oleh

Pilkada Sumsel, Pengamat: Kawin Paksa Paslon Bisa Terjadi ?

SUMSEL, KICAUNEWS.COM – Dinamika Pilkada Sumsel 2018 semakin ramai dan riuh, Parpol yang mengusung calon dalam Pilkada Sumsel itu, saling kunci dan ngotot menekankan soal calon gubernur. Melihat posisi tersebut, proses pengusungan calon, ada kemungkinan deadlock. Hal itu dikatakan Peneliti dari lembaga survei Konsep Indonesia, Katibul Umam, dalam Preas Rilisnya kepada Redaksi.

“Kalau satu sama lain saling kunci dan ngotot, misalnya menaksa ingin di posisi calon gubernur, ya pastinya akan buntu, demikian juga jika ada upaya partai memaksakan kadernya untuk jadi calon wakil misalnya, sementara calon yang ada sudah berpasangan, akan deadlock.” kata Peneliti, Katibul Umam.

Diacara diskusi bertajuk, ‘Siapa dan Berapa Pasangan Peserta Pilkada Sumsel’, Rabu (06/12), Umam menjelaskan, dalam prosesi Pilkada Sumsel, harus ada kelenturan dan Kembali kepada data suvei. Jika para pemegang kebijakan di partai membuka data survei, kata Umam, maka akan sangat jelas, kandidat mana yang layak diusung.

Menurut Umam, membukan data survei, merupakam instrumen ilmiah yang sangat membantu para petinggi Parpol, untuk menentukan jagoannya di Pilkada Sumsel 2018 mendatang. “Memaksakan kandidat yang dalam survei berkala selalu rendah elektabilitasnya, adalah menghina akal sehat.” kata Katibul Umam.

Dalam Preas Rilisnya, Umam menambahkan, sebutan yang sama bisa juga disampaikan, pada yang ngotot mengaku punya elektabilitas bagus. “Intinya, kembali ke survei, sepanjang metodenya benar, pimpinan dan lembaganya punya rekam jejak yang baik, bisa dicek di google, ada asosiasi yang mengawasi lembaga survei itu, hasilnya bisa dipakai untuk pertimbangan mengusung paslon,” tambah Umam.

Hal berbeda dikatakan Koordinator Kelompok Diskusi Demokrasi Digital, Husnul Chotimah. Ia menjelaskan, dalam Pilkada Sumsel, kemungkinan terjadinya upaya memaksakan paslon tunggal akan terjadi. Menurut Chotimah, proses pengusungan calon, bisa saja akan berlangsunh alot dan prosesinya bisa saja by design.

Baca juga :  Suvei Populi Centre Prediksi, HDMY Menang Telak

Setingan deadlock, kata Chotimah, bisa saja dibuat oleh sekelompok yang punya kepentingan, dan berujung pada perkawinan paksa pada calon. Sehingga, kata Umam, kemungkinan calon tunggal akan ada dan mungkin terjadi. “Politik itu seni kemungkinan, jika upaya memaksa terjadinya pasangan calon tunggal benar-benar terjadi, saya kira akan rugi betul rakyat Sumsel.” kata Chotimah.

Karenanya, Chotimah yang juga Pengamat Politik ini meminta, agar masyaralat sipil tidak diam, dan menunggu. Tetapi, sambung Husnul Chotimah, masyarakat Sumsel harus aktif berpartisipasi dan mendorong, agar para pimpinan partau tidak main-main dan mengulur-ngulur waktu.

“Masyarakat sipil jangan diam menunggu tetapi harus aktif berpartisipasi dan mendorong agar para pimpinan partai tidak main-main dan mengulur-ulur waktu,” sambung Pengamat Politik, Husnul Chotimah. (Haji Merah/Redaksi).

Bagikan :

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru