oleh

Lakon Drama Yang Menyinggung Kejadian ’98

JAKARTA, KICAUNEWS.COM– “Kita semua adalah tamu, kita semua adalah pendatang. Memilih tempat untuk duduki lantas mencoba menikmati dan merasakan aman, serta nyaman. Lalu saat perbedaan mencuat, apakah permusuhan perlu ditimbulkan ? Apakah keberagaman harus dipaksakan ? Yang berbeda yang diusir dan yang sama boleh tinggal ? Kami adalah Huang, namun kita semua adalah Dhayoh.”

Begitulah ungkapan kutipan sebuah sinopsis drama yang disajikan oleh grup Teater Asa yang berdomisili di barat Ibu Kota, pada Jumat malam (9/11) dalam babak final Festival Teater Jakarta 2017 di kawasan Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki.

Pertunjukan malam itu dibuka oleh Simon Karsimin yang juga sebagai sutradara dalam lakon tersebut. Kemudian  mempersilakan para hadirin yang sudah ramai berdatangan, untuk memasuki sebuah area. Pada area tersebut, telah disediakan berbagai macam makanan dan coffe break untuk para hadirin.

Selang beberapa menit, penonton dikejutkan oleh beberapa orang yang berteriak seraya berlarian seakan membuat kericuhan di tengah-tengah kerumunan orang yang hadir. Tak disangka ternyata hal tersebut menjadi awal mulai pertunjukan lakon Dhayoh Atawa Huang dimainkan dan di area itu juga digunakan sebagai latar pertunjukannya.

Dhayoh Atawa Huang adalah jenis drama realistis yang menceritakan hiruk pikuk pada tahun 98′. Alurnya sendiri diisi dengan monolog-monolog oleh para pemerannya.

Menurut sang sutradara Simon Karsimin, istilah Dhayoh yang diambil dari bahasa sangsekerta yang artinya adalah tamu atau pendatang. Sementara Huang dari bahasa Mandarin artinya kuning yang menunjuk pada etnis Tionghoa.

“Selama ini bahwa etnis Tionghoa selalu dianggap sebagai pendatang, padahal mereka sudah berabad-abad bersama kita. Mereka berinteraksi danberintegrasi bersama kita, kenapa si harus ada deskriminasi seperti itu. Nah itu yang kita angkat dan sebagai pembelajaran untuk kita semua, bahwa Indonesia ada karena keberagaman” Ungkap Simon Karsimin.

Baca juga :  Polsek Cimahi Selatan Hadiri Peresmian Ketua PAC Manggala Cimahi Selatan

Grup Teater Asa yang telah memasuki babak final TFJ 2017 ini menyampaikan harapan agar kegiatan seperti ini harus memiliki tingkatan hingga bersekala Internasional.

FTJ 2017 berlangsung pada 8-16 November, serta pengumuman FTJ pada 21 November 2017. (Gus)

“Harapan saya kedepannya setelah Festival Teater Jakarta diadakan agar ada Festival berikutnya bersekala Nasional hingga Internasional” Ujar Yanu (50) salah seorang pemeran dalam lakon tersebut.

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru