oleh

Mengenal Kyai Jirin

OPINI, KICAUNEWS.COM – Menuntut ilmu, bagi Kyai yang akrab dipangil Kyai Jirin ini, seperti sudah mendarah daging dalam tubuhnya. Tidak bisa dipisahkan. Hal ini tampak–sebagaimana termaktub dalam manaqib singkat yang penulis peroleh dari putranya, KH. Dhiyaz Muhajirin dan KH. M. Aiz Muhajirin, bahwa beliau bersetia melakoni mengayuh sepeda dari Kampung Baru menuju majelis-majelis ilmu para gurunya.

Putra H. Amsar, seorang pedagang telor di Mester [Pasar] Jatinegara, ini tidak gentar dengan segenap rintangan yang menghalangi jalannya. Suatu kali, misalnya, ia pernah dihadang seekor buaya saat hendak menyeberangi sungai (kali) Cipinang untuk menuntut ilmu. Namun, dengan kebesaran hati dan kemantapan tekad, rintangan tersebut pupus. Spirit thalabul’ilmi-nya tidak lemah hanya karena seekor hewan buas.

Beliau salah satu intelektual bekasi kaliber internasional, dgn 34 kitab karangan dlm bahasa arab. Sebagai ulama asli Betawi, KH. Muhadjirin populer menguasai sejumlah ilmu agama: Nahwu, Fiqih, Hadits, Falak (Astronomi), hingga Tafsir. Hal ini bisa dilihat dari karya-karyanya yang berjumlah 34.

Rincianya sebagai berikut: Ilmu Lughah (6 kitab), Balaghah ( 2 kitab), Tauhid ( 2 kitab), Ushul Fiqh ( 7 kitab), Ushul Hadits ( 3 kitab), Mantiq (2 kitab), Faraidh (1 kitab), Tarikh ( 4 kitab ), Qowaidh Fiqh ( 1 kitab ), Ushul Tafsir ( 2 kitab), Adab al-Bahats ( 1 kitab ), Wadha’ ( 1 kitab ), Fiqh hadits (1 kitab), Tasawuf (1 kitab).

Istimewanya, karya-karya itu semua ditulis dalam bahasa Arab. Semula, ia menulisnya demi kepentingan mengajar santri-santrinya. Namun kini, kitab-kitab itu ada yang dipakai di pelbagai pesantren murid-muridnnya yang rata-rata ulama disegani di daerah masing-masing.

Bahkan, salah satu buah penanya yang boleh jadi masterpiece-nya, Kitab Misbahzhulam [Syarah Bulughul Maram] sebanyak 4 jilid sudah diterbitkan secara komersil di Penerbit Darul Hadits. Sayang, hingga kini, tidak ada riwayat ihwal proses produktif dan kreatifnya tersebut.

Baca juga :  Jalin Silaturahmi Bhabinkamtibmas Sambangi Warganya

Bersahaja dan Demokratis

Kyai yang menikahi putri KH. Abdurrahman Shodri, Hj. Hannah, dan dianugerahi Allah 4 putra dan 4 putri ini populer dengan sikap bersahajanya. Hal ini tampak dari gaya berbusannya sehari-hari yang tidak ingin tampil “mencolok” sebagaimana lazimnya ustadz-ustadz. Bahkan, boleh dibilang, ia terkesan ”slebor” dalam berpakaian untuk ukuran seorang ulama yang telah diakui eksistensinya.

Agaknya, kesederhanaan dan kebersahajaan itu justru menjadi ”daya tarik” atau kekhasan sosok KH. Muhammad Muhadjirin. Cara KH. Muhadjirin mendidik anak-anaknya pun tidak otoriter. Beliau, misalnya, sebagaimana diungkap putra sulungnya, KH. Ihsan Muhajirin, tidak pernah memaksa anak-anaknya untuk memilih bidang pendidikan yang harus sama dengan ayahnya. Ia sepenuhnya membebaskan pada minat dan kemauan sang anak.

Sementara dalam urusan politik, ia tidak tergiur sama sekali. Dalam gegap gempita politik di masa Orde Lama, misalnya, ia sebetulnya memiliki kans besar bergabung dalam Partai Masyumi, tapi ia memilih netral. Pasalnya, kala itu, Partai Masyumi dan Partai NU pasca pemilu 1955 adalah sarana atau kendaraan politik yang strategis bagi sebagian ulama.

Khusus di Bekasi saat itu, hampir menjadi basis utama dari Partai Masyumi. Bahkan mertua dari KH.Muhammad Muhadjirin, yakni KH.Abdurrahman bin Shodri merupakan salah satu petinggi Partai Masyumi di Bekasi. Istri KH.Muhammad Muhadjirin sendiri pun adalah kader muda Partai Masyumi di zaman itu.

Meski demikian, tidak lantas KH.Muhammad Muhadjirin terbawa arus untuk berpartai. Keinginannya lebih pada jalur netral, tanpa harus terkotak-kotak dalam kelompok tertentu. Dalam keyakinannya yang sering terungkap, baik langsung maupun tidak langsung, dalam kesempatan pengajian, KH Muhadjirin kerap menyatakan independensi ulama sangatlah penting dalam melihat sebuah masalah atau fenomena masyarakat.

Baca juga :  Anggota Polsek Ciamis Dibantu Personel TNI Dari Koramil 1301Melaksanakan Sosialisasi Edukasi Protokol Kesehatan

Atau dalam bahasa KH. Ihsan, “Kecintaan beliau lebih pada mengajar dan menulis. Menurutnya, politik hanya akan menjauhkan almarhum dari kedua hal tersebut.” Ya, saat ini ulama shaleh, produktif, dan bersahaja yang lebih memilih mengajar dan menulis seperti KH. Muhammad Muhadjirin memang sudah langka.

Kini, KH. Muhadjirin yang ‘allamah dan slebor itu sudah tiada. Beliau menghadap Ilahi pada tarikh 31 Januari 2003 dengan jejak amal tak terkira, dengan PR besar buat generasi selanjutnya: bisakah melanjutkan “jihad” ilmiahnya? Lahul Fatihah.

Jasan Supratman. ST
Penulis Adalah Dosen di Universitas Islam Assyafiiyah Jakarta.

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru