oleh

Mantan Deputi Basarnas, Apresiasi Penegakan Hukum di TNGGP

JAKARTA, KICAUNEWS.COM – Mantan Deputi Operasi Basarnas Mayjen (Purn) Tatang Zaenudin menilai, masyarakat umumnya baru menyadari pentingnya menjaga lingkungan ketika telah terjadi kerusakan yang berdampak pada kerugian materi dan nonmateri. Sementara proses-proses yang terjadi di dalamnya sering dilupakan.

Artinya bahwa perilaku masyarakat yang selama ini menentukan kualitas lingkungan tidak banyak diperhatikan. Padahal kerusakan lingkungan mulai dari perilaku penduduk yang menyebabkan perubahan penggunaan lahan serta penurunan kualitas udara, air, dan lahan hingga tingkat kepedulian masyarakat terhadap lingkungan kini masih berkurang.

“Jadi apa yang dilakukan Taman Balai Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dalam menindak perusak hutan sydah benar dan secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa masyarakat Indonesia belum memiliki kepedulian yang baik terhadap lingkungan. Hal ini ditunjukkan oleh nilai indeks perilaku peduli lingkungan yang relatif masih rendah dan terbukti dengan merusak hutan demi mendapatkam keuntungan dengan dalih pencarian cacing,” ungkapnya kepada wartawan di Kediamannya wilayah Cijantung, Jakarta Timur, Jumat (14/07/2017)

Menurutnya, sebagai warga negara indonesia, tersangka pencuri cacing harusnya patut bersyukur. Karena Letak geografis dan bentuk negara kepulauan nyatanya memberi keberuntungan tersendiri bagi bangsa ini. Keanekaragaman hayati dan keutuhan habitat alami merupakan salah satu kekayaan Indonesia.

“Makanya, untuk mendapat keuntungan, kawasan hutan beserta ekosistem di dalamnya telah menarik perhatian berbagai pihak untuk memiliki kawasan tersebut demi kepentingan pribadinya. Penduduk sekitar yang telah hidup bersama alam bertahun-tahun harusnya merawatnya dengan baik dan sungguh sungguh. Namun tak bisa dipungkiri bahwa kejadian yang terjado di TNGGP adalah bukti, karena masih ada pihak yang sekadar mengincar potensi ekonominya saja,” ujar Tatang.

Menurutnya, dalam era serba modern ini, aspek ekonomi seolah mendapat ruang khusus yang porsinya cukup besar dalam kehidupan masyarakat. Lebih-lebih ketika ekonomi dianggap sebagai daya gerak dalam proses pembangunan. Jika demikian, bukan tidak mungkin aksi perusakan, ekspoitasi, perburuan dan penebangan liar di kawasan hutan terjadi semata-mata didasari alasan ekonomi.

Baca juga :  Kasus Reklamasi, ProDEM: Ahok Layak Untuk Tersangka

“Oleh karena itu, kawasan seperti ini perlu dilindungi. Kondisi tersebut memunculkan kesadaran mengenai pengambilan sikap yang tepat terhadap lingkungan. Istilah konservasi muncul sebagai sikap untuk diterapkan terhadap lingkungan yang rentan kerusakan tersebut,” ujarnya.

Tatang mengungkapkan bahwa konservasi adalah perlindungan dengan nuansa yang lebih dinamis. Menurutnya, bahwa prinsip konservasi ini meliputi dua sisi. Untuk itu perlu adanya pemeliharaan sumber daya tersebut demi keberlanjutan hidup (prinsip ekologis) dan pemanfaatannya.

“Sayangnya, kebijakan ini seolah memberikan aksi perlindungan statis saja. Konservasi tidak sekadar memberikan perlindungan terhadap alam namun juga pemeliharaan dan pengelolaan. Dengan cara yang baik kebutuhan manusia maupun kelestarian alam tetap terjaga.l,” bebernya.

Kebijakan ini menunjukkan perhatian pemerintah yang serius terhadap lingkungan, bukan sekadar berpusat pada kepentingan manusia saja. Dalam upaya melakukan konservasi alam, munculnya taman nasional menjadi salah satu produk perlindungan lingkungan.

Tatang mengatakan, terbitnya UU No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Harusnya berbagai daerah dapat mempermudah untuk masyarakat dalam menerapkan sikap dan pengelolaan yang tepat. Termasuk juga dalam hal memanfaatkan keberadaan kawasan tersebut dengan baik dan bijaksana.

“Jika konservasi dilakukan sedemikian rupa, namun masyarakat kurang sadar dan tidak partisipatif dalam pemanfaatan maka segala upaya ini sama saja nihil nilainya. Keberadaan dari kawasan konservasi akan lebih terasa ketika masyarkat memahami tujuan konservasi,” pungkasnya. (Rls/Group Kicau).

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru