oleh

PP GMKI: Intoleransi Bisa Selesai Lewat Pendekatan Budaya Lokal

AMBON, KICAUNEWS.COM – International Interfaith Dialogue serta Pertemuan Nasional Senior Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), akan membahas mengenai hal-hal strategis, dalam menjaga nilai-nilai toleransi dan perdamaian dunia.

Dalam acara tersebut, Menteri Agama melalui Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama, Prof. Thomas Pentury, mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir, persoalan-persoalam yang terkait dengan umat beragama selalu menjadi perhatian berbagai kalangan, termasuk pemerintan.

Berbagai bentuk dan varian diskriminasi sosial yang terjadi atas nama agama, sambung Thomas, kemudian coba diselesaikan, melalui kebijakan dan program pemerintah. “Setidaknya kebijakan ini, menjadi pendorong bagi terciptanya suatu kehidupan umat beragama yang harmonis, dan membangun jaringan kerja sama, antar umat beragama di seluruh Indonesia,” kata Prof. Thomas yang juga mantan Rektor Universitas Pattimura.

Oleh karenanya, Ia menegaskan, Gerakan Pemuda atau mahasiswa khususnya GMKI, harus berperan aktif menjaga keberagamaan dan terus menjalin persatuan. “Kami juga mengingatkan kepada pemuda dan mahasiswa bahwa agama apapun di dunia ini pada hakikatnya mengajarkan tentang kasih dan perdamaian.” ujar Prof. Thomas.

Saat hendak membuka kegiatan, International Interfaith Dialogue dan Pertemuan Nasional Senior, Prof. Thomas yang didampingi Ketua Umum Pengurus Pusat GMKI menegaskan, Pemuda menjadi generasi penerus yang harus selalu mengingat pentingnya perdamaian bagi peradaban Indonesia dan dunia.

Dalam kegiatan International Interfaith Dialogue serta Pertemuan Nasional Senior GMKI ini, sebanyak 24 peserta Internasional yang berasal dari 19 negara, terdiri dari 115 peserta dari berbagai daerah dan organisasi kepemudaan dari seluruh Indonesia, serta 130 senior GMKI dari seluruh Indonesia.

Senada, Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia, Sahat Martin Philip Sinurat mengatakan, bangsa ini harus bisa mewujudkan masyarakat yang toleran dan damai. Ia menjelaskan, hal ini penting untuk dilakukan agar, bangsa ini bisa maju membangun peradaban.

Baca juga :  Punya Kualitas, HMI Cabang Medan Dukung Agus Harta di Kongres Ambon

Kepada redaksi, dalam keterangan tertulisnya, Sahat menjelaskan, sebagai anak bangsa, menjaga toleransi sangatlah penting. Salah satunya, sambung Sahat, dengan mengenal dan memahami satu sama lain. “Dengan kondisi bangsa yang majemuk dan dinamis ini saya ingin menekankan bahwa pemahaman lintas budaya adalah kemampuan yang dibutuhkan pemuda saat ini,” tegas Ketua Pengurus Pusat GMKI, Sahat Martin dalam keterangan tertulisnya di Ambon.

Sahat menjelaskan, dialog merupakan salah satu cara efektif dalam mewujudkan toleransi di dalam kehidupan bernegara dan berbangsa. Tapi sebelumnya penting untuk mengetahui bagaimana kebudayaan dan kebiasaan dari setiap orang sehingga komunikasi tidak berbenturan dengan budaya di setiap negara atau daerah.

“Kita harus mampu mengatasi permasalahan intoleransi dengan pendekatan budaya lokal, mengedepankan dialog dan menerima kondisi bangsa yang majemuk sehingga mampu merawat ke-Bhineka Tunggal Ika-annya. Semua itu demi Indonesia yang dicita-citakan, Indonesia yang mampu menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya,” ujar Sahat. (Haji Merah/Redaksi).

Facebook Comments
Print Friendly, PDF & Email

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

1 comment

Berita Terbaru