oleh

Sebuah Catatan Perjalanan Tugas Keorganisasian, “Semangat Bela Negara Ditepi Selat Malaka”

KICAUNEWS.COM — Udara pagi itu di Pekanbaru menghangat. Waktu menunjukkan pukul 9.15, suasana pagi akan segera menghilang dan siang kan menjelang. Biasanya kala siang hari di ibukota provinsi Riau ini cuaca cukup panas. Pun demikian diseluruh penjuru wilayah Bumi Lancang Kuning ini, rata-rata panasnya bikin gerah. Maklum panas, karena kata orang di provinsi ini baik diatas maupun dalam tanah terdapat minyak. Dalam tanah ada minyak bumi dan diatas tanah minyak sawit.

Meski begitu negeri ini terkenal akan keramahan dan kebaikan warganya imbas pengaruh budaya melayu nan santun, panorama alam tetap indah dan terus berpacu dalam pembangunan. Sungguh wilayah eksotis yang kaya raya.

Sekian waktu menunggu dari pukul 6.00 setelah memindahkan bbrp butir Salalauwa (penganan khas urang minang) kedalam perut ditemani segelas kecil kopi tuk sekedar sarapan akhirnya yang dinanti tiba. Sebuah Avanza warna putih terlihat memarkir diri. Didalamnya ada beberapa orang Staf Komando Resimen Mahasiswa (Skomenwa) Indra Pahlawan (IP) Riau, yang segera keluar. Setelah membalas PPM dan berjabat tangan, tanpa banyak cakap saya masuk mobil duduk di depan dan meminta Iwan (mantan Dansat 042/Indra Bumi UIN Suska) yang mengendarai kendaraan ini agar segera di pacu cepat meninggalkan Pekanbaru. Lets Go Partner hari ini 24 Maret 2018, kita bergerak! Gä enak jika terlambat!

Operasi Mekar IP
Kota Dumai, tujuan rombongan kecil kami. Semalam AsOps Skomen IP telah lebih dulu berangkat naik motor ke kota minyak itu tuk persiapan gladi resik. Itu tanggung jawab utamanya sebagai Dansatgas operasi ini. Lebih pagi sebelumnya satu mobil juga telah berangkat mengangkut rombongan Satuan Menwa 045 Universitas Lancang Kuning (Unilak), tim satu ini dipimpin oleh Dira Dansat 045/Indra Jaya yang juga ‘induk semang’ asal satuan baru yg dibentuk. Menyusul kemudian setelah terang, mobil berikut yang merupakan tim dua mengangkut Staf Komenwa lainnya, Dansat dan anggota Menwa 042 Universitas Islam Negeri (UIN) Suska serta Menwa 043 Universitas Islam Riau (UIR). Tim dua dipimpin oleh AsTerr Sudarmanto. Total 3 mobil dan satu motor yang berangkat mengangkut 21 personil. Padahal dalam rapat kordinasi terakhir diputuskan hanya satu mobil dan dua motor dengan 9 personil yang berangkat. Tapi pagi ini perubahan rencana terjadi cepat, antusiasme tak terbendung hingga akhirnya disesuaikan kondisi.
Ya ini momentum bersejarah bagi Menwa Indra Pahlawan karena telah tercipta pengembangan struktur organisasi dengan penambahan 2 satuan baru lg diluar Pekanbaru. Sebelumnya juga ada di Tembilahan, Satuan 046. Kali ini istimewa karena semangat bela negara yang merupakan karakter utama Menwa mulai menebal ditepi selat malaka, daerah perbatasan laut RI-Malaysia. Perjalanan kami tidak dalam formasi konvoi, karena kesulitan mendapatkan mobil sewaan hingga tidak berangkat bersama pada pukul 6 pagi, maklum persiapan sedikit dadakan, adanya perubahan ren-ops ditambah duklog yang terbatas karena tanggal tua. Tetapi The Show must be go on dan ren-ops tetap harus dijalankan dengan segala konsekuensinya. Semangat tetap 55. Operasi Mekar Indra Pahlawan (Ops MIP) pun di mulai.

Kota Minyak
Perjalanan dari Pekanbaru ke Dumai sebenarnya mengasyikan. Jalanan yang berliku naik-turun relatif mulus, melintasi perkebunan kelapa sawit, meski di beberapa titik ada kerusakan kecil. Nyaris tanpa kemacetan. Tetapi karena menguber waktu, mobil di pacu kencang dan beradu cepat dengan truk-truk tangki besar maupun bus dan kendaraan bermotor lainnya yang tak pernah berjalan pelan. Sepanjang jalan, saya, Marissa Astri IP, Nadin dan Attin, terkadang terlelap sebentar. Dan sempat kami rehat di sebuah pom bensin untuk sholat, makan-minum dan tuntaskan urusan belakang. Alhamdulillah perjalanan aman dan lancar, meski satu orang dalam tim kami sempat terkapar. Mabok darat dialami oleh Nadin Aspers Skomenwa. Nadin ini ‘anak pulau’ yang berasal dari Pulau Moro di kabupaten Karimun, Kep. Riau yang jika pulkam pasti melintasi lautan. Jadi katanya jika kena ombak besar di laut, beliau biasa aja -tidak mabok laut- tapi sebaliknya jika perjalanan jauh via darat, ya bgini deh hasilnya. Sepanjang jalan kami tetap menjaga komunikasi dengan tim dua, dan rupanya ada yang mabok darat juga di sana. Karena kebetulan sama-sama anak pulau. ada-ada saja.

Baca juga :  Membangun Budaya Literasi Di Masa Pandemi

Singkat cerita, kami pun tiba di Dumai pukul 14.10 setelah menempuh jarak sekitar hampir 200 km dari Pekanbaru selama 5 jam. Jika dari kota Malaka (Malaysia) dengan perjalanan laut hanya butuh waktu sekitar 2 jam ke kota ini. Ya, kota ini berada di tepi Selat Malaka. Daerah perbatasan negara yang rentan dengan berbagai potensi ancaman nasional. Seperti penyelundupan, terorisme, infiltrasi warga asing, penyebaran narkoba dan lain-lain. Menurut info, sejak tahun 1999 Dumai menjelma menjadi kota pelabuhan minyak yang sangat ramai. Sebelumnya Dumai masuk wilayah kabupaten Bengkalis, namun seiring dengan era otonomi terjadi perubahan status wilayah berdasarkan UU No 22 tahun 1999, Kotamadya Dumai berubah menjadi Kota Dumai dan dipimpin seorang Walikota. Di kota ini, kilang-kilang minyak tumbuh menjamur dan kerap disinggahi kapal-kapal tanker minyak raksasa hampir tiap harinya. Dumai memiliki wilayah cukup besar dengan luas wilayah 1.727.385 Km2 dan sebagian wilayahnya masih berupa hutan. Dalam sensus 2014 tercatat Dumai di huni oleh 350,678 jiwa dari beragam etnis seperti Melayu, Minang, Jawa, Batak, Bugis, Tionghoa dan lain-lain. Potensi ekonomi Dumai cukup besar karena selain pertanian dan perkebunan wilayah ini adalah markas dari perusahaan minyak seperti PT. CPI (Chevron Pacific Indonesia), PT. Pertamina dan industri pengolahan minyak sawit (CPO) PT. BKR (Bukit Kapur Reksa) dan sejumlah perusahaan sejenis lainnya. Memiliki 9 Pelabuhan (4 milik Chevron dan 5 milik pemerintah) serta Bandar Udara Pinang Kampai. Sungguh suatu bandar yang sibuk dipesisir timur pulau Sumatera. Berhadapan dengan perairan internasional yang padat dan monumental; Selat Malaka.

Di kota minyak inilah kami memulai tugas hari ini untuk mengukuhkan dan melantik Satuan baru Menwa Indra Pahlawan Riau. Sebagai bagian dari amanat hasil Rakomnas Menwa Indonesia tahun 2014 yg dijalankan oleh Konas Menwa Indonesia, bahwa perlu tuk senantiasa mengembangkan organisasi Menwa sebagai upaya penebalan wawasan kebangsaan dan semangat bela negara dikalangan mahasiswa dan generasi muda. Dan ini adalah giat kedua dari Menwa Indra Pahlawan mengundang Konas Menwa Indonesia mengukuhkan satuan baru. Sebelumnya di Yon 132/Sallo Bangkinang awal tahun 2015.

Kami tiba di jalan Gunung Merapi No.1 lokasi Kampus STIA Lancang Kuning yg berada di kawasan Bumi Ayu kota Dumai. Disambut hangat oleh Komandan Kompi Menwa setempat M. Ikmal yang sebentar lagi beralih menjadi Komandan Satuan Menwa 047/Indra Dharma STIA Lancang Kuning, mengiringi perubahan status Satuan tersebut. Sebelumnya status Menwa STIA LK ini adalah Kompi A Dumai Satuan 045/Indra Jaya Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru. Dengan senyum ramah rombongan kami disambut baik dan langsung dipersilahkan santap siang. Kami tak menunggu tawaran kedua, makan dengan cepat dan lahap nasi bungkus menu minang, mengingat jam makan siang sudah lewat dan cukup penat setelah perjalanan jauh. Terlebih acara akan dimulai sebentar lagi. Setelah bersantap dan menyeruput secangkir kopi hitam, saya langsung menuju lokasi seremonial. Di iringi oleh Ikmal dan beberapa anggota serta alumni Menwa STIA Lancang Kuning, kami melewati halaman yang penuh dengan papan bunga ucapan selamat pengukuhan berbagai instansi saat menuju gedung rektorat. Di lantai dasar kami disambut Drs. Nahar Effendi,M.Si, Ketua STIA Lancang Kuning, berjabat tangan erat dan saling tegur sapa. Dikawal provost kemudian bersama-sama beliau, kami menuju aula di lantai tiga gedung tersebut sambil berbincang ringan.

Baca juga :  Pasca Pelantikan dan Rakernas DPN IARMI, Danmenwa Mahawijaya : Mudah-mudahan MENWA mampu menghadirkan Pengabdian Nyata bagi Rakyat Indonesia

Pengukuhan
Kami memasuki aula perguruan tinggi itu dilantai 3. Ruang yang cukup besar, tidak terlalu mewah namun nyaman dengan dekorasi yg cukup baik. Deretan kursi undangan di tata di panggung yg berhiaskan big banner tema acara dan ornamen khas Melayu-Riau dengan baluran warna-warna terang. Sesaat sebelum duduk saya menyalami tamu undangan yg telah lebih dulu hadir. Ada bang Sudarmanto Ketua DPK IARMI Dumai dan bbrp anggotanya, perwakilan Kodim 0320/Dumai, Ketua Tagana Dumai dan bbrp pimpinan prodi STIA LK serta alumni Satuan Menwa tuan rumah. Saya dipersilahkan duduk di depan tepat di samping pak Nahar. Oh iya, ternyata beliau ini alumni Menwa juga loh. NBP tahun 1988, Siap Senior!! Tak lama acara inti pun di mulai.

Upacara pengukuhan berlangsung khidmat. Setelah menerima laporan pa-up dari Dansatgas, saya mengambil posisi di podium kecil di tengah aula. Di hadapan saya ada 3 baris peleton yang rapi, mulai dari pasukan Menwa, Camen dan mahasiswa STIA LK. Sekilas saya pandangi wajah Dan Up dan peserta upacara. Wajah-wajah muda optimis dengan semangat yang menyala. Semangat turut serta tunaikan hak dan kewajiban dalam bela negara, sesuai amanat konstitusi NKRI.

Jalannya upacara tak perlu detail dikisahkan. Yang jelas sebagai Irup saya terkesan dengan pengucap PDS Menwa Indonesia yang lantang suaranya. Juga terhadap pengucap SK Pengukuhan Pengurus Menwa Satuan 047/Indra Dharma dan Sprint Danmenwa IP, padahal cukup panjang redaksionalnya. Hebatnya petugas pengucap ini adalah Menwa putri yang anggun nan perwira. Peserta upacara dan para danton masing-masing tak bergeming. Sikap sempurna. Saya saja selaku irup hampir goyang, tapi tetap terkendali. Ga lucu kan jika seorang Irup dalam suatu upacara tumbang? Nanti bisa viral lagi ehehe.

Salut tiga kali jempol tuk adik-adik Menwa ini. Baik yang menjadi Pembawa Acara (MC), Dan Up, para petugas pengucapan, provost pembawa Pataka dan juga Dansat yang dikukuhkan termasuk pembawa baki dan para peserta upacara adalah mereka yang telah berlatih baik dalam gladi yang dipimpin oleh AsOps Heri sebelumnya. Kemudian bersama Pak Nahar dan Dansat Ikmal saya membubuhkan tanda tangan diatas kertas naskah berita acara pengukuhan. Selebihnya upacara pun usai dilanjut foto bersama dan ramah tamah. Allahu Akbar, Mission accomplished!

Bermalam di Dumai
Selepas acara seremonial, kami turun ke bawah. Di lobby gd. Rektorat, Ketua STIA LK menyampaikan apresiasi yanh tinggi bagi Menwa Indra Pahlawan dan Konas Menwa Indonesia yang telah memenuhi harapannya menjadikan Menwa anak didiknya sebagai Satuan Menwa yang berdiri sendiri, sambil menyuguhkan secangkir kopi hitam yang nikmat. Kami ngopi bareng. Aih… Senior satu ini seakan tau aja kalo saya seorang Coffee Addict.
“Kopi apa ini bang, nikmat betul,” tanya saya.

“Kopi STIA Lancang Kuning,” jawab beliau singkat.

Ha ha ha ha… kami tertawa bersama. Setelah selesai ngopi beliau memberikan souvenir plakat, dan saya pamitan mau menuju ke Bengkalis guna melaksanakan pengukuhan Satuan Menwa baru selanjutnya sebagai tahapan kedua dari Operasi Mekar IP. Tapi dengan santun beliau meminta berangkat besok pagi saja, di minta untuk menginap dulu sambil nikmati suasana malam di Dumai. Sulit menolak tawaran ini karena rupanya beliau telah memesan kamar di sebuah hotel. Pukul 17 saya pamit diri untuk lanjut berkordinasi dengan pasukan yang menunggu di mako satuan. terima kasih atas penyambutannya Pak NaharNahar.

Baca juga :  Dankonas Beberkan Tupoksi Menwa Dihadapan Perwakilan Kemhan

Kordinasi giat berlangsung singkat, sambil menyantap lezatnya semangkuk MisoMiso (makanan khas Riau) dikantin kampus bersama-sama.

Ending nya Dansatgas mulai meluncur lebih dulu ke Bengkalis dengan motor selepas isya tuk persiapan. Tim Satu balik kanan ke Pekanbaru, meninggalkan Dansat Dira dan seorang anggota Noura untuk bergabung di tim tiga yg langsung saya pimpin. Sementara tim dua yang terdiri dari Asterr Sudar, Aspam Dedi, Aspers Nadin, Syamsul dan Indra Dansat Wadansat UIN, Suwito Dansat UIR dan beberapa anggota berangkat selepas isya sementara Dandenma Nurokhim beserta Gesty mantan Aslog yang tinggal di Dumai menyusul malamnya dengan naik motor. Astri Marissa dan Attin, Menwa Kompi Bangkinang, Saya dan Iwan, menuju penginapan.

Penginapan kami di Hotel Srikandi yang cukup sederhana. Terletak disudut kota kecil ini tidak jauh dari kampus STIA LK. Saya tidak melihat tempat ini layak atau tidak yang penting bisa terlelap. Tidur di mako Menwa pun bukan hal yg langka saya lakukan sepanjang jalani tugas keorganisasian selaku Wadan Konas Menwa Indonesia. Saat mulai terbaring di dipan kamar 203 Hotel Srikandi ini. Saya menatap langit-langit kamat dan merenung. Berada di antara adik-adik Menwa organik baik yang aktif di Skomen maupun Satuan di berbagai daerah merupakan kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri. Sebuah kepuasan batin yang tak terbeli. Meski harus selalu korbankan waktu, tenaga, pekerjaan, dana dan upaya. Senang saja rasanya bisa turut serta membangun bangsa dengan cara sendiri. Ikut membina generasi muda untuk sadar dan selalu siap sedia dalam upaya Bela Negara secara mental fisik dan intelektual tanpa pamrih. Apa ya yang saya cari dari semua ini??.. jam segini masih di kampung orang, jauh lagi. Jika dinilai secara materi untung nggak, rugi pasti. Seperti yang dialami oleh para Senior Menwa lainnya yang telah berjuang sebelum saya, ini mungkin sebuah episode jalan hidup saya, sebagai bentuk pengabdian kepada negeri dengan cara sendiri. Berbagi ilmu dan pengalaman pada adikadik-adik ideologis dari berbagai penjuru nusantara. Juga memperpanjan jalinan silahturahmi dengan siapa saja.

Hingga akhirnya mendarat di bumi lancang kuning ini. Dan pembentukan-pengukuhan Satuan Menwa baru di negeri nya pahlawan Sultan Syarief Kasim II bernilai strategis dimasa mendatang, mengingat sebagian besar tanah wilayah perkebunan & kekayaan mineral lainnya sebagian besar telah di kuasai asing. Karena itu perlu di tanamkan kesadaran kolektif ke masyarakat oleh Menwa tentang kewaspadaan nasional dan hakikat Bela negara.

Renungan saya terhenti tiba2 ketika HP berdering. “Halo…Aswb, Sudarmanto nih, Wadanko dimana posisi?” Seru suara tegas diseberang sana. Rupanya telfon dari senior Sudarmanto, Ketua DPK IARMI Dumai.

“Wslmkm, siap bang. Saya di hotel Srikandi…..ee” jawab saya. Belum melanjutkan kalimat, Beliau lgsg langsung memotong,

“Siap, sy jemput ya… Bandrek??” tukas nya.
“Siap, boleh Bang!!” Jawab saya singkat.

Mohon ijin nanti saya sambung lagi catatannya ya, coz mau minum Bandrek dulu 🍵😊🙏

Oleh Wadan Konas Menwa Indonesia Erwin H Al-Jakartaty, M.Si

Pekanbaru, 26 Maret 2018.

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru