oleh

MEMBANGUN GURU MADRASAH YANG PROFESIONAL DI ERA GLOBAL

Serang, Kicaunews.com – Dewan Pimpinan Wilayah Persatuan Guru Madrasah Indonesia (DPW PGMI) Provinsi menggelar Seminar Nasional dengan
tema “Membangun Guru Madrasah Profesional di Era Global”. Bertepatan di Ledian Hotel serang Jl.jend. Sudirman sumurpecung serang Banten. Jumat (15/12) lalu.

Seminar tersebut didesain dalam bentuk
diskusi panel dengan menghadirkan tiga pembicara sekaligus, yaitu Dr. Mahpudin, M.Pd. selaku Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kemenag Provinsi Banten, Drs. H. Syamsuddin, M.Pd., selaku ketua DPP PGMI, dan Prof. Dr. Tihami, M.A., guru besar Universitas Islam Negeri Banten. Selaku moderator adalah Dr. Suhardi, M.Ag., sekretaris jenderal DPP PGMI.

Dr. Mahpudin, M.Pd., yang diberikan kesempatan pertama untuk menyampaikan pokok-pokok
pikirannya menjelaskan bahwa untuk mewujudkan guru madrasah yang profesional harus memperhatikan banyak aspek dan juga melibatkan banyak unsur. Diantara hal yang penting adalah bahwa
guru madrasah yang profesional meniscayakan adanya penguasaan disiplin ilmu yang diampu. Inilah yang dalam Undang-Undang Guru dan Dosen disebut dengan kemampuan profesional. “Tanpa penguasaan disiplin ilmunya, seorang guru akan sulit untuk disebut sebagai guru professional”,paparnya

Kasi Penmad Kemenag Banten juga menjelaskan bahwa di era global seperti sekarang ini, guru professional perlu membangun jariangan atau networking dengan lembaga atau pihak-pihak yang memang secara signifikan berkepetingan dengan persoalan mutu pendidikan. Networking tersebut bisa saja dengan perguruan tinggi, para pakar atau ahli pendidikan, lembaga-lembaga riset tentang pendidikan, dan sebagainya, baik di dalam maupun di luar negeri.

“Networking ini penting untuk memperkarya kapasitas profesionalitas dan juga mengembangkannya secara lebih luas, sehingga profesionalisme guru menjadi dinamis berkelanjutan”,ujarnya

Itulah sebabnya, Penmad Provinsi Banten sedang membangun jaringan dengan berbagai pihak untuk bersama-sama secara terus-menerus meningkatkan
profesionalisme guru. Salah satunya yang sedang dirintis adalah bekerjasama dengan salah satu perguruan tinggi keguruan di Malaysia.

Baca juga :  Disiplin Mematuhi Protokol Kesehatan, Kapolres Banjar Berikan Hadiah Kepada Warga Masyarakat

Ditambahkan pula pengembangan networking juga didasarkan pada suatu konsepsi bahwa pendidikan madrasah hendaknya diletakkan di titik pusat atau di tengah yang dilingkari oleh banyak pihak.
Ini berarti bahwa urusan pembangunan kualitas madrasah tidak semata-mata menjadi urusan madrasah, tetapi juga menjadi urusan atau bahkan kewajiban semua pihak, seperti perguruan tinggi, pakar pendidikan, dunia usaha, para politisi, dan juga para penguasa.

“kepedulian semua elemen kepada
madrasah pada gilirnanya juga akan menyentuh dengan bagaimana membangun profesionalisme guru.
Dengan demikian profesionalisme guru juga menjadi concern semua pihak, Bukan hanya cocern dari Pemerintah”,ungkapnya

Foto Istimewa

Pembicara selanjutnya, yaitu Drs. H. Syamsuddin, M.Pd., selaku ketua umum DPP PGMI menguraikan pemikirannya bahwa profesionalisme guru dimulai dari pengetahuan dan wawasan-wawasan dasar guru madrasah terhadap ilmu pendidikan.

Syamsuddin juga mempersoalkan adanya timpang tindik penggunaan kata professional. Sebagian pemikir pendidikan menggunakan kata professional disamakan dengan kompetensi. Tetapi di saat yang lain, professional juga merupakan bagian dari kompetensi, sehinga muncullah konsep kompetensi professional.

Padahal menurutnya, “konsep tentang guru professional sebetulnya adalah guru yang berkompeten, sehingga kurang pas kalau
professional justru menjadi sub atau bagian dari elemen kompetensi”,tandasnya

Prof. Dr. Tihami, M.A., sebagai pembicara ketiga menjelaskan bahwa professional adalah pekerjaan yang berbasis pada keahlian. Dengan demikian, maka guru professional berarti guru yang memiliki keahlian dalam bidang keguruan.

Tambahnya, Prof. Tihami menjelaskan bahwa di tengah era global seperti sekarang ini, khusus untuk guru madrasah, tidak cukup hanya menguasai empat kompetensi seperti yang diamanatkan dalam UUGD, yaitu kompetensi kepribadian, pedagogis, sosial, dan professional.

Guru madrasah harus menambahkan satu jens kompetensi yang khas madrasah, yaitu kompetensi spiritual, yaitu kemampuan guru dalam memberikan makna spiritual dalam menjalankan tugas profesionalnya sebagai seorang guru.

Baca juga :  Anak-anak Tuna Netra Mahir Operasikan Komputer

“Kompetensi spiritual juga berarti bahwa guru madrasah harus mampu mendidik anak-anak didiknya bahwa belajar adalah ibadah, sehingga di dalam belajar anak-anak semakin bertambah keimanannya kepada Allah Swt”,ujarnya

Yang juga menarik dari penjelasan Prof. Dr. Tihami, MA., adalah bahwa guru professional di era global juga harus memiliki tiga kepekaan, yaitu kepekaan pemerataan, mutu, dan keadilan. Kepekaan pemerataan adalah bahwa seorang guru harus memastikan bahwa di lingkungannya tidak ada anak-anak yang tidak mendapatkan pendidikan.

Jika terdapat anak-anak yang tidak mengenyam pendidikan, maka seorang guru yang professional akan mengambil langkah-langkah untuk mengupayakan agar anak-anak
tersebut mendapatkan pendidikan. Kalau persoalannya adalah pembiayaan, maka guru harus mencari solusi tentang pembiayaan.

“Kalau masalahnya adalah hambatan fisik atau mental, maka guru harus mengupayakan agar hambatan-hambatan tersebut bisa diatasi, sehingga tidak ada anak yang tidak mengenyam pendidikan di lingkungannya”. Ungkapnya (Red/Din)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru