oleh

Aan Rukmana : Tentang Puasa

JAKARTA, KICAUNEWS.COM –“Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kami bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Kehidupan di dunia ini terlalu berisik, sering heboh tidak jelas, bahkan tidak jarang membuat suasana batin menjadi tidak lagi tenang. Setiap hari kita sering dihidangkan dengan berbagai macam informasi tak bertuah, penuh nada nyinyir dan kebencian.

Hati kita pun dibuatnya mati sebelum mati. Tidak heran jika banyak di antara kita yang pergi ke kantor tidak dengan hati, bekerja asal-asalan asal selesai, dan dapat gaji yang cukup untuk menghidupi jasad ini. Manusia pun hidup tak lebih seperti mesin tak bernyawa.

Kita juga dapat dengan mudah menjumpai lembaga-lembaga pendidikan yang idealnya melahirkan generasi terbaik bangsa, baik iman, ilmu dan amalnya, malah melahirkan generasi sangar yang juga tidak berhati. Para senior dengan seenaknya mem-bully adik-adik juniornya tanpa perasaan. Mereka tampil bak malaikat pencabut nyawa. Sungguh mengerikan! Lantas, di manakah kini roh pendidikan itu berada?

Di sisi lain, muncul sekelompok orang yang mengaku beragama, tetapi dari ekspresi kehidupan sehari-hari mereka tidak pernah mencerminkan pribadi yang damai, sejuk, dan penuh aura kebaikan. Bukankah agama mengajarkan manusia untuk menjadikhalifatullah di atas muka bumi ini? Khalifah artinya pemimpin, baik bagi dirinya, orang lain maupun atas kehidupan alam raya ini. Sebagai khalifah, keteladanan adalah kunci utamanya.

Jika kesemrawutan hidup sudah begitu akut, ke manakah obat akan dicari? Banyak dari kita yang menyadari krisis tersebut dan berusaha mencari obatnya. Namun, obat yang didapat juga ternyata obat yang berpenyakit. Banyak yang mengira bahwa dengan pergi ke dunia gemerlap malam, berkumpul dengan suatu komunitas yang tak bermoral, lari ke narkoba, atau bergabung dengan kelompok ektremis, membuat krisis eksistensial itu dapat terobati. Faktanya,krisis itu semakin besar bahkan tidak jarang melahirkan penyakit lain yang mematikan.

Baca juga :  Camat Bunyamin Mengaku Tanah yang Dibeli PT. ADS Milik Tanah Garap Dr. M. Sianturi

Agama sebetulnya sudah memberikan solusi terbaik bagi kita untuk mengobati berbagai krisis tersebut, yaitu dengan cara berzikir kepada Allah,”Alâ Bidzikrillâh Tathma’innu al-Qulûb.”

Zikir di sini bukan semata-mata melafalkan “Allah, Allah”, melainkan bagaimana kesadaran kita akan adanya Allah selalu hadir dalam kondisi apa pun. Baik ketika kita sedang berada dalam keramaian atau sedang sendiri. Di dalam masjid maupun di perkantoran, di jalanan maupun ketika berdiam. Kesadaran akan adanya Allah selalu hadir di mana pun. Ketika kita mendapatkan rezeki yang banyak, di hati kita selalu tersisip kesadaran bahwa rezeki itu datangnya dari Allah, maka meskipun tenaga sendiri yang menguasahakan rezeki itu, tetap saja ada Allah di balik itu semua.

Kita pun akan menjadi pribadi yang penuh syukur. Ketika kita sedang berada dalam kesulitan, kita pun selalu optimis bahwa di balik setiap kesulitan itu selalu ada kuasa Allah. Jadi, kesulitan pun dipandang dengan kaca mata positif dan penuh harap.

Alhamdulillah, Ramadan tahun ini sudah tiba. Ini momen yang paling tepat untuk mengobati berbagai penyakit hidup. Sejenak kita buat “jarak” dengan berbagai hiruk pikuk kehidupan, sambil melakukan evaluasi total atas hidup ini. Selagi masih di awal-awal puasa, mari kita susun berbagai skenario dan tahapan agar proyek mengembalikan kesadaran ilahiah tercapai.

Kita mulai menghayati kehadiran Allah bukan semata lewat slogan-slogan agama. Kita menghayatinya secara langsung (bil-hudlûri), bukan dengan kata (bil-lisâni). Mari kita jadikan puasa ini sebagai bulandzikrullah.

Penulis adalah dosen Universitas Paramadina Jakarta.

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru