oleh

Agama, Manusia dan Pengamalan Nilai Pancasila

OPINI, KICAUNEWS.COM – Sesungguhnya masyarakat Indonesia yang beragama akan mengamalkan ajaran Tuhan Yang Maha Esa pada umumnya dan khusus untuk yang beragama Islam nilai – nilai Pancasila sudah termaktub dalam Al-Qur’anul Karim, yakni, Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, pengamalan nilainya termaktub dalam Surat Al-Ikhlas ayat.1

Kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, pengamalan nilainya sesuai dengan Surat An-Nisa ayat 135, Ketiga, persatuan Indonesia, pengamalan nilai termaktub dalam Surat Al-Hujurat ayat 13, Keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dalam kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, pengamalan nilainya termaktub dalam Surat Asy-Syura ayat.38, Kelima, keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Pengamalan nilai termaktub dalam An-Nahl ayat.90.

Kuatnya dan Survivenya dalam mengatasi masalah dalam hidup bila ada moto “Sesungguhnya Shalatku, Ibadahku, Hidupku, dan Matiku Hanya untuk Allah SWT Tuhan Semesta Alam Al-Qur’anul Karim menjelaskan:
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ  ﴿٦١﴾؅
Artinya: “Dan jika engkau bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Pasti mereka akan menjawab, “Allah.” Maka mengapa mereka bisa dipalingkan (dari kebenaran).” (al-Ankabuut: 61).

‎وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ  ﴿٦٣﴾؅
Artinya: “Dan jika kamu bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu dengan (air) itu dihidupkannya bumi yang sudah mati?” Pasti mereka akan menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Segala puji bagi Allah,” tetapi kebanyakan mereka tidak mengerti.” (al-Ankabuut: 63).

‎وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ  ﴿٢٥﴾؅
Artinya: “Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Segala puji bagi Allah,” tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Luqman: 25).

Baca juga :  Pancasila Belum Seutuhnya

Lihat juga al-Zumar: 38 dan al-Zukhruf. Teks dan konteksnya sangat mirip.
Hanya saja, kepercayaan mereka dicampuri dengan kepercayaan lain yang keliru. Selain percaya kepada Allah, mereka juga percaya kepada tuhan-tuhan yang lain, baik sebagai sekutu, tandingan, maupun anak-anak.
أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ  ﴿٣﴾؅
Artinya: “Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar.” (al-Zumar: 3)

Hanya sedikit saja orang yang tidak percaya sama sekali kepada eksistensi Allah.

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ ۚ وَمَا لَهُمْ بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ  ﴿٢٤﴾؅

Artinya: “Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga saja.” (al-Jaatsiyah: 24).

Karena konteks sosial masyarakat yang politeis itulah, maka al-Qur’an sangat menekankan konsep tauhid atau pengesaan Allah. Kepercayaan kepada Allah harus dimurnikan dari campuran kepercayaan kepada yang lain. Pemurnian (ikhlash) itu terkonsepsikan dalam laa ilaaha illaa Allah.

Itulah sebab, sebuah surat yang menegaskan bahwa Allah itu esa, jadi satu2nya tempat bergantung, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada yang selevel dgNya; disebut surat al-Ikhlash, artinya pemurnian. Memurnikan Allah dari campuran2 tuhan2 yg lain sebagaimana orang2 musyrik duga. Itu adalah agenda awal dan fundamental Islam. Karena itu Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ  ﴿١﴾؅ اللَّهُ الصَّمَدُ  ﴿٢﴾؅ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ  ﴿٣﴾؅ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ  ﴿٤﴾؅
Artinya: “Katakanlah: “Dialah Tuhan Yang Maha Esa”. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” (al-Ikhlash: 1-4)

Baca juga :  Bamsoet Optimis Pemerintah Bisa Atasi Permasalahan Bangsa

Dalam beberapa ayat yang lain, perintah untuk menegaskan komitmen itu sangat terasa.
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ  ﴿٥﴾؅
Artinya: “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (al-Bayyinah: 5)

Bila manusia beragama dan menerapkan nilai – nilai Pancasila tentu akan senantiasa menjadi manusia yang beriman dan berakhlakul karimah (Red. Kicaunews.com)

Sofia F. MA
Penulis adalah Dosen di kampus Universitas Islam Assyafiiyah

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru