oleh

Dosen Sasindo Unpam ini Silaturahmi Dengan Seniman Melayu di Malaysia

PAMULANG, KICAUNEWS.COM– Para seniman dari empat negara berkumpul di Parit Dua Barat, Selangor Darul Ehsan, Malaysia pada 10 sampai 14 Agustus 2017 lalu. Mereka berpuisi, berdiskusi dan mengenang seniman besar Malaysia Usman Awang. Tidak hanya menziarahi karya-karya Usman Awang, acara ini juga menjadi ajang silaturahmi para seniman dari empat negara rumpun melayu.

Acara yang digagas oleh empat perkumpulan seniman Malaysia yang meliputi Ziarah Karyawan (ZK) sebagai penggagas utama, Yayasan Usman Awang, Seniman Paksi Rakyat (Paksi) dan Ikatan Kopi Sastera (Ikosasi) itu dihadiri oleh seniman-seniman besar melayu dari Brunei, Singapura, Indonesia dan tuan rumah Malaysia tentunya. Turut serta dalam acara itu nama-nama besar penyair-penyair melayu, diantaranya Muhammad Haji Saleh dan Raja Ahmad Aminullah. Mereka adalah penyair dan sastrawan besar negri jiran Malaysia.

Yang unik dari dari acara ini adalah terselipnya nama Angin Kamajaya, seorang dosen sastra Indonesia Universitas Pamulang. Seniman yang nyambi dosen ini diundang khusus bersama seniman-seniman lain dari berbagai daerah untuk mewakili Indonesia dalam acara tersebut. Pemilik nama asli Zaky Mubarok itu merasa senang dan bangga dapat mewakili Indonesia dalam ajang silaturami seniman empat negara serumpun itu.

Angin Kamajaya (kiri) bersama salah satu seniman Malaysia.

Zaky atau Angin Kamajaya (red;nama panggung), adalah murid pengurus yang masih aktif mengurusi grup Bengkel Teater Rendra. Dalam acara ini pun, notabennya Ia adalah tamu dari perwakilan Bengkel Teater Rendra. Namun, Ia juga memperkenalkan dirinya sebagai akademisi (Red;dosen) dari Universitas Pamulang.

“Dalam acara Ziarah Karyawan itu saya menghadiri undangan yang disampaikan untuk Bengkel Teater Rendra, dan saya juga memperkenalkan diri saya sebagai akademisi dari Unpam” Ujarnya saat diwawancarai di rumah kediamannya, Cinangka, Depok (15/8/2017).

Baca juga :  Pembobolan Indomaret Pamulang Digagalkan Polisi, Satu Pelaku Tewas Kena Tembak

Dengan hanya dukungan dari keluarga, Zaky berangkat untuk hadir dalam acara itu. Tidak ada dukungan dari Kampus Unpam, tidak jadi soal untuknya. Berangkatlah Ia ke Malaysia Pada 10, Agustus lalu. Setibanya disana Ia langsung mengikuti rangkaian acara yang didekasikan untuk mengenang Seniman besar Usman Awang.

“Tanggal 10, Agustus saya berangkat, tiba disana saya langsung mengikuti rangkaian acara, dari pertunjukan-pertunjukan, diskusi karya Usman Awang sampai acara Puisi Sampai Subuh, paginya juga ada acara setelah itu senin sore yang berkemas dan pulang” Ujar pria berumur 31 tahun itu.

Pengalaman dan perbandingan

Banyak pengalaman yang Ia dapatkan dari acara itu, terutama soal dunia seni dan kesusastraan, kesamaan dasar bahasa melayu dari keempat negara serumpun, tidak berbanding lurus dengan kesamaan dunia seni dan kesusastraan. Menurut Zaky, meski Brunei, Singapura, Indonesia dan Malaysia memiliki corak bahasa yang nyaris sama (Melayu), namun perbedaan terbesarnya adalah kultur politik dan ekonomi.

“Ini merupakan pengalaman berharga buat saya, sedikit banyak saya tahu perbedaan mendasar dari sastra Indonesia dan tiga negara itu, Malaysia, karena masih sangat feodal seniman tidak se- liar di negri kita, kita hampir sangat bebas, mereka tidak, tapi mereka tidak ada perlawanan keras karena ekonomi mereka cukup baik.” Papar Zaky sembari menunjukan buku kumpulan puisi dari penyair Malaysia yang Ia dapatkan dari acara itu.

Ditanyai perbandingan kualitas karya khususnya sastra dari Indonesia dan tiga negara itu, Zaky tegas menjawab Indonesia masih lebih baik, namun Ia juga menjelaskan bahwa banyak juga yang Indonesia masih belum sebaik dari karya negara-negara serumpun itu. Ke- liaran yang tidak dimiliki oleh tiga negara serumpun itulah salah satu faktornya, namun keberanian membukukan karya itulah kelemahan kita.

Baca juga :  Personil Polres Karawang Lakukan Test Swab

“Liar adalah unsur kesenian, kalau tiga negara itu tidak memiliki, Malaysia adalah negara kesultanan, tentu tidak bisa sembarangan mengkritisi, Brunei juga sama, sedangkan Singapura melayunya mulai tersingkir oleh etnis lain, namun mereka berani, berani untuk membukukan karyanya” katanya.

Masih kata Zaky, tiga negara itu pun mempunyai hal yang tidak dimiliki oleh seniman di negri ini, apresiasi dan penghargaan yang para seniman dapatkan di tiga negri serumpun itu, terutama Malaysia yang sering mengangkat senimannya menjadi “Sastrawan Negara”. Sebuah gelar besar yang cukup membuatnya makmur.

Apalagi tingginya tingkat minat baca Malaysia, sambung Zaky, apresiasi (khususnya sastra) juga dirasakan dengan tingkat minat baca.

“Dengan bacaan yang ‘maaf’ bisa dikatakan dibawah karya-karya penulis Indonesia namun tingkat apresiasi melalui penjualan buku dan minat baca yang tinggi, saya merasa Ironi” ujarnya.

Dalam kesempatan wawancara itu pula seniman dan dosen yang khalayak umum tahu dengan nama Angin Kamajaya itu juga berharap bahwa acara seperti bisa terus digalakan.

“Harapan saya sederhana, semoga silaturahmi semacam ini bisa tetap terjaga dan meningkatkan kualitas serta kreatifitas dalam berkarya” Pungkasnya. (Bal)

 

 

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru