oleh

Mengenai nama Betawi, terdapat tiga versi penjelasan tentang asal usulnya:

  1. Pitawi, yang di dalam bahasa Melayu Kuna bermakna “Larangan”. Penggunaan istilah ini ditemukan di dalam Prasasti Batu Jaya (Karawang). Tentang keberadaan Prasasti Batu itu, Ridwan Saidi berpendapat bahwa kawasan tempat batu itu ditemukan pada masa lalu dikenal sebagai kawasan tertutup.
  2. Giwang Betawi di dalam bahasa Melayu Brunai. Ini dibuktikan dengan ditemukannya giwang emas peninggalan abad 11 M di daerah Babelan pada tahun 1990.
  3. Betawi juga diambil dari nama tumbuhan kayu, yang serupa dengan pohon perdu. Di Kabupaten Kapuas Hulu, dikenal kayu yang bernama kayu Bekawi. Meskipun terdapat perbedaan pengucapan antara Betawi dan Bekawi, tampaknya kedekatan penyebutan itu menunjuk kepada makna yang sama. Ridwan Saidi, sejarawan Betawi, juga tidak menampik asal usul penamaan Betawi dari tinjauan ini.

Percampuran suku Betawi dengan suku Melayu yang berasal dari Kalimantan terjadi pada abad ke-10, semasa Kalapa atau Sunda Kalapa berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya. Dari percampuran itulah bahasa Melayu menjadi bahasa dominan suku Betawi.

Setelah dibebaskan Fatahillah atau Fadhilah Khan dari cengkeraman kekuasaan Portugis, Tanah Betawi atau Jayakarta selanjutnya berada di bawah protektorat Kesultanan Islam Demak. Maka dari itu, Sultan Tranggono mengirim cucunya bernama Pangeran Nursalim bin Abdullah bin Sultan Tranggono alias Pangeran Papak Pedongkelan ke Tanah Betawi.

Tidak ada hubungan antara nama Betawi dan Batavia. Nama Batavia bukanlah terjemahan kata Betawi di dalam bahasa Belanda. Nama Batavia justru diambil dari nama wilayah yang pada masa Romawi terletak di wilayah Neijmegen Belanda. Orang-orang Belanda menjadikan nama Batavia untuk menegaskan identitas mereka. Karena itu ketika Kerajaan Belanda mengambil alih Betawi dari VOC pada tahun 1619, nama Jayakarta diganti menjadi Batavia dan digunakan hingga tahun 1942.

Baca juga :  Dorong Peningkatan Kapasitas dan Peran Staf Ahli, Begini Kata Sekjen Kemendagri

(sumber FB : Abdi Kurnia Djohan)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru