oleh

Pancasila Belum Seutuhnya

OPINI, KICAUNEWS.COM – Selama bertahun-tahun Ideologi Pancasila hanya baru saja dijadikan seremonial saja, secara universal belum menjadi betul-betul pedoman hidup kita dalam berbangsa dan bernegara, sehingga sistem bernegara dan berbangsa kita saat ini, belum berpancasila secara seutuhnya.

Dalam mengingat sejarah tentang pancasila pada hari ini, saya lebih ingin memberikan informasi-informasi yang dapat menggambarkan atau memberikan rasa yakin kita terhadap dasyatnya falsafah bangsa kita yang diangkat dari bumi pertiwi ini.

Sejak Bung Karno pertama kali memperkenalkan Pancasila ke Perserikatan Bangsa-Bangsa, Pancasila disebut sebagai alternatif sistem yang ada di dunia, bahkan Soekarno masuk dalam jajaran tokoh Dunia juga menjadi inspirator untuk Asia Afrika.

Soeharto baru mulai menterjemahkan pancasila dalam sistem negara dan itu belum maksimal disebut sebagai macan Asia. Setelah reformasi, Pancasila tidak pernah lagi dibicarakan, apa yang dahulu pernah digaungkan dan pernah terjadi, seolah hilang dalam jati diri bangsa.

Pancasila itu bukan ciptaan manusia seperti ideologi yang ada di dunia ini, Pancasila inhern di dalam hati bangsa ini, dan negara ini adalah negara yang satu-satunyadi dunia nemiliki perberbedaa sejarah dalam kemerdekaannya.

Negara-negara di dunia, organisasinya dulu ada yaitu negara baru bangsa terbentuk, sementara Indonesia bangsa dulu merdeka baru negara atau organisasinya terbentuk. Tentu ini sangat berbeda, karena kalau di luar sana, unit terkecil mereka dalam mengelola politiknya yaitu ‘partai ‘tujuan ‘kekuasaan’.

Sedangkan Indonesia itu unit terkecilnya adalah ‘keluarga’ tujuannya ‘mengangkat harkat dan martabat, menurut saya, ini ‘kunci’ kenapa kita “tersesat” dan kita lihat kejadian-kejadian dari tahun 1945 sampai dengan sekarang, timbul faham-faham lain, seperti radikalisme, demo-demi kebebasan yang bablas dengan alasan ‘demokrasi’.

Baca juga :  Benny Mokalu : Pancasila Dilaksanakan Masyarakat Kondusif

Kembali dengan ‘kata kunci’, jelas faham Pancasila bukan kekuasaan tetapi mengangkat harkat dan martabat ini harus berilmu makanya kenapa cara-cara  kita menyelesaikan masalah apapun dengan “musyawarah”? karena kita bisa bermusyawarah harus ‘berilmu’.

Tidak cukup punya ilmu tapi harus ‘bertuhan’ sesuai bunyi sila pertama yaitu “Ketuhanan YME”, ini kunci kalau kita pake faham kekuasaan, jadi ‘masalah’. Saya mengumpamakan kita makan-makanan yang haram’ enak tapi dampaknya kita menghianati keyakinan kita berdosa dan yang tahu hanya Allah dan kita saja dan kita tau pula apa hukumannya.

Begitulah dengan Pancasila, sistem negara mengabaikannya resiko langsung terasa seperti sekarang ini..contoh semua sistem di dunia ini yg namanya komunis, liberal dan lain sebagainya, hancur”. Maka kesimpulannya. “Ayo kita  kembali kepada apa yg kita punya bukan meniru-niru yang dimiliki oleh orang diluar kita (Indonesia). (A, Widhy/Red, Haji Merah/KICAUNEWS.com)

Rully Soekarta
Penulis Adalah Warga Negara Indonesia.

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru