oleh

Siti Napsiyah: ‘Social Worker’ Bisa Jadi Solusi Berantas Terorisme.

JAKARTA, KICAUNEWS.COM – Persoalan pemberantasan terorisme harus menjadi ikhtiar semua pihak, termasuk para pekerja sosial (sosial worker). Hal ini disebabkan karena ternyata penjara nyaris tidak memberi deterrance effect atau tidak membuat jera para pelakunya.

Keterlibatan social worker melalui pendekatan integratif diharapkan akan mengurang dan menghilangkan istilah alumni LAPAS kembali jadi teroris.

Hal ini dijelaskan Dr. Siti Napsiyah Ariefuzzaman, S.Ag., BSW., MSW, Kamis (27/07) diacara Seminar Internasional Social Work Consortium (AWCF) Conference. Acara seminar yang bertajuk “Growing Cooperation, Solidarity and Quality of Social Services in ASEAN” digelar di Mercure Convention Center, Ancol, Jakarta.

Dalam seminar tersebut, Napsiyah menjelaskan, Social Work’s Role in Rehabilitating Terrorist Prisoner and Family” dan “The role of social work on rehabilitation and deradicalization programmes in Indonesia”, terjadi pada beberapa kasus.

Siti Napsiyah menilai, penjara justru menjadi school of radicalism atau menjadi semacam  sentra pembibitan atau “naik kelas” bagi para teroris.

“Keluar dari penjara justru jadi semakin keras pahamnya dan kembali melakukan teror.  Artinya, penjara belum berhasil membuat teroris sadar dan bertaubat sehingga upaya pemberantasan terorisme terhambat.” kata Siti Napsiyah yang juga akademisi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Doktor bidang Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia ini menawarkan pendekatan baru yang disebutnya Social Work Integrative Approach.

Napsiyah menjelaskan, salah satu pendekatan yang melibatkan lintas profesi, lintas disipilin ilmu, yang dilakukan secara komprehensif pada level mikro, mezzo dan makro.

Melalui pendekatan ini, kata Napsiyah menambahkan, seorang narapidana teroris akan mendapatkan pembinaan secara terencana dan sistematis yang melibatkan petugas lapas, ahli agama, psikolog, kriminolog dan ini tenaga profesional khusus yaitu social worker (pekerja sosial profesional).

Baca juga :  Kapolsek Kedokanbunder Pimpin Pelaksanaan Kegiatan Ops Aman Nusa II

“Social worker akan menjadi case manager (manajer kasus) yang bertanggung jawab menangani pembinaan narapidana terorisme sampai tuntas. Tuntas dalam pengertian selama di lapas mendapat pembinaan melalui program deradikalisasi, rehabilitasi, reintegrasi dan reentry.” tambah Siti Napsiyah.

“Seorang terpidana teroris diharapkan kembali ke masyarakat, diterima oleh masyarakat dan berperan dalam masyarakat,” kata dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Dakwan dan Komunikasi, UIN Syarif Hidayatulla, Jakarta.

Dalam paparannya yang menggunakan Bahasa Inggris itu, Napsiyah menekankan, pentingnya melibatkan pelibatan pekerja sosial (social worker) dalam pemberantasan terorisme.

“Selama ini peran pekerja sosial sudah diakui dan diakomodir oleh negara di bidang perlindungan anak, disabilitas dan program kesejahteraan keluarga.” kata Siti Napsiyah.

Dengan melibatkan social work, Siti Napsiyah melanjutkan, dalam program pemberantasan terorisme, khususnya dalam pembinaan terpidana teroris di Lapas dan Bapas, diharapkan bisa mendorong keberhasilan program secara lebih nyata.

Sebagaimana diketahui, seminar Internasional Social Work Consortium (AWCF) Conference, diselenggarakan oleh ISWC (Indonesia Social Work Consortium) bekerjasama sengan Kementrian Sosial Republik Indonesia.

Dalam acara seminar itu juga diikuti oleh peserta dari berbagai negara. Acara seminar tersebut, berlangsung dari 25 sampai 29 Juli 2017. Dalam acara tersebut juga, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa hadir dan membuka acara tersebut. (Red. Haji Merah/Kicaunewscom).

 

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru