oleh

Refleksi: Untuk Apa Berpuasa ?

Oleh : Deni Iskandar

PENDAPAT, KICAUNEWS.COM – Setiap ajaran agama, baik agama semitis maupun non semitis, tentu memiliki ritual, serta tradisi. Ritual dan tradisi ini biasanya diyakini sebagai hal yang sakral dan sulit dijelaskan secara logika atau akal sehat.

Dalam Islam, ritual keagamaan yang masuk dalam kategori tradisi adalah “Puasa”. Dalam ajaran Islam, istilah “Puasa” tentu sangat banyak, secara umum dapat dibagi menjadi dua kategori, Pertama, “Puasa Wajib” Kedua, “Puasa Sunnah”.

Saat ini, Sabtu (27/05/2017) umat Islam diseluruh belahan dunia sedang menjalani ritual keagamaan dalam kategori pertama, ” Puasa Wajib”. Dalam Islam “Puasa Wajib” rutin dilakukan setiap tahun, dalam tradisi Islam sebagaimana dijelaskan dalam teks suci (Al Quran) disebut sebagai “Bulan Ramadhan”.

Pada bulan inilah, bagi orang Islam, adalah bulan penuh ampunan, bulan penuh keberkahan bahkan sebagian ulama menyebut bulan ini adalah bulan kenikmatan. Selain itu “Puasa” juga menjadi salah satu rukun “hal yang mengikat” dalam agama Islam.

Membersihkan Diri

Dalam ajaran Islam, momentum puasa selain dari pada kewajiban, juga sebagai momentum membersihkan diri, sebab dalam “Puasa” tersebutlah terdapat nilai-nilai yang sangat Istimewa.

Biasanya para ulama (Pemuka Agama) menjelaskan, dibulan Ramadhan ini, bagi setiap orang yang membaca kitab suci (Alquran) maupun menjalankan ibadah lainnya jika dilakukan akan mendapatkan berkali lipat pahala.

Oleh sebab itu biasanya, pada momentum Ramadhan ini, umat Islam getol menjalani ibadah, apakah subtasi puasa adalah demikian ?. Sejatinya makna puasa, bukanlah itu.

Banyak perspektif dan banyak juga kajian mengenai tentang apa makna puasa. Dalam hal ini puasa jangan hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan yang sifatnya hanya menahan lapar dan haus.

Baca juga :  Dapat Apresiasi Dewan Pendidikan, Begini Tanggapan Dindikbud Tangsel

Memaknai Puasa

Tapi kita sebagai umat Islam harus memaknai makna puasa ini lebih dalam dan lebih filosofis lagi, jadi kata “Kutiba ‘alaikumu Asiyam” harus kita maknai lebih mendalam.

Sebab diakui atau tidak orang yang non muslim juga dalam hal ini, ada yang menjalani ibadah puasa sebagaimana yang dijelakan dalam kitab suci umat Islam, “Kama Kutiba, ‘Alaladzi Min Qoblikum”.

Kata ini menandakan bahwa sebelum umat Islam diwajibkan untuk berpuasa dibulan ramadhan, umat selain Islam juga sudah diserukan untuk ber “Puasa”. (Red- Haji Merah/Kicaunews.com)

Penulis Adalah, Mahasiswa Jurusan Perbandingan Agama di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru