oleh

Prestasi Indonesia Memburuk, Masihkan Kita Bangga Jadi Bangsa Indonesia ?

JAKARTA, KICAUNEWS.COM – Belakangan ini bergolak sebuah pertanyaan kritis di masyarakat, masih berfungsikah imaji kolektif kita sebagai bangsa? Pertanyaan ini mengemuka karena berturut-turut prestasi buruk kita raih di dunia. Pemenang lomba korupsi, bangsa penghasil teroris, miskin, lamban dalam penanganan bencana alam serta negara tidak aman untuk investasi, dan lain-lain.

Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Starategi Bangsa, Abdul Ghopur, Selasa, (13/06), dalam ketetangan tertulisnya, sebagaimana diterima redaksi Kicau Group.

Dalam keterangan tertulisnya, Ghopur menuturkan, dengan sederet prestasi terburuk tersebut, layakkah kita berbangga menjadi bangsa Indonesia? Tentu saja jawabannya sangat tergantung dari “posisi apa” yang sedang kita jalani sekarang.

“Jika posisi kita adalah TKI atau pengangguran, maka jelas, Indonesia tidaklah berarti apa-apa,” kata Ghopur dalam diskusi ramadhan yang bertajuk, “Rejuvenasi Pancasila“ yang bertempat di PBNU Jakarta.

Selain itu Ghopur menilai, sebaliknya jika posisi kita adalah koruptor, pengusaha hitam, teroris, pejabat pemerintah, dan para “penjual ayat-penjual agama,” maka jelas, Indonesia adalah negeri sorga, kata Intelektual NU.

Pada saat yang bersamaan, Indonesia juga masih mengalami persoalan mendasar, yakni merosotnya nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme dan semangat kemajemukan sebagai bangsa yang multikultural.

Ghopur menilai, Masih saja ada upaya pengingkaran terhadap pluralitas bangsa Indonesia yang setiap saat dapat saja muncul ke permukaan. Sebagai bangsa yang multi etnis, ras, suku, budaya, bahasa dan agama, secara jujur, kita masih belum bisa menghilangkan atau paling tidak meminimalkan apa yang disebut dengan barrier of psikology (batas psikologis/prasangka) terhadap sesama anak bangsa.

“Itulah yang kerap memunculkan konflik bernuansa SARA di negeri ini baik secara vertikal maupun horizontal”,  katanya

Ini dapat dibuktikan dengan makin maraknya tawuran antar kampung dan pelajar di berbagai daerah. Tawuran yang terjadi kerap kali mengatasnamakan komunitas, nama besar kampung atau sekolah, ras atau etnis, calon Kepala Daerah bahkan atas nama agama dan Tuhan. Kata, Ghopur. (Rls. Group Kicau).

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru