oleh

Inilah Revolusi Mentalmu Jokowi ?

OPINI, KICAUNEWS.COM – Di kampung halamanku, anak-anak sejak usia SD sudah mulai bekerja, membantu orangtua. Sepulang sekolah, kebanyakan mereka bergegas ke kebun. Waktu beristirahat siang, nyaris tak ada. Waktu bermain rata-rata sore hari, usai pulang dari kebun. Tapi ada yang baru pulang malam hari (menyesuaikan waktu orangtuanya).

Waktu belajar ??? Sudah bisa dipastikan sangat minim. Seharian full dengan aktifitas, tentunya sangat capek dan lelah. Maka, malam jadi waktu yang pas untuk tidur pulas. Itu yang mungkin jdi salah satu penyebab, mengapa kita kadang terbelakang untuk pencapaian hasil belajar sesuai standar nasional pendidikan (SNP) yang berlaku.

Tapi, harusnya kebijakan desentralisasi pendidikan, mampu menjadi jawaban. Perlu ada sinergi antara teks (kebijakan nasional) dengan konteks sosio kultural masyarakat setempat. Jangan semuanya dipukul rata, !. Dan anehnya kebijakan pendidikan akhir-akhir kurang pro masyarakat, terutama di pedesaan. Walau kebijakan itu di juknis ada penekanan, bahwa “tidak wajib”.

Tapi lagi-lagi ini soal kepentingan politik. Pemda siapa yang tak ingin dianggap ‘berhasil’??? Sudah ada buktinya kok, lihat saja UNBK kemarin! Ada daerah yang nyatanya belum siap, tapi melaporkan diri bahwa sudah siap. Walhasil, siswa/i jadi korban. Orangtua wali sibuk iuran, pihak sekolah mencari genset, ada yang numpang ujian di sekolah lain. Memalukan!!!!

Kini, lihat kebijakan full day school (FDS) , juga kebijakan 5 hari sekolah yang sangat ‘prematur’. Ya, jelas prematur!!! Kalau tidak prematur, pasti tak akan goyah ketika diterpa badai kritik. Buktinya FDS makin tidak jelas, Permendikbud Nomor 23 thn 2017 yang mengatur terkait 5 hari sekolah dicabut setelah menuai kontroversi dari berbagai kalangan.

Rupanya kebijakan ini “asal-asalan”, tidak melalui proses analisis yang mendalam dan kompherensif, sehingga tumbang ketika dikritik. Dan patutlah kita bersyukur kepada para aktivis dan berbagai pihak yang telah urun kritik atas kebijakan yang “asal-asalan” ini.

Baca juga :  Berikan Kuliah Umum Kepada Kader Menwa, Wakil Ketua BPK Beberkan Arti Revolusi Mental

Karena mereka telah menyelamatkan generasi-generasi bangsa dari orang-orang yang haus ‘popularitas’. “Ganti menteri ganti kebijakan, ganti menteri ganti program”. Itu adagium yang mungkin tepat untuk realitas pendidikan kita. Kalau tidak melakukan terobosan dinilai ‘mandul’ , maka cara terbaik adalah melakukan terobosan, walau terobosan itu tak memiliki dasar analisis yang kuat dan mendalam.

Memang presiden sudah membatalkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 yang mengatur terkait 5 hari sekolah tersebut, tapi sebenarnya itu bukan untuk dihapuskan, tapi mau diperkuat dengan Perpres. Agar pemda lebih manut tuk implementasi kebijakan tersebut??? Dan namanya dipercantik jadi PPK (program penguatan karakter). Ya, bagian dari revolusi mental katanya, hehe.

Justru itu yg perlu kita kritisi!
Masing-masing daerah punya konteks geografis, sosio kultural, sosio ekonomi dll yg berlainan, jadi jangan disamaratakan, ! Kalau anak-anak di kota butuh waktu sekolah 5 hari, menyesuaikan waktu kerja orang tuanya, agar orang tua tidak risau terhadap anak-anak, dan agar mereka tidak melulu menyewa pembantu untuk menjaga anak-anak mereka sepulang dari sekolah, maka itu (hanyalah) aspirasi orangtua di kota, yang mungkin golongan menengah ke atas.

Sedangkan di desa tidak! Orangtua di desa mengharapkan anak-anaknya cepat pulang dari sekolah, biar bisa membantu mereka di kebun. Mereka juga ingin anaknya cepat pulang, karena alasan faktor keamanan juga transportasi yang terbatas. Tapi mengapa itu jadi pertimbangan kalian pemangku kebijakan??? Ok.

Kalian boleh mengurai di dalam produk hukum itu yang menyatakan bahwa kebijakan ini “tidak wajib” diterapkan di daerah yang belum siap baik dari SDM (pendidik), sarana prasarana, dan transportasi. Dan itu lengkap dengan petunjuk teknis (juknis)-nya, tetapi apakah kalian menjamin, Pemda memahami dan menerapkan itu? Banyak fakta yang telah membuka mata kita bersama, bahwa Pemda bersama SKPD terkait banyak yang bermental ABS (asal bapak senang).

Baca juga :  Bang Japar Wilayah Jakarta Utara Gelar Rakerwil I Komando

Ada baiknya tim dari pusat, tepatnya dari Kemendikbud turun ke daerah memastikan langsung, crosscheck kebenarannya. ! Jangan hanya dengar bualan Pemda! Dan itu sangat perlu! Turunlah langsung ke masyarakat, jangan berhenti pada kantor daerah, karena mereka pasti menjawab apa yang bapak mau saja, biar mereka dianggap baik dan berhasil.

Turunlah langsung berdialog dengan beberapa anak-anak yang ‘ polos’ di masyarakat, jangan berhenti di sekolah, karena mungkin Pemda sudah mengintruksikan pihak sekolah untuk menjawab sesuai apa yang kalian inginkan,!. Jika itu terwujud, satu pesan saya, jangan membawa kado/surprise berupa sepeda! Karena anak-anak di desa, terutama wilayah saya kurang membutuhkan itu.

Selain karena medan yang tak mendukung, juga itu tidak terlalu dibutuhkan. Mereka lebih membutuhkan parang dan cangkul untuk menjalankan program penguatan karakter (PPK) yang lebih bernilai ekonomis. Mereka melakukan revolusi mental yang lebih berfaedah di kebun. Bukan revolusi mental yang nihil kebermanfaatan, sebagaimana yang lazim diprtontonkan.

Satu langkah lebih maju dari anak-anak di kota, iya kan??? Dan itu sejak dahulu kala kita mempraktekannya, bukan baru saat Nawacita bapak presiden Jokowi didengungkan! Jauh sebelum terbentuknya Kabinet Kerja, jauh sebelum marakanya jargon #RevolusiMental, kita sudah mempraktekan secara nyata dalam keseharian kita di desa.

Justru saat ini makin pudar dan terancam hilang, jika pemerintah pusat giat memproduksi kebijakan yang kurang relevan dengan konteks kehidupan kita di pedesaan. Malah kita orang desa makin hilang jati diri kita, dengan hadirnya program-program yang kulitnya berlabel #RevolusiMental, isinya #EvolusiMental. Peradaban kita mundur satu langkah! Inikah revolusi menatalmu, bapak Jokowi????

Yohanes Bosco D. R. Mawar
Penulis Adalah, Mahasiswa Program Studi Kebijakan Pendidikan UNY (Haji Merah)

 

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru