oleh

Maraknya Penyebaran Radikalisme di Indonesia

 

PENDAPAT, KICAUNEWS.COM – Fenomena radikalisme di Indonesia hingga hari ini masih menjadi perbincangan yang menarik dan terus menghangat. Radikalisme masih menjadi masalah serius bagi banyak kalangan. Diera Reformasi yang memberi ruang keterbukaan dan kebebasan sekarang ini, dalam masyarakat indonesia telah muncul berbagai gerakan islam yang cukup radikal.

Gerakan disebut radikal, karena para pengikutnya terkadang melakukan aksi-aksi yang menurut ukuran “normal” tergolong kasar, karena mereka, misalnya, menghancurkan segala hal yang dianggap tidak sesuai dengan norma dan ajaran agama mereka. Radikalisme di Indonesia muncul dan dipicu oleh persoalan domestik di samping oleh konstelasi politik internasional yang dinilai telah memojokan kehidupan sosial politik umat islam.

Dalam kontes domestik, misalnya, berbagai kemelut telah melanda umat islam mulai dari pembantaian kiai dengan berkedok dukun santet sampai tragedi poso (25 Desember 1998), tragedi ambon (19 Januari 1990) dan baru-baru ini soal Orang gila yang melukai pemuka agama, kiyai, pendeta. Dan lain sebagainya.

Dalam kontes internasional, realitas politik standar ganda Amerika Serikat dan sekutunya merupakan pemicu berkembangnya radikalisme islam ini. Perkembangan ini kian meguat setelah terjadinya tragedi World Trade Center (WTC) pada 11 september 2001.

Mengenai tragedi ini, AS dan sekutunya di samping telah menuduh orang-orang islam sebagai pelakunya, juga telah menyamakan berbagai gerakan islam militan dengan gerakan teroris.

Selain itu, AS dan aliansinya bukan hanya menghukum tertuduh pemboman WTC tanpa bukti, yakni jaringan Al-Qaeda pimpinan Osama Bin Laden serta rezim Taliban Afghanistan yang menjadi pelindungnya, tetapi juga melakukan operasi penumpasan terorisme yang melebar ke banyak gerakan islam lain di beberapa negara, termasuk indonesia.

Agama sebagai pegangan hidup oleh masyarakat maupun individu. Fundamentaslisme akan diiringi radikalisme dan kekerasan ketika kebebasan untuk kembali kepada agama tadi dihalangi oleh situasi sosial politik yang mengelingi masyarakat.

Baca juga :  Mempromosikan Kerukunan Sosial-Keagamaan di Indonesia

Radikalisme sendiri sebenarnya tidak merupakan masalah sejauh ini ia hanya bersarang dalam pemikiran (ideologis) para penganutnya. Tetapi, ketika radikalisme pemikiran bergeser menjadi gerakan-gerakan radikal maka ia mulai menimbulkan masalah, terutama ketika harapan mereka untuk merealisasikan fundamentalisme dihalangi oleh kekuatan politik lain karena dalam situasi itu radikalisme akan diiringi oleh kekerasan.

Fenomena ini biasanya lantas menimbulkan konflik terbuka atau bahkan kekerasan antara dua kelompok yang berhadapan. Selama ini, banyak orang menganggap kategorisasi radikalisme itu hasil ciptaan Barat untuk memecah-belah umat Islam serta mencegah umat Islam maju dan bersatu.

Karena itu, tidak aneh jika ketika terjadi Bom Bali I pada 2002 dan Bom Bali II, banyak tokoh Islam yang menyatakan bahwa teroris tersebut hanya “rekaan” Barat untuk merusak citra Islam agar senantiasa terkait dengan kekerasan dan terorisme.

Namun, ketika kejadian teror di Indonesia terus beruntun, yang diikuti oleh penangkapan para teroris, kita menyaksikan fakta lain berupa testimoni dan jaringan yang dibentuk oleh mereka.

Kita bisa tahu bahwa memang ada orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk menjadi teroris, menggembleng para calon teroris, mengajarkan ilmu teror, dan meyakinkan orang-orang untuk mengikuti pemahaman Islam ala teroris.

Dari fenomena itu, kita bisa mengatakan bahwa radikalisme dan terorisme bukan murni ciptaan Barat, melainkan memang fakta nyata karena ada yang meyakini, memeluk, dan mengembangkannya dari kalangan umat Islam sendiri.

Yang memprihatinkan, semenjak beberapa tahun terakhir ini gerakan radikalisme sudah masuk ke dunia pendidikan dan kalangan kaum muda.

Fenomena bom bunuh diri, bom di Serpong, terendusnya jaringan NII (Negara Islam Indonesia) beberapa waktu lalu mengkonfirmasi bahwa gerakan radikal banyak menyusupkan pahamnya dan memperluas jangkauan jaringannya melalui kampus dan sekolah.

Baca juga :  Dalam Rangka Cooling System, Polres Tangerang Selatan mengadakan kegiatan Bakti Sosial Dan Bakti Kesehatan,

Para mahasiswa dan siswa yang masih berada dalam proses pencarian identitas diri dan tahap belajar mengenal banyak hal, menjadi sasaran yang paling strategis untuk memperkuat gerakan radikalisme keagamaan ini.

Terlebih lagi, posisi strategis mahasiswa dan siswa yang mempunyai jangkauan pergaulan luas dan relatif otonom, dianggap oleh gerakan radikal sebagai sarana yang paling pas dan mudah untuk memproliferasi paham-paham radikal yang mereka perjuangkan.

Radikalisme berkembang begitu pesat, hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi kelompok nasionalis agar ideologi radikal tidak semakin meluas. Proses seseorang menjadi radikal itu sangat rumit. Jika dia tidak merasa nyaman dengan situasi demokrasi saat ini, dia akan mencari ideologi lain, termasuk radikalisme.

Alasan pertama seseorang menjadi radikal untuk kepentingan personal yang menyangkut urusan ideologi maupun finansial. Kelompok radikal bisa menyebar luas dengan janji-janji kebutuhan finansial yang mencukupi. Selain itu orang bisa tertarik terhadap radikalisme karena ada propoganda politik yang menarik.

Kemudian fasilitas seperti pelatihan dan transportasi juga bisa menjadi alesan seseorang bergabung dengan kelompok radikal. Hal ini bisa kita lihat dalam perekrutan Negara Islam Irak Dan Suriah atau ISIS.

Pemahaman soal penyucian diri juga menjadi alasan kuat bagi seseorang yang masuk ke dalam lingkaran radikalisme.

Adapun faktor lain yang mempengaruhi meningkatnya radikalisme di indonesia ialah soal etika para elit politik yang buruk. Hal ini menyebabkan publik menjadi apatis terhadap demokrasi dan menjadikan radikalisme sebagai jalan alternatif. Permusuhan antar elit politik juga tidak baik.

Hal semacam ini menimbulkan sinisme bahwa demokrasi bukan yang terbaik. menjadi alternatif bagi masyarakat yang kecewa dengan demokrasi saat ini implementasi demokrasi di Indonesia sedang bermasalah.

Baca juga :  GANNAS, Siap Bersihkan Narkoba di Tangsel

Hal ini juga semakin meningkat dalam momentum pemilihan kepala daerah (Pilkada) Serentak 2018 dan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 yang menghalalkan segala cara.

Kemudian hal apa saja yang mesti dilakukan untuk memendung maraknya radikalisme di indonesia sikap toleransi kepada sesama, perbedaan jangan menjadi sumber konflik, ilmu pengetahuan merupakan hal yang penting, menjaga persatuan dan kesatuan yang termaktub dalam pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

M. Adhiya Muzakki
Penulis Adalah Pengurus HMI Cabang Ciputat, Bidang PTKP Periode 2018/2019.

Facebook Comments
Print Friendly, PDF & Email

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Berita Terbaru