oleh

PERISAI DKI Jakarta Bersama Perwakilan Kelompok Cipayung Plus Gelar Aksi 1000 Lilin

[contact-form][contact-field label=”Nama” type=”name” required=”true” /][contact-field label=”Surel” type=”email” required=”true” /][contact-field label=”Situs web” type=”url” /][contact-field label=”Pesan” type=”textarea” /][/contact-form]

– Negara Kesatuan Republik Indonesia telah merdeka selama 72 tahun. Cita-cita kemerdekaan para pendiri bangsa tidak berhenti pada diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, tetapi lebih dari pada itu, terciptanya tatanan masyarakat yang sejahtera, adil, dan makmur. Kemerdekaan, bagi Bung Karno, dan juga para pendiri bangsa yang lain, hanyalah sebuah jembatan emas untuk sampai kepada masyarakat yang sejahtera, adil, dan makmur itu. Sebuah masyarakat tanpa penindasan manusia atas manusia, sebuah bangsa tanpa penindasan bangsa atas bangsa, sebuah negara Indonesia yang dihormati oleh negara-negara lain karena memang Indonesia adalah besar dan bermartabat.

Namun, cita-cita para pendiri bangsa itu masih berkutat di dalam dunia ide, hanya sekedar sebuah cita-cita, karena selama 72 tahun kita tak mampu mewujudkannya ke dalam praksis karena banyak hal yang mengaburkan tujuan mulia kita. Beberapa catatan yang menghalang tujuan kita untuk merdeka semerdeka-merdekanya adalah (1) kita masih sibuk meributkan perbedaan-perbedaan primordial, kita lupa akan akar sejarah besar bangsa Indonesia, dan kita lupa ajaran-ajaran para pendiri bangsa yang merupakan koridor bagi kita untuk berjalan menuju kepada cita-cita kemerdekaan sejati itu. (2) Indonesia masih dikuasai oleh mafia hukum yang menjungkirbalikan keadilan hanya untuk kepentingan diri dan kelompoknya, masih keliaran di sekitar kita para mafia politik yang menyandra kepentingan publik sehingga kemiskinan masih menjadi momok menakutkan, jurang yang kaya dan miskin kian lebar menganga.

Aksi 1000 lilin ini merupakan sebuah ajakan dan dorongan untuk kembali kepada sejarah perjuangan Indonesia merdeka untuk meraih cita-cita Indonesia merdeka yakni terciptanya tatanan masyarakat yang sejahtera, adil, dan makmur berdasarkan Pancasila. Dengan sungguh-sungguh mengamalkan ajaran-ajaran para pendiri bangsa, terutama Pancasila, di dalam kehidupan sehari-hari agar mampu melihat Indonesia yang bhinekka dan toleran dari perspektif yang terbuka dan plural.

Sudah saatnya kita bangkit menjadi bangsa yang besar, menjadi bangsa yang disegani dan dihormati oleh bangsa-bangsa lainnya, dan syarat untuk itu adalah berdamai dengan diri sendiri dan bangsa sendiri, berdamai dengan setiap perbedaan, sehingga kita bisa bersatu padu membangun Indonesia yang besar, Indonesia yang sejahtera.

(A Widhy)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru