banner 728x250

Hoax, Berita Bohong Dan Diviralkan Untuk Tujuan Tertentu

  • Bagikan
banner 468x60

JAKARTA, KICAUNEWS.COM — Ikatan Sarjana Profesi Perpolisian Indonesia (ISPPI) ikut berpartisipasi dan berperan aktif dalam menyukseskan menyongsong Pilkada 2018 dan Pilppres 2019 dengan ikut berkontribusi melakukan diskusi yang mengangkat tentang Hoax.  Hoax dapat menjadi bagian pada pemilu nanti, namun juka tidak diantisipasi  Hoax ini dapat berakibat buruk bagi pelaksanaan pemilu nanti ujar Ketua Umum ISPPI Irjen Pol (Purn) Prof. Dr. Farouk Muhammad, S.H., MJA dalam kata sambutannya  pada diskusi publik yang bertema “Antara Kebebasan Berpendapat, Hoax dan Ujaran Kebencian ” di Hotel Ambhara Kebayoran Baru – Jakarta Selatan, Rabu (21/3/18).

Prof. Farouk menambahkan ISPPI akan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai isu hoax. Saya berharap dengan diadakannya beberapa diskusi publik, kita berharap agar masyarakat dapat mengetahui dan faham mengenai hoax. Hoax berita bohong dan diviralkan untuk menyerang tertentu atas dasar agama, suku dan ras.

banner 336x280

Hoax dan ujaran kebencian mengancam kesatuan dan persatuan yang dengan susah payah kita bangun. Hoax dan ujaran kebencian bukan kebebasan berdemokrasi karena dasarnya berita bohong atau destruktif. Dinamika kebebasan kerap dihembuskan yang menyebabkan kebablasan yang tidak mengandung konsep. Hoax dilakukan dengan cara menghujat. Tidak hanya politik tapi menyentuh agama.

Irjen Pol Gatot Edy Pramono Msi dari Mabes Polri dalam paparannya mengatakan Polri saat ini membuat Satgas Nusantara untuk menangani berita hoax dan ujaran kebencian. Berita hoax menggunakan cara-cara yang tidak dibenarkan dengan menggunakan black campaign dan isu sara.

Kita sama-sama bekerja dengan para ulama, management media untuk menyampaikan informasi yang menyejukkan, serta melakukan upaya penegakan supremasi Hukum. Berita Hoax yang terjadi bisa menghancurkan semuanya, merusak sendi berbangsa dan bernegara.

Baca juga :  Kapolsek Terisi Giat Sambang Dengan Panitia Pilwu Desa Cikawung

Negara kita masih ranking 60 untuk membaca literalisasi, tanpa bisa menelaah kebenarannya. Tujuan kita bersama agar Pilkada serta Pilpres berjalan secara sejuk dan damai didukung seluruh elemen masyarakat dengan  menghindari berita hoax.

K.H. Masduki Badowi dari Majelelis Ulama Indonesia (MUI) mengatakan menangkal berita hoax diatur didalam UU no 24 tahun 2017, agar membuat regulasi tentang hoax. Berita hoax sangat mungkin memecah belah bangsa dan negara, kita harus jaga bersama sama jika dia biarkan akan bisa merusak paham kebangsaan yang kita bangun”.

Saat ini kita dihadapi saat susah karena berita hoax dan menjadi trend. Solusi cara meredam hoax, UU no.24 tahun 2017, karena rendahnya literasi, regulasi.

Ada penumpang gelap yang memprovokasi, untuk medsos semuanya harus di atur harus ada efek jera jika menyebar berita hoax. Regulasinya Menerapkan hukum positif untuk pembuat hoax.

Muhadi Musawir dari Pemuda Muhamadiyah,  mengatakan Sosmed bagian dari asing untuk mengadu domba, untuk mengeruk kekayaan negara kita, hukum bisa diterapkan dengan  menanamkan ahlak dan kejujuran, dari pemerintah juga harus berikan teladan kejujuran.

Nasir Djamil Anggota DPR RI Komisi 3, mengatakan hukum adalah solusi terbaik untuk meredam Hoax. Apakah hukum yang ada saat ini mampu menebasnya meski ada UU ITE, KUHP, semua perangkat UU sudah ada, tetapi hoax masih ada.

Harapannya satgas Nusantara bisa melakukan pembinaan pemulihan dan pencegahan hoax  ada subtansi hukum serta sarana, prasarana, dan dikacaukan oleh budaya masyarakat yang saat ini berkembang. Satgas Nusantara dalam berkiprah harus seimbang, dan tanpa pilih kasih dalam menerapkan supremasi Hukum.

Editor : Rahmat Saleh

Print Friendly, PDF & Email
banner 336x280
Bagikan :
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *