oleh

Harga Karet di Sumsel Merosot, Herman Deru Ingatkan Pemda Turun Tangan

 

JAKARTA, KICAUNEWS.COM – Harga karet di Sumatera Selatan saat ini terus merosot, sebagai provinsi penghasil karet terbesar di Indonesia, kondisi ini malah berbanding terbalik. Hal ini disebabkan karena adanya penurunan harga dari petani, dari harga ideal yang seharusnya Rp. 13.000 per/kilo, menjadi Rp. 7000 per/kilo.

Melihat hal itu, mantan bupati OKU Timur, Herman Deru mengatakan, terperosoknya harga karet ditingkat petani disebablan karena pemerintah daerah absen, dan tidak bisa memanfaatkan karet sebagai komoditas untuk mensejahterakan masyarakat Sumatera Selatan.

Menurut Herman Deru, seharusnya pemerintah daerah dapat serius mengurus penjualan karet ditingkat petani. “Pemerintah bisa turun tangan membeli karet dari petani, jika terjadi penurunan harga di pasaran,” kata Herman Deru, yang saat ini ditetapkan sebagai calon Gubernur Sumatera Selatan.

Berdasarkan data yang dirilis Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Selatan, harga karet ditingkat petani saat ini berkisar Rp. 4.000-5.000 per/kilo. Sementara itu, untul harga karet diatas kapal bongkar muat, harga karet sekitar, Rp. 18.000, dan pada saat petani menjual karet kepada tengkulak, mendapatkan potongan.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan yang akan memproduksi karet dengan target sebanyak 1,3 juta ton pada tahun 2018, menurut keterangan Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel dipastikan akan meleset. Untuk produksi karet pada tahun 2018 ini, Gapkindo Sumsel memprediksi, produksi karet di Sumsel hanya mencapai 1,1 juta ton.

Calon Gubernur Sumatera Selatan ini menyesalkan langkah pemerintah daerah, yang selama ini menyerahkan penentuan harga karet ke pasar. Deru menjelaskan, disaat harga pasar anjlok, pemerintah tidak bisa berperan, dan berimbas pada petani karet.

“Faktanya, karetkan salah satu komoditas utama yang dihasilkan Sumsel dan menjadi salah satu andalan ekspor. Kebutuhan atas produk karet juga, tetap memiliki masa depan. Karena masih jadi penopang transportasi seperti memproduksi ban dari karet,” jelas Herman Deru.

Baca juga :  Pengawas Pemilu Deliserdang, Dalami Kasus Pembagian Suket Oleh Cagub Sumut

Menurut Deru, saat ini sebagian besar perkebunan karet di Sumsel dikuasai oleh petani, dari pada oleh perusahaan. Oleh karenanya, sambung Deru, pemerintah daerah seharunya bisa turun tangan langsung, mengelola hasil produksi karet dan petani karet agar, harganya tidak terus mengalami penurunan dan merosot.

“Jika harga karet terus merosot, berpotensi memiskinkan sebagian besar rakyat Sumsel, dan Sumsel bisa maju dan sejahtera bila produksi karet benar-benar dimanfaatkan,” kata Herman Deru dalam keterangan tertulisnya. (Haji Merah).

Bagikan :

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru