dan integritas seorang Pemimpin Dunia Islam. Muslim Indonesia belum menemukan mukjizat adzan yang menguatkan dimensi setiap muslim baik bersifat personal maupun jamaah.

Baca juga :  Baru di Lantik, Kades dan Istrinya Meninggal Dunia Karena Lakalantas

Dalam analogi yang lain bila Sukmawati tidak suka dengan suara adzan berarti Sukma juga tidak suka dg shalat yang bertujuan untuk mencegah prilaku buruk dan tidak terpuji lainnya. Bisa dibayangkan bagaimana mungkin negeri yang besar dan mayoritas muslim ini tanpa ibadah shalat kaum muslim. Dalam pengertian yang lebih luas penegakan shalat lima waktu merupakan upaya untuk mencegah tindakan buruk yang merugikan masyarakat dan bangsa yang lebih besar. Seorang Pejabat Negara, atau warga negara biasa akan sll berkomitment untuk membangun negeri ini dg prilaku yang islamis. Barang kali kita setuju tidak perlu negara islam dg melaksanakan perangkat hukum public yang islamis, namun setiap muslim berpandangan bhw negeri ini setiap muslim bisa mempertahankan kemaslahatan eksistensi negeri ini dg menjadi pribadi muslim.

Bisa dibayangkan bila sukma mengatakan kidung lebih indah dari suara adzan, itu peringatan boleh jadi suatu saat Sukma juga akan mengatakan suara kidung lebih indah dari suara orang membaca al Quran dan suara penyiar agama atau muballigh yang berceramah.( widhy )

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru