oleh

Kelompok Cipayung Bicara Pancasila, Apa Katanya ? 

JAKARTA, KICAUNEWS.COM – Diskusi Publik yang digelar Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI), dengan tajuk “Orang Muda Bicara Pancasila”, mendapatkan respon positip dari para mantan ketua umum kelompok Cipayung Plus.

Acara yang berlangsung di Yayasan Komunikasi Indonesia, Jl. Matraman No 10 ini, dihadiri oleh para mantan ketua umum organisasi Cipayung Plus dari lintas generasi.

Ketua umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia, Sahat Sinurat menuturkan, dilaksanakannya diskusi publik ini sebagai langkah GMKI untuk mengingatkan kaum muda bahwa nilai-nilai Pancasila harus dijalankan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam diskusi tersebut, Sahat mengajak semua pemuda untuk bersatu dengan menghilangkan sekat-sekat perbedaan. “Oleh karena itu para pemuda harus bersatu dan tidak boleh tersekat-sekat dengan tembok perbedaan.” kata Sahat.

Selain itu, Sahat juga menambahkan, Pancasila merupakan ideologi negara yang bisa menjawab segala persoalan bangsa Indonesia, tidak hanya masalah Intoleransi, tapi juga masalah ketimpangan pembangunan, korupsi dan disintegrasi bangsa.

“Pancasila tidak hanya menjadi jawaban atas persoalan intoleransi, namun juga berbagai persoalan, seperti ketimpangan pembangunan, diskriminasi, korupsi, disintegrasi bangsa, dan lain sebagainya. Maka nilai-nilai Pancasila harus dapat diarustamakan dalam setiap sendi kehidupan bangsa,” kata Sahat.

Diketahui, dalam acara diskusi publik itu, ada sembilan mantan ketua umum organisasi Cipayung Plus, yang hadir dan menjadi pembicara dalam diskusi tersebut. Diantaranya ketua umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) Noer Fajriyansyah, mantan ketua umum PB PMII, PP GMNI, PP GMKI, DPP IMM, PP KMDHI, PP PMKRI, PP Hikmabudhi, dan PP Kammi.

Pancasila Jawaban Setiap Persoalan

Ketua umum PB HMI, Noer Fajriyansyah menuturkan, nilai-nilai Pancasila di Indonesia, sangat sejalan dengan agama. Dia menjelaskan, jika ada orang yang mempersoalkan toleransi di Indonesia, maka mereka belum memahami arti Pancasila.

Baca juga :  KNPI-Kemenkop dan UKM Kerjasama Pelatihan Wirausaha Koperasi

“Kalau masih ada orang yang mempersoalkan toleransi di Indonesia saat ini, berarti mereka belum memahami arti dari Pancasila. Perlu adanya evaluasi di bidang pendidikan terkait Pancasila sebagaimana dahulunya ada penataran P4.” jelas Noer Fajriyansyah, yang akrab disapa kanda Fajri.

Senada dengan Fajri, mantan ketua umum PB PMII, Addin Jauharudin juga menjelaskan, bangsa ini bisa berdiri sampai saat ini karena adanya pemahaman dan pengakuan terhadap Pancasila. Bahkan hal itu dilakukan oleh organisasi mahasiswa seperti dalam kelompok Cipayung. Seberapa kuat organisasi ini, maka bangsa ini juga akan kuat.

“Saya melihat, terdapat tiga poin yang bakalan menguat ke depan. Pertama, adanya kelompok yang memanfaatkan situasi saat ini dalam soal-soal intoleran untuk kepentingan politik.” jelas Adin.

Kedua, tambah Adin, ada kelompok yang tidak tahu soal ini, sehingga mereka hanya mengikuti apa kata pemimpin mereka dalam wadah apapun sebagai sebuah kebenaran.

Ketiga, masih kata Adin, kelompok pelajar hari ini yang mudah goyah karena bisa berubah akibat sedang berada pada fase mencari identitas.

“Maka untuk mengatasi persoalan ini, Kelompok Cipayung harus menjadi yang terdepan dalam memproduksi gagasan kebangsaan,” kata Adin.

Ditempat yang sama, mantan ketua umum DPP IMM, Jihadul Mubarok juga menyampaikan, bagi Muhammadiyah, Negara Kesatuan Republik Indonesia itu harga mati, pemuda saat ini, kata Mubarok, harus lebih optimis dalam bernegara, sebab hasil penelitian telah membuktikan bahwa kelompok yang ingin merdeka dari bangsa ini, tergolong kecil.

“Hasil penelitian membuktikan bahwa kelompok yang ingin merdeka dalam negara ini populasinya kecil, sementara penelitian lain mengungkapkan bahwa 65% masyarakat Indonesia tidak mau mengubah Pancasila sebagai ideologi negara.” kata Mubarok.

Baca juga :  Terkait Proyek Jalan Tol Serang – Panimbang, KemenPUPR dan PLT Gubernur Banten Tandatangani Nota Kesepahaman

Wadah Pemersatu

Sementara ketua umum PP Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, Tweedy Noviadi menegaskan, Pancasila adalah wadah pemersatu, dan harus dioperasionalkan. Pancasila kata Tweedy, adalah wadah pemersatu yang menjadi sumber semua aturan yang berlaku di Indonesia.

“Tidak boleh ada aturan yang bertentangan dengan Pancasila, nilai – nilai Pancasila juga harus menjadi etos kerja pemerintah dan masyarakat.” kata Tweedy.

Senada dengan Tweedy, mantan ketua PP KMHDI, I Made Bawa Yasa menyambut baik langkah GMKI. Dia meminta agar pertemuan-pertemuan seperti ini (Diskusi Publik) digalakan sebagai suatu pendidikan.

“Pertemuan seperti ini penting dan harus kita galakkan dalam masyarakat sebagai sebuah pendidikan. Mengajak masyarakat untuk berpikir jernih dalam memandang bangsa sebagai negara Pancasila,” kata Made.

Ideologi Pancasila Harus ditanamkan

Sementara, mantan ketua umu PP PMKRI, Lidya Natalia Sartono menuturkan, ideologi Pancasila harus di tanamkan dalam masyarakat khususnya melalui ruang pendidikan. Dia menegaskan, pemerintah tidak boleh menghilangkan mata pelajaran PMP, PPKN, PKN, Pendidikan Pancasila dan sebagainya.

“Dalam ruang pendidikan khususnya S1, banyak mahasiswa masih bingung tentang lahirnya Pancasila. Dari sini kita lihat perlu adanya tambahan konten dan pelajaran Pancasila dalam ruang-ruang sekolah dan kuliah”, tegas Lidya Natalia. (Red, Haji Merah/Kicaunews.com).

Facebook Comments
Print Friendly, PDF & Email

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Berita Terbaru