oleh

Selain Tanggapi Komentar Dodi, Relawan HD-MY Juga Sarankan Dodi Urus Muba Dulu

 

SUMSEL, KICAUNEWS.COM – Pejabat publik tidak boleh tipis telinga, harus terbuka dengan kritik dan tidak boleh marah saat mendapatkan kritik dar masyarakat. Hal itu disampaikan aktivis Relawan Sumatera Selatan Bersatu, Budi saat diminta keterangan Jurnalis.

Sebelumnya, kinerja Dodi Reza Alex banyak dipertanyakan oleh publik. Hal ini disebabkan karena, anak kandung Alex Noerdin yang baru saja dilantik menjadi bupati Musi Banyuasin selama sembilan bulan, kembali maju dalam Pilkada Sumsel 2018.

Dengan mengklaim telah memiliki segudang prestasi, anak kandung Gubernur Sumsel, Alex Noedin ini merasa pantas dan layak menjadi orang nomor satu di Sumatera Selatan.

Kalau jadi pejabat publik itu jangan tipis telinga, harus terbuka dengan kritik. Masa dikritik begitu saja marah. Seperti santai tapi marah,” ungkap Aktivis Relawan Sumsel Bersatu, Budi dalam keterangan tertulisnya.

Sebelumnya, kritikan kinerja Dodi Reza Alex datang dari salah satu pasangan calon Gubernur Sumsel, Herman Deru-Mawardi Yahya, yang mengatakan bahwa penghargaan di Sumsel sebenarnya merupakan kinerja Alex Noerdin, dan bukan kinerja Dodi Reza Alex.

Dodi Reza Alex, yang saat ini akan maju dalam Pilkada Sumsel 2018 itu juga mempertanyakan, kenapa Herman Deru usil dan mengkritik hasil kinerjanya. Menurut Dodi, Herman Deru adalah orang yang tidak punya pekerjaan, sehingga banyak mengkritik.

Seperti diketahui, Dodi Reza Alex dilantik sebagai bupati Musi Banyuasin pada, Senin, 22 Mei 2017 lalu. Saat ini masa kepemimpinan Dodi di Muba banyak hanya sembilan bulan. Pada saat Pilkada Sumsel 2018 akan digelar, Dodi kembali mencalonkan diri menjadi Gubernur Sumatera Selatan.

Selain itu, lebih jauh Dodi juga menasehati Herman Deru, agar tidak kembali menyerang hasil kinerjanya selama jadi bupati Musi Banyuasin. Tidak hanya menasehati, menurut keterangan dari aktivis Relawan Sumsel Bersatu, Dodi juga mengejek Herman Deru sebagai salah satu orang yang tidak memiliki pekerjaan.

Baca juga :  IPOL Indonesia: Jika Pilkada Dilakukan Hari Ini, Herman Deru Menang.

Dodi menuding, Herman Deru ingin coba-coba mencari keuntungan dengan mencalonkan diri kembali menjadi Gubernur Sumsel. Menanggapi hal tersebut, Aktivis Relawan Sumsel Bersatu, Budi kembali mempertanyakan keberhasilan Dodi memimpin Musi Banyuasin.

“Mana keberhasilan di Muba itu? IPM ada dibawah rata-rata provinsi dan nasional, kemiskinan ada diatas rata-rata provinsi dan nasional.” tanya Budi saat berbincang dengan Jurnalis lewat sambungan Telephon dan Pesan Singkat. Minggu (18/02) di Jakarta.

Menurut Budi, Dodi Reza Alex yang baru sembilan bulan memimpin Musi Banyuasin belum menghasilkan apa-apa. Dodi, kata Budi, merasa Musi Banyuasin sudah maju melesat, padahal tambah Budi, kenyataan tidak demikian.

“Pilkada adalah ajang adu konsep, debat progam. Bagi yang sedang menjabat, sudah wajar kalau kepemimpinan dan programnya dikritik. Itu namanya dialektika politik, ya dijawab saja, tidak perlu marah, apalagi sampai bilang mencoba peruntungan. Jangan-jangan malah sebaliknya.” ungkap Budi.

Menurut Budi, majunya Dodi menjadi calon Gubernur Sumsel pada Pilkada Sumsel 2018, hanya karena ada aturan yang jika bersangkutan kalah, maka bisa kembali menjabat dalam jabatan semula.

“Coba kalau aturan lama berlaku, seorang bupati menjabat harus mundur jika maju di pilgub, yang bersangkutan apa akan ikut maju?Ini kan maju karena kalau kalah bisa balik lagi jadi bupati. Fokus urus Muba lebih baik,” kata Budi.

Melihat realitas tersebut, Aktivis Relawan Sumsel Bersatu, Budi, mengajak semua pihak agar berkepala dingin dalam menghadapi persoalan. Menurut Budi, sangat indah jika debat terjadi dan dialektis. Beda mengkritik dengan menghina.

“Dikritik jangan marah, apalagi mengadu sama orang tua. Kita harus jaga agar suasana kondusif, Pilkada harus sukses, damai, aman, luber dan jurdil,” kata Budi. (Haji Merah).

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru