oleh

Saat Pelecehan Seksual Dipolitisasi, Tertawalah, Ha Ha Ha Ha

TANGSEL, KICAUNEWS.COM – Tahun awal penerimaan mahasiswa UIN Syaruf Hidayatullah Jakarta dihebohkan dengan “pelecehan seksual” oleh “si Anu” kepada “si Anu” atau lebih gampangnya sebut saja korban yang merasa dilecehkan itu “si Mawar”.

Media sosial khususnya mahasiswa UIN Jakarta membicarakannya dengan bermacam mimik  marah, kesal, kecewa, kehabisan pikir, seloroh terdengar juga “gila kampus Islam bro ada pelecehan, tak malu apa pada agamanya,”. Penulis terarik menulusuri karena isu ini “hangat-hangat tai ayam”.

Semua media sosial yang membicarakan soal isu ini, serta adanya agenda aksi solidaritas mahasiswa baru terhadap perilaku yang dianggap “tak bermoral” ini memunculkan pertanyaan, kok bisa?

Kampus baru mulai masuk 4 September 2017 tiba-tiba atmosfir seakan provokatif sehingga massa seolah-olah sudah terkodisikan, gila. Keren sekali jikalau setiap tahun kesadaran mahasiswa baru langsung turun jalan melakukan aksi seperti ini, atau jangan-jangan ada sekelompok intelektual memboncenginya dibelakangnya? Wallahu a’lam.

Pendidikan untuk sadar pelecehan seksualitas memang betul penting, tapi bukan berarti mengorbankan korban yang sudah merasa terdzolomi.

Penulis sempat baca surat pengaduan pelanggran kode etik tertanggal 29 Agustus 2017 (janggal) kepada kepada Rektor UIN Jakarta, korban terlihat jujur dan polos menyebutkan namanya (yakin). Padahal dirinya belum tahu bahwa namanya kini terkenal sebagai korban (maaf) “pelecehan seksual”.

Seharusnya mereka dilindungi namanya. Belakangan berubah menjadi initial “YCA” dan “DD”, herannya proses pelaporan hanya mementingkan kasus seakan harus tuntas. Padahal satu sisi korban terus “dibaca” dan “diingat” oleh massa pembaca sebagai mahasiswa baru UIN Jakarta dari Fakultas Psikologi dan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik anggkatan 2017. Apakah sudah penah berpikir kesana?

Mungkin ada benarnya perkataan mantan Presiden Amerika Serikat “bahwa tempat paling aman menyebunyikan rahasia ialah ruang publik yang ramai”.

Baca juga :  WHISTLE BLOWER UNTUK PNS DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI

Dari kolom komentar setelah salah satu portal merilis berita ini, komentarnya ada yang mendekati masalah, menjauh, bahkan menghadirkan “sesuatu” yang tak berhubungan, sebut saja organisasi ektra. Tanggung bukan, kenapa tidak agama Islamnya, negaranya, Dekan Fakultas si pelaku.

Dari salah satu group media sosial, penulis juga menemukan penekanan mulai memanas-manasi, hingga menstigmakan salah satu instansi organisasi, “ini urusan pelecehen seksualitas apa perebutan universitas” ujar teman penulis saat ikut berkomentar.

Terduga pelaku yang kini ngetop dengan #baladacintasyafaat jika terbukti silahkan serahkan kepada pihak berwajib, karena wilayahnya sudah berbeda. Apalagi pelaporan yang masih dilimpahkan masih berupa delik perkara dari suntingan narasi deskripsi merasa korban.

Seksualitas memang sensitif tetapi toh jangan karena untuk memenangkan tuntutan korban semata lalu terbiasa pembaca berita tidak melakukan konfirmasi yang tak berimbang.  Isu ini mengajarkan kita dua sekaligus.

Pertama, menstimulus pendidikan akan pelecehan seksualitas dalam kampus.

Kedua, vitalnya kelompok intelektual dalam mem-frame tanpa rekonfirmasi akan tetapi condrong hanya euphoria, namun kenyataannya meninggalkan hak korban untuk dilindungi tidak cukup raga tetapi mental dan lingkungan sosial kedepannya patut dipikirkan.

Esok hari, perkara semacam ini akan jadi “kacang goreng” obrolan yang seksis. Sayangnya hingga detik ini belum terdengar lembaga-lembaga yang memfasilitasi untuk merawat psikologis bagi mereka yang merasa korban.

Semuanya terlalu terfokus kepada bagaimana #baladacintasyafaat agar menjadi caci, dengki, dan hal yang memerikan kesan involusi moral kepada lembaga UIN Jakarta. Maka tertawa dan berpikir objektif!

Adipati Rumekso
Penulis Adalah Ketua di Mejelis Dibawah Pohon Rindang (DPR) UIN Jakarta

 

Pelecehan Seksual, Sumber Foto: Google
Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru