oleh

Soal Radikalisme dan Intoleransi, SETARA Institute Minta Jokowi Garda Terdepan

AMBON, KICAUNEWS.COM Soal sikap intoleransi yang selama ini terjadi di Indonesia, perlu perhatian dari pemerintahan Jokowi. Pemerintah harus ada digarda paling depan dalam persoalan ini. Saat ini, masih ada upaya-upaya sekelompok pihak yang ingin memecah-belah dan merusak keharmonisan hidup masyarakat.

Hal itu dikatakan, Ketua SETARA Institute, Herdandi pada acara International Interfaith Dialogue, yang digelar Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia, di Ambon, di depan peserta, sebanyak 150 orang dari berbagai kalangan organisasi dalam negeri maupun organisasi luar negeri.

“Di banyak tempat, deklarasi melawan intoleransi radikalisme juga telah dikumandangkan. Termasuk dalam pertemuan kita kali ini, suara-suara keprihatinan dan daftar harapan dikemukakan. Dengan kata lain, prasyarat memperkuat kemajemukan telah cukup tersedia.” kata Herdandi.

Dalam acara International Interfaith Dialogue, ini dihadiri organisasi mahasiswa dalam negeri, seperti HMI, PMII, GMKI, IMM, dan PMKRI. Hal yang dibutuhkan hari ini, sambung Herdandi, adalah pemandu orkestra penguatan toleransi yang memandu kerja-kerja penguatan toleransi.

Herdandi lebih jauh menjelaskan, dalam mengantisipasi persoalan Intoleransi,  Pemerintah tentu saja harus berada di garda terdepan. Ia membeberkan, pemerintah saat ini, tidak cukup hanya membuat daftar rencana tanpa tindakan nyata.

Sejumlah langkah operasional pun, kata Herdandi, harus segera disusun di seluruh kementerian atau lembaga plus pemerintahan daerah. “Berbagai sumber daya yang ada di lingkungan pemerintahan harus digunakan untuk merawat kemajemukan,” ujar Ketua SETARA Institute.

Senada, Ketua MPH PGI, Pdt. Albertus Patty di tempat yang sama mengatakan, saat ini masyarakat di Ambon melalui Pela Ganding telah berhasil membuat masyarakat Ambon kembali hidup rukun antar umat beragama.

“Masyarakat Ambon telah berhasil bangkit dari pengalaman pahit. Pengalaman ini semakin mendewasakan dan mempererat hubungan antar umat beragama di kota Ambon, dan masyarakat Maluku secara umum,” kata Albertus Patty.

Baca juga :  Dalam Rangka Ops Ketupat Jaya 2019, Kapolsek Cisauk Pimpin Apel Gelar Pasukan Pengamanan Takbiran dan Idul Fitri 1440 H

Albertus menjelaskan, untuk mewujudkam masyarakat yang rukun, penanaman nilai-nilai Pancasila harus terus dilakukan, terutama pada generasi muda. Hal ini dilakukan, sambung Albertus agar, pemuda dapat mengimpelemantasikan nilai-nilai tersebut di dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama (PWNU) Maluku, Abidin Wakano di tempat yang sama juga mengatakan,  pemimpin dari setiap lembaga agama di Maluku sepakat pentingnya menciptakan perdamaian dan menjalin kehidupan rukun antar umat beragama.

Abidin menjelaskan, Pela Gandong mengingatkan bahwa kita semua adalah basudara yang harus saling menjaga dan hidup bersama. Ia menngatakan, Masyarakat saat ini sudah hidup dengan normal.

Kegiatan dialog lintas iman yang diikuti peserta dari berbagai organisasi dan agama yang berbeda ini, kata Abidin, menjadi salah satu cara untuk kita bisa saling mengenal satu sama lain. “Saya berharap generasi muda dapat meneruskan nilai-nilai pela gandong ini,” jelas Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama Abidin. (Haji Merah/Redaksi)

Group Kicau.
Foto Istimewa Redaksi.
Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru