oleh

Kalam Mutiara Al-Habib Sholeh Al-Hamid (Tanggul)

JAKARTA, KICAUNEWS.COM — Hiduplah engkau seberapa pun lamanya, namun engkau pasti akan mati.

Cintailah siapapun dan apapun yang engkau sukai, namun engkau pasti akan berpisah dengannya.

Berbuatlah semaumu,
Namun engkau pasti akan menerima balasannya.

Barang siapa yang ridho dengan rizqi yang Allah ta’ala telah berikan, maka ia akan tenang didunia dan akhirat.

Barang siapa dapat menundukan nafsu sahwatnya, maka ia menjadi orang yang mulia di dunia dan akhirat.

Barangsiapa merasa cukup, sehingga tidak mengharap pemberian orang lain & dapat memelihara lisannya, maka dia akan selamat di dunia dan akhirat.

Seseorang akan naik derajatnya karena hasil perbuatannya bukan karena ucapan..

Sesungguhnya air hujanlah yang menumbuhkan bunga, bukan suara petirnya yang keras..

H-4 (09 Juli 2017) Menuju Haul Al Quthb Al Arifbillah Al Habib Sholeh Bin Muhsin Alhamid Tanggul
# Allahumma Sholi Ala Sayyidina Muhammad

 

Sekilas Tentang KISAH HABIB SOLEH BIN MUHSIN AL-HAMID ( Habib Sholeh Tanggul )

Sayyidina Al-Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid Tanggul

Lahir: Wadi ‘Amd, Hadramaut, 1313 H / 1895 M
Wafat: Tanggul, Jember, 1396 H / 1976 M

Nama beliau masih sangat melekat kuat di hati kaum muslimin Nusantara. Sayyidina Al-Habib Sholeh Tanggul, demikian sapaan populer sang Habib.

Masyarakat luas mengenalnya sebagai sosok ISTIMEWA yang bilamana beliau berdoa, Allah akan langsung mengkabulkannya. Dengan kata lain beliau seorang yang maqbul doanya.

Suatu saat ketika perihal kemaqbulan doa-doa beliau itu dipertanyakan kepada beliau, dan beliau menjawab: “Bagaimana tidak? Sedangkan aku belum pernah melakukan hal yang membuat Allah murka”.

Selain itu setiap kalimat doa yang meluncur dari lisan beliau memang didasari rasa keikhlasan yang penuh, yang tak bercampur sama sekali dengan kepentingan duniawi. Wajarlah bila tiap doa yang beliau panjatkan amat cepat dikabulkan Allah SWT.

Baca juga :  Nenek Tewas Mengenaskan Terjatuh dari Tebing Setinggi 3 meter di Jatikramat

Sewaktu kecil sebagaimana teman-teman sebaya beliau, beliau pernah menggembala kambing.Beliau mulai mempelajari Al-Qur’an dari seorang guru, Syaikh Sa’id Ba Mudhij di Wadi ‘Amd, seorang ulama yang dikenal akan keshalihannya karena lisannya tiada henti berdzikir kepada Allah.

Sedangkan ilmu fiqih dan tasawwuf beliau pelajari dari ayah beliau sendiri Sayyidina Al-Habib Muhsin bin Ahmad Al-Hamid.

Saat berusia 21 tahun beliau meninggalkan Hadramaut dan hijrahke Indonesia, beliau ditemani Syaikh Fadhli Shalih Salim bin Ahmad Al-Askari.

Sesampainya di Indonesia beliau singgah beberapa hari di Jakarta, kemudian tinggal di Lumajang. Setelah menetap beberapa waktu lamanya di Lumajang beliau pindah ke Tanggul Jember dan menetap disana hingga akhir hayatnya.

Suatu ketika datanglah ilham Rabbaniyyah kepadanya untuk beruzlah. Setelah berjalan lebih dari tiga tahun datanglah Guru beliau Sayyidina Al-Imam Al-Qutbh Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad As-Segaf meminta beliau keluar dari khalwat.

Diantara nasihat yang kerap disampaikan beliau: Hendaklah setiap kalian menjaga shalat lima waktu Jangan pernah tinggalkan shalat Subuh berjama’ah Muliakan dan berbuat baiklahkepada orang tua Jadilah kamu sekalian sebagai rahmat bagi seluruh alam Berbuat baiklah, jangan pilih kasih kepada semua orang.

Facebook Comments
Print Friendly, PDF & Email

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Berita Terbaru