oleh

Soal Gereja Membisu, Umat Solidaritas Peduli Umat Katolik Pribumi Papua Suarakan Uskup

“Suka Duka, Kecemasan, Harapan dan Kegembiraan Umat Tuhan di Tanah Papua Haruslah Menjadi Suka Duka, Kecemasan, Harapan dan Kegembiraan Para Uskup di Tanah Papua”

PAPUA, KICAUNEWS.COM — Gereja Katolik ada dan hadir di tanah Papua karena Misi Keselamatan dari Allah kepada Segala bangsa termasuk bangsa Papua, rumpun Melanesia. Gereja Katolik hadir di tanah Papua karena adanya orang Papua.

Melalui dan oleh Gereja, Misi Keselamatan Allah diwartakan di atas tanah Papua demi dan untuk keselamatan bagi yang tertindas, terhina, teraniaya dan yang dibunuh oleh karena memperjuangkan nilai-nilai keadilan, kebenaran dan Perdamaian.

Kehadiran Gereja Katolik di tanah Papua hendak memperjuangkan nilai-nilai Keadilan, Kebenaran dan Perdamaian di atas tanah Papua. Namun selama ini, Gereja hanya diam ketika menyaksikan pembantaian umat Allah di atas Tanah Papua.

Gereja membisu ketika melihat nilai-nilai Keadilan, Kebenaran dan Perdamaian di atas tanah Papua diinjak-injak. Dimanakah suara kenabian gereja? Dimanakah para Gembala (uskup) ketika terjadi pembantaian? Para Gembala Umat Katolik di tanah Papua haruslah menyuarakan suara kenabiaannya.

Para Gembala wajib menjadikan “Duka dan Kecemasan, harapan dan kegembiraan Umat Tuhan di tanah Papua” sebagai “Duka dan Kecemasan, harapan dan kegembiraan Gembala Umat”. Gembala janganlah meninggalkan domba-dombanya ketika mereka disergap oleh para serigala.

Selama ini Umat Tuhan di tanah Papua tersingkir, termarginalisasi dan dibunuh, tetapi belum ada suara Kenabian dari para Gembala Umat Katolik. Maka Kami sebagai Umat Katolik Pribumi yang prihatin terhadap Nasib Gereja dan Umat Pribumi Papua, menyatakan dengan tegas bahwa:

  1. Para Uskup di tanah Papua Wajib menyuarakan suara Kenabian; demi penegakan nilai-nilai Keadilan, Kebenaran dan Perdamaian. Karena selama ini kami belum mendengar suara kenabian dari gembala kami.   
  2. Para Uskup di tanah Papua wajib memperjuangkan Penghapusan STIGMATISASI terhadap Orang Asli Papua. Karena dengan adanya stigma; Separatis, Makar, Pengacau, Kriminalis dan berbagai stigma lainnya menjustifikasi penangkapan, penembakkan dan bahkan pembunuhan terhadap Orang Asli Papua.  
  3. Gereja Katolik di tanah Papua sudah memasuki 150 tahun umurnya. Banyak putra-putra Papua telah menjadi Imam di tanah Papua. Maka kami meminta kepda para uskup di Papua untuk usulkan ke Roma agar seorang Pastor Papua diangkat menjadi Uskup.Karena kami yakin, putra Papua juga turut merasakan suka duka, harapan, kecemasan dan kegembiraan  umat Tuhan di tanah Papua akan mengumandangkan suara kenabiaannya demi keselamatan Umatnya di tanah Papua.
  4. Selama ini Gereja-Gereja Pasifik (Konferensi Para Uskup Pasifik) telah berbicara dan mengangkat segala persoalan Kemanusiaan di tanah Papua. Tetapi uskup-uskup di tanah Papua dan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) tidak pernah menyuarakan tentang segala persoalan kemanusiaan (Pelanggaran HAM) di atas tanah Papua. Oleh karena itu sudah layak dan sepantasnya, Gereja Katolik (Para Uskup) di tanah Papua membangun kerja sama dengan Gereja Katolik di wilayah Pasifik untuk menyuarakan persoalan kemanusiaan di tanah Papua. Karena wilayah pasifik dan Melanesia memiliki kesamaan dengan Papua. Karena itu harus ada kerja sama dalam bidang pastoral, antara Gereja Katolik di tanah Papua dan Gereja Katolik di Pasifik.

TTD Solidaritas Peduli Umat Katolik Pribumi Papua

Christianus Dogopia (Koordinator) 

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru