oleh

Banyak Pejabat Terjebak, Dibalik Rasa Perihatin si Pencuri Cacing

JAKARTA, KICAUNEWS.COM – Perburuan cacing sonari di area Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) yang dilakukan oleh puluhan warga sekitar kawasan taman nasional diduga terorganisir, sehingga pencariannya kian masif dan mengakibatkan kerusakan hutan taman nasional.

Pencurian cacing yang berujung ancaman hukuman 10 tahun penjara bagi tersangka Didin, 48 tahun, warga Kampung Rahan RT 006 RW 08, Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur pada 24 Maret lalu.

Ternyata telah mematik jebakan para pejabat daerah yang ikut rasa prihatin dan mengagetkan banyak pihak. Karena beranggapan, cacing yang diambil dari kawasan konservasi tersebut merupakan hewan tak berharga.

Namun Cacing yang dikenal dengan Cacing Sonari ini ternyata memiliki banyak manfaat bagi manusia. Sehingga cacing ini banyak dicari negara-negara seperti Cina dan Jepang, bahkan harganya bisa mencapsi 5 juta rupiah per kilo gram.

Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Balai Besar TNGGP, Adison mengatakan, cacing yang banyak diburu di TNGGP merupakan cacing yang berharga. Ia memiliki banyak manfaat bagi manusia, seperti untuk obat tipes, kosmetik, untuk vitalitas, antibiotik, dan sebagainya. Bila dijual harganya mencapai 5 Juta per kilo.

“Komoditi pasarnya untuk satu ikat atau isi 10 cacing mencapai 50 ribu rupiah. Bila dalam kondisi kering, harganya mencapai  5 Juta rupiah perkilo,” kata Adison kepada Wartawan di Kantor TNGP, Cipanas, Jawa Barat.

Katena menurutnya, negara yang paling banyak mencari Cacing ini adalah Jepang dan Cina. Kalau Jepang biasanya dimanfaatkan untuk kosmetik dan obat. Sedangkan Cina digunakan untuk pakan tringgiling.

“Jadi di dua negara tersebut banyak permintaan ekspor Cacing Sonari,” kata Adison. Ia menjelaskan, Cacing Sonari merupakan cacing raksasa, besarnya mencapai ukuran jempol manusia dan memiliki panjang mencapai 40 CM.

Baca juga :  Wujudkan Kepedulian, TNGGP Buka Klinik 24 Jam

Cacing ini juga bisa bersuara seperti jangkrik. Bila kecil hidup di atas pohon dan besar di bawah tanah. Selain itu, kata Adison, Cacing Sonari juga hanya hidup di ketinggian 1500 Mdpl. Bila dikembangkan di daerah lain belum tentu bisa.

“Jadi dalam kasus pencurian Cacing Sonari di TNGGP, perburuan dilakukan di ketinggian 2500 Mdpl,” jelasnya. Namun, kata Adison, dalam kasus pencurian Cacing Sonari di TNGGP, para pencuri tidak hanya mengambil cacingnya saja, namun juga merusak pohon di sekitarnya.

Hal itu mereka lakukan agar mudah mengambil cacing di dalam tanah. “Kerusakan akibat perburuan Cacing Sonari terjadi di lima wilayah. Satu tempat mencapai dua hingga lima hektar,” kata Adison.

Bagi Adison perburuan Cacing di TNGGP merupakan persoalan serius. Akibat yang ditimbulkan bukan hanya hilangnya hewan berharga di TNGGP, namun juga kerusakan lingkungan, bahkan banjir di kawasan Bogor dan Jakarta.

Adison mengatakan, pada awalnya pencarian cacing sonari ini hanya dilakukan oleh beberapa orang warga yang tinggal sekitar kawasan taman nasional dan hanya untuk kebutuhan obat dan tambahan ekonomi.

“Awalnya warga hanya mencari beberapa cacing sonari ke gunung untuk obat dan dijual ke pengunjung karena satu ekor cacing sonari ukuran panjang 5 sentimeter nilainya mencapai Rp 50 ribu,” kata Adison.

Akan tetapi, kata Adison, dalam kurun kurang satu tahun terakhir tepatnya pada September 2016 lalu, jumlah pencari cacing semakin banyak bahkan mencapai 60 orang dan dibagi menjadi beberapa kelompok. “Setiap kelompoknya terdiri dari 10 bahkan 20 orang, untuk berburu cacing,” kata dia.

Adison mengatakan, pihaknya sempat kesulitan untuk mengungkap perburuan cacing yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tersebut, pasalnya setiap kali petugas melakukan operasi dan razia ke atas puncak gunung pasti tidak pernah menemukan pemburu cacing.

Baca juga :  Akibat Perburuan Cacing Sonari, Kawasan Gunung Gede Rusak Parah

“Setiap ada razia selalu bocor informasinya, sehingga petugas kami tidak menangkap pemburu cacing dan hanya menemukan sisa- sisa kerusakan hutan akibat ditebang,” ungkapnya.

Namun, setelah melakukan penyidikan, akhirnya petugas menangkap Didin, 48 tahun, warga Kampung Rahan RT 006 RW 08, Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur pada 24 Maret lalu.

Ia diduga menjadi pengepul dan orang yang mendapat pesanan dari salah seorang pembeli dan pemilik modal. “Wajar aja setiap razia selalu bocor, ternyata pengepul sekaligus yang memberi perintah mencari cacing di puncak, adalah warga biasa berinteraksi dengan kami dan tinggal di sekitar kantor,” ujar Adison menyesali.

Berdasarkan informasi, setiap warga yang naik ke puncak Pangrango untuk berburu cacing mendapat upah awal sebesar Rp 1 juta, yang diberikan sebelum berangkat mencari cacing selama 10 hari di hutan, sisa upahnya akan diberikan setelah mendapatkan hasil cacing buruannya.

“Besaran sisa upah akan diberikan sesuai dengan banyaknya cacing yang diperoleh,” kata Adison.

Sebelum dijual cacing-cacing tersebut harus diasap supaya kering, setelah itu baru dijual kembali pada pemesan dengan harga Rp 5 sampai 6 juta per kilogram.

“Cacing sonari saat ini banyak diburu karena banyak fungsi dan khasiatnya, biasanya digunakan untuk obat, bahan kosmetik, bahkan ada juga yang diekspor ke Tiongkok untuk makanan trenggiling,” kata dia.

Pelaku saat ini sudah diserahkan ke polisi dan diancam dengan pasal 75 ayat (12) juncto Pasal 50 Ayat (3) huruf e dan/atau huruf m Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1999 tentang Kehutanan oleh Kementerian Lingkungan Hidup. (Den/Group Kicau).

Facebook Comments
Print Friendly, PDF & Email

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Berita Terbaru