oleh

Halal Bi Halal Keluarga Besar UIA

JAKARTA, KICAUNEWS.COM — (04/07) Selasa,10 Syawal 1438 H, Kampus UIA (Universitas Islam.Asyafiiyah) menggelar acara Halal Bi Halal.

Acara di gelar di ruang Aula Rektorat, di mulai pukul 09.00 , suasana di buat dengan penuh kekeluargaan, keakraban.

Rektor Universitas Islam Asyafiiyah (UIA) Dr Masduki Ahmad mengatakan, Acara Halal Bi Halal ini di gelar tiap tahun nya untuk mengakrabkan sesama keluarga besar Universitas Islam Asyafiiyah, lebih lanjut Prof Dailami Firdaus Selaku Ketua YAPTA dan Anggota DPD RI (Senator DKI) acara Halal Bi Halal ini,semenjak Almh Ibu Prof Tuty Alawiyah,AS sudah di gelar karena sudah menjadi tradisi dan harus di lestarikan di Kampus UIA ini.

Kampus UIA berlokasi di Jl Jatiwaringin Raya ,Banyak yang hadir dalam.acara halal bi halal ini, Dosen,Mahasiswa,Staf, BKMT semua berbaur penuh keakraban dan kekeluargaan.Acara di akhiri dengan Makan Prasmanan.

Semoga di Tahun mendatang kita bisa menggelar Acara Halal Bi Halal ini lebih semarak Aamiin, begitu Kata Bang Dailami.

Sekilas tentang Halal Bi Halal

halal bihalal menurut tinjauan hukum menjadikan sikap kita yang tadinya haram atau yang tadinya berdosa menjadi halal atau tidak berdosa lagi. Ini tentu baru tercapai apabila persyaratan lain yang ditetapkan oleh hukum terpenuhi oleh pelaku halal bihalal, seperti secara lapang dada saling maaf-memaafkan.

Masih dalam tinjauan hukum. Menurut para pakar hukum, istilah halal mencakup pula apa yang dinamakan makruh. Di sini timbul pertanyaan, “Apakah yang dimaksud dengan istilah halal bihalal menurut tinjauan hukum itu adalah adanya hubungan yang halal, walaupun di dalamnya terdapat sesuatu yang makruh?

Secara terminologis, kata makruh berarti sesuatu yang tidak diinginkan. Dalam bahasa hukum, makruh adalah suatu perbuatan yang tidak dianjurkan oleh agama, walaupun jika dilakukan tidak mengakibatkan dosa, dan dengan meninggalkan perbuatan itu, pelaku akan mendapatkan ganjaran atau pahala. Atas dasar pertimbangan terakhir ini, Quraish Shihab tidak cenderung memahami kata halal dalam istilah khas Indonesia itu (halal bihalal), dengan pengertian atau tinjauan hukum. Sebab, pengertian hukum tidak mendukung terciptanya hubungan harmonis antarsesama.

Baca juga :  Kapolsek Tirtajaya Bersama Muspika Ajak Warga Mematuhi Anjuran Pemerintah Dengan Protokol Kesehatan

Kedua, tinjauan bahasa atau linguistik. Kata halal dari segi bahasa terambil dari kata hallaatau halala
yang mempunyai berbaga bentuk dan makna sesuai rangkaian kalimatnya. Makna-makna tersebut antara lain,menyelesaikan problem atau kesulitan atau meluruskan benang kusut atau mencairkan yang membeku atau melepaskan ikatan yang membelenggu.

Dengan demikian, jika kita memahami kata halal bihalal dari tinjauan kebahasaan ini, seorang akan memahami tujuan menyambung apa-apa yang tadinya putus menjadi tersambung kembali. Hal ini dimungkinkan jika para pelaku menginginkan halal bihalal sebagai instrumen silaturrahim untuk saling maaf-memaafkan sehingga seseorang menemukan hakikat Idul Fitri.

Ketiga, tinjauan Qur’ani. Halal yang dituntut adalah halal yang thayyib, yang baik lagi menyenangkan. Dengan kata lain, Al-Qur’an menuntut agar setiap aktivitas yang dilakukan oleh setiap Muslim harus merupakan sesuatu yang baik dan menyenangkan bagi semua pihak. Inilah yang menjadi sebab mengapa Al-Qur’an tidak hanya menuntut seseorang untuk memaafkan orang lain, tetapi juga lebih dari itu yakni berbuat baik terhadap orang yang pernah melakukan kesalahan kepadanya.

Dari semua penjelasan di atas dapat ditarik kesan bahwa halal bihalal menuntut pelaku yang terlibat di dalamnya agar menyambungkan hubungan yang putus, mewujudkan keharmonisan dari sebuah konflik, serta berbuat baik secara berkelanjutan. Kesan yang berupaya diejawantahkan Kiai Wahab Chasbullah di atas lebih dari sekadar saling memaafkan, tetapi mampu menciptakan kondisi di mana persatuan di antara anak bangsa tercipta untuk peneguhan negara. Sebab itu, halal bihalal lebih dari sekadar ritus keagamaan, tetapi juga kemanusiaan, kebangsaan, dan tradisi yang positif. Wallahu ‘alam bisshowab.

( A Widhy )

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru