oleh

Pilkada Jabar: Ridwan Kamil dan Ahok Effect !

OPINI, KICAUNEWS.COM – Dalam sebulan terakhir kesibukan Walikota Bandung Ridwan Kamil meningkat tajam. Selain bertemu para tokoh, kyai, alim ulama, kegiatan utama Ridwan Kamil adalah meresmikan tim relawan Baraya Ridwan Kamil (Barka). Sejak mendeklarasikan diri sebagai Cagub Jabar sebulan lalu (17/3), Ridwan Kamil (RK) langsung tancap gas.

Dengan modal awal dukungan dari Partai Nasdem membuat RK sangat percaya diri. Apalagi ada survei yang menyatakan tingkat popularitas dan elektabilitasnya paling tinggi dibandingkan dengan kandidat potensial lainnya. Ridwan Kamil, sebagai salah satu figur muda yang lihai dan pandai dalam memanfaatkan media sosial, menjadikan sosoknya cepat melambung tinggi, seperti layaknya udara segar bagi Kota Bandung.

Mirip seorang Ahok, Ridwan Kamil juga sangat getol meng-upload berbagai kegiatannya di youtube dan berinteraksi dengan warga melalui berbagai platform media Sosial antara lain facebook dan twitter. Dalam bahasa anak muda Bandung, “Aing Pisan, Gua Banget.” Ridwan Kamil menjadi bintang baru di dunia maya dan digadang-gadang akan menjadi pemimpin masa depan Jawa Barar, bahkan Indonesia.

Persamaan antara Ridwan Kamil dengan Ahok, adalah Partai Nasional Demokrat (Nasdem) yang menjadi partai pertama pendukungnya. Kepada Ahok, Nasdem tidak memberikan syarat alias tanpa syarat, dan kepada Ridwan Kamil Nasdem memberikan tiga syarat. Apa itu ? Pertama, RK harus menjadikan Jabar sebagai benteng Pancasila. Kedua, tidak menjadi anggota Parpol. Ketiga, mendukung pencalonan Jokowi sebagai Capres 2019, dan Ketiga syarat tersebut diterima secara mutlak oleh Ridwan Kamil.

Beberapa hasil survei menyebutkan, walau tetap diperingkat atas, tapi suara PDIP jauh menurun. Partai-partai Islam seperti PPP dan PKB porak poranda. Masih untung bagi PKB yang punya basis pendukung di Jatim. Itu pun sudah rontok sebagian. Sebaliknya dua sejoli Gerindra dan PKS menjadi partai yang perkasa dan mendulang simpati publik yang tinggi.

Baca juga :  Pilkada Jabar Berpotensi 'Money Politic' Indonesia Election Watch Akan Pantau Seluruh TPS

Dengan dampak Ahok Effect yang sangat merusak, agaknya pilihan waras bagi partai-partai Islam menghindar jauh-jauh dari Ridwan Kamil, bila mereka tak mau terpuruk lebih dalam. Yang paling mungkin bergabung dengan Nasdem adalah PDIP. Bila PDIP bergabung dengan Nasdem dan kemungkinan ditambah Hanura, maka lengkap sudah posisi Ridwan Kamil With Enemy.

Formasi ini akan dengan mudah mengingatkan publik Jabar dengan partai pendukung Ahok di Jakarta. Jadi siapapun lawan Ridwan Kamil akan dengan mudah mengkapitalisasi memori pemilih di Jabar yang mempunyai sentimen negatif yang kuat terhadap Ahok. Bagi PDIP,  Jabar adalah medan yang berat. Luka mereka masih menganga akibat kekalahan dalam Pilkada 2013.

Luka PDIP makin menganga lebar setelah mereka kalah di dua pilkada penting, Banten dan Jakarta. Ibarat pasukan tempur, mereka adalah pasukan yang kalah dalam dua medan pertempuran besar. Pasukan yang kalah dan terluka itu masih harus berjuang keras mengatasi luka parah, baik secara fisik maupun psikis. Belum lagi bila bicara soal amunisi dan logistik untuk pertempuran. Semuanya terkuras, dan yang cukup menyedihkan pasukan inilah yang paling berpeluang besar direkrut oleh Ridwan Kamil.

Agak sulit membayangkan dan bisa dikatakan sebagai hil yang mustahil, Gerindra dan PKS akan mendukung RK. Gerindra sudah pasti sangat membenci syarat ketiga, berupa dukungan kepada Jokowi dalam pencapresan 2019. Bagaimanapun kekalahan pada Pilpres 2014, tidak membuat Prabowo surut.

Sudah menjadi rahasia umum, mentalitasnya sebagai pasukan komando menjadikan dia ulet, tahan banting dan tak kenal menyerah. Mental pasukan komando yang memilih “lebih baik mati dalam pertempuran, daripada gagal dalam menjalankan tugas,” pasti sangat dijiwai oleh Prabowo. Dia pasti menginginkan memenangkan kembali berbagai pertempuran lain (Pilkada serentak 2018).

Baca juga :  Diminta 'Turun Gunung' Pilkada 2018 Relawan Pedukung Buwas Sudah Terbentuk di Jateng

Sebab, Prabowo dalam hal ini, hanya kalah dalam satu medan pertempuran yaitu di Pilpres (2014) dan sisannya menang dalam medan tempur lain, salah satunya di Pilkada DKI Jakarta (2017). Selain itu, PKS juga hampir dipastikan tidak akan mendukung Ridwan Kamil. Hal ini disebabkan karena adanya hubungan yang kurang harmonis antara PKS dengan sikap RK yang “tidak tahu berterima kasih” akan menjadi ganjalan besar.

Lagi pula salah satu syarat yang diajukan Nasdem adalah menjadikan Jabar sebagai Benteng Pancasila. Syarat apa ini? Apakah selama Kang Aher menjadi Gubernur, Jawa Barat menjadi daerah yang anti Pancasila?. Anti NKRI? Tidak Bhineka? Atau Jabar menjadi daerah yang memberlakukan syariat Islam?. Semua itu mengingatkan PKS dan umat Islam pada hantu yang diciptakan oleh para Ahoker untuk menstigma dan sekaligus menakut-nakuti pemilih. Bagi RK Pilgub Jawa Barat akan menjadi medan pertempuran berat.

Sebab Jabar bukanlah Bandung. Dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia dan wilayah yang juga luas. Jabar adalah lautan, samudera dengan gelombang yang ganas. PKS-Gerindra kapal yang lengkap dengan awak plus logistiknya yang mengantarkannya menjadi orang nomor satu di Bandung, ditinggalkan begitu saja. (Ed. Redaksi Kicaunews.com/Haji Merah).

Hersubeno Arief
Konsultan Media dan Politik
Tulisan Ini diambil dari salah satu Group WhatApps, bernama “Diskusi Tanpa Batas”, dan Tulisan ini juga telah diedit oleh Redaksi Kicaunews.com

 

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru