oleh

Putri Nur Hardiyanti: Gagasan Konkrit Menuju Kohati Berkarakter

 

JAKARTA, KICAUNEWS.COM – Dalam sepekan kedepan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) akan melaksanakan 2 hajatan besar di Kota Ambon, diantaranya KONGRES Ke-30 dan Musyawarah Nasional Kohati (MUNASKO) Ke-23.

Ada yang menarik dari agenda rutin 2 tahunan HMI ini adalah pertarungan gagasan antar peserta ataupun antar kandidat baik Kandidat Ketua Umum PB HMI maupun Kandidat Ketua Umum KOHATI PB HMI.

Melihat tren zaman atas peran aktif perempuan dalam sendi-sendi berbangsa dan bernegara yang membuat Musyawarah Nasional Kohati atau Munasko kali ini menjadi sangat menarik untuk menjadi sorotan utama.

Dalam Munasko ke-23, telah muncul belasan kandidat Ketua Umum Kohatu PB HMI periode 2018-2020, dan yang paling mencolok munculnya aktivis gender berdarah Sidoarjo berusia 25 yang tumbuh kembang di Bumi Etam, Samarinda. Dialah Putri Nur Hardiyanti, aktivis perempuan dengan gagasan-gagasan dan sejarah gerakan konkritnya.

Dihubungi ditempat terpisah, Putri menyatakan dirinya siap mengemban amanah dari ratusan Kohati Cabang yang tersebar diseluruh Nusantara.

“Dengan niat luhur dan didorong cita yang mulia serta demi terciptanya generasi Kohati yang berintegritas, InsyaAllah saya telah berkomitmen teguh untuk menghibahkan diri saya dalam pengabdian untuk Kohati untuk itu saya meminta doa restu dari segala pihak” kata Putri Nur Hardiyanti.

Baginya Putri, sebagai salah satu Lembaga pemberdayaan perempuan, Kohati seharusnya dapat mengambil berbagai peran nyata untuk kemajuan organisasinya sesuai dengan nilai keislmanan dan keindonesian yang harus terus dijaga.

Selain itu Kohati juga, adalah wadah yang berisikan sekelompok perempuan haruslah memiliki kesadaran kritis tentang peranan yang dimainkannya, bahwa esensi dari sejarah adalah perjuangan untuk menentukan sendiri jalan hidup atau tujuannya sebagai organisasi perempuan, dimana perjuangan dan pengabdian dapat disebut sebagai proses pemanusiaan manusia.

Baca juga :  Refleksi 71 Tahun HMI: Meresapi Kembali Ke(HMI)an Kita ?

Dalam konsep organisasi, keberadaan organisasi formal menentukan kontinuitas dari gerakan dalam mencapai tujuannya, sehingga dinamika organisasi dalam gerakan sosial menentukan bagaimana gerakan bekerja mencapai tujuan-tujuannya dengan memobilisasi sumberdayanya, baik itu sumberdaya material maupun non material.

Sumber daya tersebut dapat berupa sumberdaya manusia, sumberdaya dana, dan jaringan. Keberadaaan jaringan sosial (network social) memberikan koherensi dan hubungan horisontal dalam kelompok, dan juga merupakan fasilitator kunci untuk melakukan aksi konkret yang kolektif.

Pemimpin dan kepemimpinan; Sumberdaya dan mobilisasi sumberdaya; Jaringan dan partisipasi; Peluang dan kapasitas hmi-wati dalam melakukan proses kejuangannya; Identitas kolektif; Solidaritas; dan Komitmen.

Perjaungan tak hanya berbicara konsep mobilisasi sumber daya. Akan tetapi, juga mempertimbangkan aspek identitas tindakan yang akan dipilihnya.

“Saya yakin bahwa sangat banyak kader HmI-wati yang bukan hanya pintar tapi juga sadar maka menurut saya adalah kewajiban KOHATI sebagai lembaga untuk mengakomodir pemikiran dan gerakan konkrit menuju kebaikan bagi sesama” tegas Putri.

Dengan bermodalkan tekad yang kuat dan segudang pengalamannya sebagai akademisi organisatoris, Putri Nur Hardiyanti layak didapuk menjadi Ketua Umum Kohati pada Mnasko ke-23.

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru