oleh

Sidang Kasus Notaris Umiati : Hakim Cecar Pemilik Tanah

GIANYAR, KICAUNEWS.COM– Sidang lanjutan kasus yang menjerat Notaris Umiati Soedjati, kembali digelar di Pengadilan Negeri Gianyar Dengan agenda Sidang keterangan saksi, yakni putra dari pemilik tanah, I Nyoman Ardana yang dihadirkan oleh jaksa penuntut umum I Wayan Genip.

Lebih jauh pengacara yang berkantor di LBH Pemuda Indonesia (salah satu lembaga otonom yang di bentuk oleh DPP KNPI) Tim kuasa hukum Zulfian Rehalat SH sebelum sidang menegaskan sudah menyiapkan pertanyaan untuk saksi.

Bahwa Dalam persidangan tersebut, terungkap jika I Nyoman Ardana sama sekali tidak mengetahui adanya perjanjian jual beli tanah seluas 53 are di wilayah Desa Getasan Ubud dengan pembeli pertama, Maria Stella. Ardana juga mengaku tidak tahu adanya putusan verstek No. 145/Pdt/G/2015, tertanggal 13 Februari 2015 sebelumnya.

Majelis Hakim pun curiga dengan I Nyoman Ardana selaku pewaris tanah, karena ketidaktahuannya. Hakim anggota, Danu Arman, bertanya mengenai perjanjian antara pembeli tanah pertama MS dengan I Suana yang diwakili oleh saksi I Nyoman Ardana selaku Anak yg mendapat kuasa untuk melakukan transaksi jual beli tanah tersebut. “Bikin perjanjian di notaris masak nggak tahu isinya. Nggak usah berbohong, apa benar tidak tahu,” ujar Danu Arman, dihadapan sidang.

Untuk diketahui, antara pembeli MS dengan I Suana ini terlibat transaksi atas tanah seluas tanah 5.310 m2 dengan nilai Rp.8,6 Miliar sekian yang terletak di desa kedewatan, kecamatan ubud, kabupaten gianyar bali.
Kemudian Pembeli ini mengajak I Nyoman Ardana mengurus perubahan aspek sertifikat di notaris Umiati pada Juli 2013 lalu. Perubahan aspek itu paling lama berlangsung 6 bulan.

Namun, berjalan 4 bulan, pihak Ardana ini justru menagih sertifikat yang masih proses di notaris Umiyati. Tentu saja pihak Umiyati tidak bisa memberikannya karena masih proses. Aspek sendiri rampung pada September 2014 lalu.

Baca juga :  Bali Di Guncang Gempa !!!

Alasan lain umiati atidak memberikan sertifikat tersebut karena tidak mengetahui adanya pembatalan perjanjian di pengadilan.

Pihak Ardana membatalkan jual beli dengan alasan bapaknya, Suasa khawarie. “Kenapa tidak ditunggu aspek jadi?,” tanya hakim Danu Arman kepada Ardana. Menjawab pertanyaan hakim, Ardana mengaku bapaknya khawatir dan terus menanyakan. “Bapak saya khawatir dan terus bertanya,” sahut Ardana. Danu Arman juga mencecar Ardana, apakah ada kepentingan lain dan ingin menjual tanah ini ke pihak lain selain Pembeli pertama si Stella?. “

Selain dicecar pertanyaan oleh majelis hakim, saksi Ardana ini juga ditanyai oleh kuasa hukum terdakwa. Salah satu kuasa hukum Umiati , yakni Zainal Muttaqin, mempertanyakan seberapa dekat tanahnya dengan tanah Agung Podomoro, yang tak lain perusahaan real estate besar di Jakarta. Oleh Ardana dikatakannya lokasi tanahnya berjauhan jaraknya sekitr 3 km dan dibatasi sungai. “Tanah saya jauh, dibatasi sungai. Ada tiga kilo (meter),” ujar Ardana.

Selain mengaku tanahnya jauh dengan tanah milik Agung Podomoro, saksi Ardana juga megaku tidak paham kenapa harus mengurus aspek ini.
Ketidaktahuan Ardana ini kembali ditanyai oleh kuasa hukum terdakwa lainnya, Zulfian Rehalat. Kuasa terdakwa mempertanyakan apakah ada kerugian apabila aspek tidak dikembalikan oleh terdakwa Umiyati? “Kalau lama sertifikat gak dikasih, gak bisa lakukan jual beli,” terang Ardana. Lalu kuasa terdakwa kembali meyakinkan adakah pembeli lain?

“Belum. Siapa tahu kalau datang sertifikat, ada pembeli,” ujar Ardana.

Mengenai seluruh keterangan saksi I Nyoman Ardana itu, terdakwa Umiyati yang diberikan kesempatan bicara langsung memberikan tiga sanggahan, antara lain :

“Pertama, Bahwa I Nyoman Ardana hanya dua kali  bertemu dengan Umiati Soedjati, bukan berkali-kali. Baik di kantor Notaris dan/atau di rumah saya.

Baca juga :  Melihat Ulang Komitmen Pemerintah, Terhadap Pembangunan Papua ?

Kedua, bahwa Down Paymet (DP) yang diberikan bukanlah Rp 20 juta, melainkan Rp 30 juta, dengan rincian Rp 20 juta dianggap DP dan sisanya Rp. 10 Juta untuk membayar biaya perubahan aspek.

Ketiga, bahwa perjanjian jual beli di bawah tangan antara Penjual dan Pembeli sudah saya bacakan dihadapan kedua belah pihak, yaitu Ardana selaku pemilik dan MS selaku pembeli. (*)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru