oleh

Konferensi Internasional: Program Disabilitas di Indonesia Harus Jadi Arus Utama

JAKARTA, KICAUNEWS.COM – Berdasarkan data survei Ketenagakerjaan Nasional Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2016 penyandang disabilitas di Indonesia diestimasi berjumlah sebesar 12,15 persen. Dari data tersebut, BPS membagi menjadi dua kategori, diantaranya kategori sedang dan kategori berat.

Konferensi Internasional

Masih berdasarkan data BPS, pada tahun 2016, kategori disabilitas sedang berjumlah sebanyak, 10,29 persen, sementara untuk disabilitas kategori berat berjumlah sebanyak, 1,87 persen.

Dalam merespon hal tersebut, peneliti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Napsiyah Ariefuzzaman mengatakan, pemerintah dengan lembaga non pemerintahan, lembaga pendidikan, dan lembaga lainnya, harus melakukukan integrasi soal disability mainstriming.

“Belajar dari suksesnya program pengarus utamaan gender yang dilakukan secara serentak, integratif dan kooperatif antara stakeholder, saya meyakini program pengaursutamaan disabilitas ini juga dapat berhasil,” kata Napsiyah, Rabu (22/11) diacara Konferensi Internasional, di Jakarta.

Penyandang Disabilitas secara gender berdasarkan data BPS tahun 2016 menunjukan, lebih banyak terjadi pada perempuan. Dari data BPS terdapat sebanyak, 53,37 persen, sementara sisanya sebanyak, 46,63 persen dialami oleh laki-laki.

“Sehingga kita dapat memberi ruang yang sama, kepada para penyandang disabilitas atau difable, di setiap sendi kehidupan baik pendidikan, sosial, dan politik,” tegas Peneliti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Siti Napsiyah.

Sementara untuk prevalensi disabilitas dengan tingkat tertinggi, data BPS tahun 2016 menunjukan terdapat pada tiga provinsi, diantaranya Provinsi Sumatera Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan. Angka tersebut berada pada angka 6,41 sampai 18,75 persen.

Diketahui, acara Konferensi Internasional digelar oleh Program Studi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang bekerjasama dengan The Institute for Religion, Politics, and Society (IRPS), Australian Catholic University (ACU) dan The Institute for Culture and Society at University of Western Sydney dan The Asia Foundation (TAF).

Baca juga :  UIN Jakarta Gelar Konferensi Internasional Soal Keragaman dan Inklusi Disabilitas.

Acara Konferensi Internasional ini digelar selama dua hari, dari tanggal 21-22 November 2017. Acara itu digelar di Hotel Grand Dhika, Jakarta Selatan. Dalam acara ini juga menghadirkan banyak ahli dari berbagai perguruan tinggi, baik perguruan tinggi dari dalam negeri maupun perguruan tinggi luar negeri. (Haji Merah/Redaksi).

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru