oleh

Kekerasan dan Pelecehan Seksual Meningkat, Ini Himbauan Kohati HMI Cabang Ciputat

TANGSEL, KICAUNEWS.COM – Pelecehan seksual adalah satu tindakan kejahatan. Penting kiranya agar pelaku segera ditindak secara hukum dan secara psikologis, sebab jika tidak, maka sangat tinggi kemungkinannya pelaku akan mengulangi perilakunya dan mencari mangsa baru.

Anak yang merupakan generasi penerus bangsa, tentunya perlu mendapatkan pendidikan yang baik, agar potensi-potensi yang mereka miliki dapat berkembang pesat. Sehingga akan tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang memiliki berbagai macam kemampuan, serta ketrampilan yang bermanfaat bagi kehidupan.

Oleh sebab itu, baik dari pihak keluarga, lembaga pendidikan dan masyarakat, harus ikut berperan aktif dan bertanggung jawab dalam memberikan berbagai bimbingan yang tepat, agar tercipta generasi yang tangguh dan berkualitas.

Dewasa ini, dalam dunia anak terjadi berbagai macam fenomena negatif yang mengusik kehidupan mereka. Berbagai penyimpangan sosial yang ada dalam masyarakat kita sekarang ini, semakin banyak terjadi dan sebagian besar menimpa anak-anak.

Meski undang-undang (UU) tentang penyimpangan tersebut telah diterbitkan, namun sama sekali tidak membuat para pelaku penyimpangan sosial itu hilang. tetap saja berani untuk melakukan aksinya dimana pun, kapan pun dan kepada siapa pun, terutama anak-anak.

Salah satunya adalah masalah pelecehan seksual. Pelecehan atau kekerasan seksual dewasa ini menjadi isu penting untuk dibahas. Ironisnya, rata-rata korban dari pelecehan atau kekerasan seksual tersebut adalah anak-anak dan atau perempuan.

Berdasarkan data yang dikumpulkan dan dianalisa oleh Pusat Data dan Informasi Komisi Nasional Perlindungan Anak (KPAI) dan Komisi Nasional (Komnas) Perempuan, tercatat kurang lebih 21.689.797 kasus pelanggaran hak anak.

Hampir separuh kasus merupakan kejahatan seksual terhadap anak dan kaum perempuan. Presentase setiap tahun untuk angka kekerasan seksual pada anak pun semakin meningkat.

Baca juga :  Pelantikan HMI Pengurus Cabang Jakarta Timur Tanpa di hadiri Ketua Umum

Pada tahun 2012, sebanyak 2.637 kasus dengan 41 persen kejahatan seksual pada anak, lalu pada 2013 jumlah kekerasan pada anak memang menurun tapi persentase untuk kekerasan seksual melonjak, 60 persen dari kasus yang terjadi.

Data terakhir yang dimiliki Komnas Anak, pada Januari-Juni 2014 terdapat 1.039 kasus dengan jumlah korban sebanyak 1.896 anak yang didominasi 60 persen diantaranya dalam kasus kejahatan seksual.

Maraknya pelecehan seksual yang terus menerus terjadi mengakibatkan keresahan dari masyarakat, contohnya adalah menggoda dengan ungkapan-ungkapan penuh hasrat atau mengungkapkan gurauan-gurauan bernada porno.

Ajakan-ajakan melakukan hal yang negative seperti hubungan seks, dan terkadang ada ancaman-ancaman jika ajakan pelaku tidak dipenuhi.

Hal tersebut dikatakan pelecehan seksual, karena jika ada seseorang yang mengalami kejadian tersebut dan dia merasa malu, marah, tersinggung atau benci, tentu hal itu sudah termasuk pelecehan seksual.

Walau tidak melakukan penyiksaan secara fisik, pelaku tersebut sudah membuat korbannya merasa terganggu dan tidak nyaman. Tindakan ini dapat disampaikan secara langsung maupun implisit.

Namun ada yang berpendapat bahwa korban yang justru dianggap menimbulkan masalah karena mungkin memberikan impuls-impuls dengan penampilan, sikap dan tindakan yang membuat para pelaku tersugesti untuk melakukan pelecehan.

Umumnya, para korban akan tutup mulut yang terkadang hingga waktu yang sangat lama karena alasan-alasan tersebut, dan adanya ketakutan ia akan kian menjadi sasaran pelecehan.

Mereka tidak membicarakannya dengan teman ataupun keluarga. Proses penyembuhan akan kian sulit ketika ada penyangkalan dari institusi, ketidak-percayaan, atau mempersalahkan korban.

Pelakunya biasanya berasal dari berbagai golongan seperti keluarga sendiri, kerabat, tetangga, guru, karyawan, parabos-bos perusahaan, preman, atau siapapun yang ingin memuaskan nafsu seks mereka dengan melakukan pelecehan bahkan kekerasan seksual, terutama anak-anak.

Baca juga :  Prof. Lili Romli, Optimis Menangi Pilkada Serang 2020 Melawan Tatu Chasanah

Oleh sebab itu, maka pemahaman tentang pelecehan seksual perlu untuk dipelajari secara mendalam sehingga mulai dari keluarga, lembaga-lembaga pendidikan dan masyarakat juga paham dan mampu untuk ikut berperan dalam pemberantasan perilaku pelecehan seksual.

Bukan hanya untuk para pelaku yang terkadang iseng atau tergoda dengan indvidu yang dilecehkan, namun individu yang menjadi korban juga harus tahu bagaimana penampilan, sikap dan perilaku yang seharusnya dilakukan.

Sehingga tidak menimbulkan hasrat-hasrat para pelaku untuk melakukan pelecehan seksual kepada mereka.

Menyikapi hal tersebut, Korp Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Wati atau Kohati HMI Cabang Ciputat menghimbau keras, kepada siapa pun pelaku pelecehan seksual, agar diberi peringatan dan diberikan hukuman dengan sekeras-kerasnya, sesuai hukum yang berlaku di Indonesia demi kemanusiaan dan keadilan.

Begitu pun dengan para perempuan, agar selalu berhati-hati, dan cerdas. Untuk para perempuan-perempuan Indonesia cerdaslah dalam bergaul dan menjaga diri. Jagalah keindahan-keindahan yang terdapat pada diri Kita yang Tuhan telah ciptakan.

Syarifaeni Fahdiah
Penulis Adalah, Ketua Umum Kohati HMI  Cabang Ciputat.

Foto. Logo Kohati. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru