Kurang Responsif, Kohati Masih Berkutat Pada Persoalan Internal

0
Foto Ilustrasi.
Bagikan :

[OPINI] KICAUNEWS.COM – Dalam dinamika gerakan perempuan yang dinamis, mari kita berkaca sejauh mana peran Korp Himpunan Mahasiswa Islam Wati, disingkat Kohati, menjadi aktor didalamnya.

Organisasi perempuan yang lahir dari sebuah responsitas Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dalam merespon kondisi masyarakat dan diciptakan sebagai penghadang lawan ideologis HMI.

Saat ini telah dihitung kekuatannya dan kemampuannya dalam dunia politik. Sejarah kelahiran Kohati yang saat ini menjadi organisasi perempuan di Indonesia, terkesan sebagai the follower yang menambah daftar organisasi perempuan yang dibentuk sebagai perpanjangan tangan organisasi induknya dalam wacana keperempuanan.

Namun hingga saat ini, masih perlu kita kritisi, ya meskipun Kohati terlahir dengan semangat untuk mewarnai dunia pergerakan perempuan dengan hijau hitam visi Himpunan Mahasiswa Islam.
Dalam perjuangan selanjutnya, Kohati tak lebih sebagai penonton dan partisipan dari pada motor perubahan.

Dalam hal menengakkan isu-isu Islam dan perempuan secara intelektual misalnya, Kohati tidak banyak menyumbangkan pemikiran-pemikiran, jika dibandingkan dengan sumbangsih HMI dalam pergolakan pemikiran Islam di Indonesia. Baik dalam wacana Keislaman di Indonesia yang begitu pluralis dalam wacana keperempuanan, nyaris belum disentuh oleh Kohati.

Pada tingkatan organisasi muslimah, Kohati masih tertinggal jauh dari Nasyiatul Aisyiah dan Muslimat NU yang telah menunjukkan ke-eksis-annya terhadap pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Saat ini, dengan semakin banyaknya lembaga-lembaga keperempuanan, dengan pola perjuangan yang kreatif dan dinamis, Kohati masih berkutat dalam merumuskan format pergerakan perempuan yang setiap Munas Kohati tidak pernah rampung.

Kebesaran Kohati saat ini masih menumpang terhadap kejayaan HMI di masa lalu yang mulai buram. Kondisi ini semakin diperburuk ditahun-tahun terakhir ini, justru di saat pergerakan perempuan semakin mengakar dan menunjukkan kemampuannya dalam merubah kebijakan publik. Pertanyaan sekarang adalah, akankah Kohati tetap jaya. ?

Jika ditinjau ulang, tujuan Kohati, adalah terbinanya muslimah berkualitas insan cita, Kohati sejatinya adalah mesin intelektual yang menjadi lokomotif perubahan dalam pergerakan perempuan di Indonesia. Terdapat empat kriteria muslimah insan cita yang terdiri dari kepribadian muslimah, Intelektual, profesional dan mandiri.

Merupakan pilar penyangga yang ampuh untuk menegakkan bendera HMI dalam pergerakan perempuan. Jika saja Kohati memang mempersiapkan diri untuk melahirkan kader-kader impian ini.
Kenyataan yang selama ini tejadi dalam internal Kohati, selalu saja jalan di tempat, dan terkurung oleh konflik internal antara Kohati dan HMI.

Saat ini diakui atau tidak, konflik internal adalah faktor utama yang selalu mengembalikan Kohati, ke titik nol perjuangannya untuk bisa eksis dalam dunia pergerakan perempuan di Indonesia. Hampir disetiap kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), selalu ada upaya pembubaran Kohati. Salah satu upaya mengotonomkan Kohati, tercetus dalam forum pra Kongres di Jakarta pada desember lalu, bukanlah sebuah ide baru ketika tercetus dari orang-orang yang bukan pelaku di Kohati.

Ide otonomkan Kohati hanyalah ide pembubaran Kohati yang berganti baju, yang inti sebenarnya, adalah peniadaan Kohati dari tubuh Himpunan Mahasiswa Islam. Dalam hal ini bukan tidak mungkin Kohati otonom, terpisah seutuhnya dari HMI. Bisa jadi dengan keotononamnya, Kohati akan lebih bebas dalam perjuangannya, tanpa harus menghabiskan energi untuk memahamkan HMI setingkat terlebih dahulu, perlu dicatat dan diingat, ada dua alasan yang paling mendasar kenapa Kohati didirikan.

Pertama, secara internal, departemen keputrian yang ada pada waktu itu sudah tidak mampu lagi menampung aspirasi para kader HMI-Wati, disamping basic-needs anggota tentang berbagai persoalan perempuan kurang bisa di fasilitasi oleh HMI.

Dengan hadirnya sebuah institusi yang secara spesifik menampung aspirasi HMI-Wati juga diharapkan HMI-Wati secara internal memiliki keleluasaan untuk mengatur diri mereka sendiri dan lebih memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan organisasi yang muncul dari basic-needs anggotanya sendiri yaitu kader HMI-Wati. Secara eksternal, HMI mengalami tantangan yang cukup pelik dikaitkan dengan hadirnya lawan ideologis HMI yaitu komunis yang masuk melalui pintu Gerakan Gerempuan Indonesia (GERWANI).

Kedua, selain itu maraknya pergerakan perempuan yang ditandai dengan munculnya organisasi perempuan dengan berbagai variasi bentuk ideologi, pilihan isu, maupun strategi gerkannya membuat HMI harus merapatkan barisannya dengan cara terlibat aktif dalm kancah gerakan perempuan yang berbasis organisasi perempuan.

Atas dasar pertimbangan itulah pada (17/09/1966) bertepatan dengan 2 Jumadil Akhir 1386 H pada Kongres VIII di Solo dideklarasikan KOHATI. Terpilih sebagai Ketua Umum Kohati pertama waktu itu adalah Anniswati Rokhlan.

Mengurai permasalahan internal serta eksternal yang diasumsikan sebagai pangkal dari sunyinya gerakan Kohati, sekarang, belumlah cukup untuk memberikan jalan sehingga Kohati benar-benar mampu mengobjektifikasikan nilai yang terkandung di dalam gagasan gerakannya. Membutuhkan sebuah analisis yang tajam serta perencanaan tindakan prediktif-visioner-progresif sehingga setiap gerakan KOHATI nantinya dapat mencapai hasil yang efektif.

Selain itu, satu hal penting bagi gerakan Kohati, mendatang adalah nilai yang menjadi fondasi dasar dari setiap gerakannya, ideologi. Ideologi, mungkin membutuhkan re-empowering untuk dapat menggerakan niat dan semangat Kohati. Niat baik akan baik juga hasilnya jika dilaksanakan dengan cara yang baik dan benar (tepat). Bagi gerakan Kohati, ilmu tentang sebuah cara dalam menjalankan ide sangat penting. Sebab dengan itulah tingkat keberhasilan sebuah gerakan dapat diukur dan dievaluasi.

Gerakan Kohati, pun harus memuat tiga hal pokok, pendidikan, empowering, dan advokasi. Tiga hal pokok tadi harus terjangkau dalam satu jenis atau bentuk program kerja Kohati. Saat ini diusianya yang ke 51 Kohati, ingatlah wahai pembina, pendidik tunas muda pada sebuah tujuan mulia organisasi ini. Jangan kau kotori dengan kelalaian dan kelengahanmu dalam berjuang. [Redaksi].

Yakin Usaha Sampai………..
Bahagia HMI, Jayalah Kohati….

Syarifaeni Fahdilah
Ketua Umum Kohati HMI Cabang Ciputat

Foto Ilustrasi.
Bagikan :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*