oleh

Saat Miras dan PSK Membumi di Tangsel

Oleh: Deni Iskandar

PENDAPAT, KICAUNEWS.COM – Meskipun di kota Tangerang Selatan sudah memiliki aturan main, tentang peredaran Miras di Tangerang Selatan, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah No 4 Tahun 2014, Tentang Penyelenggaraan Perizinan dan Pendaftaran dan usaha Perindustrian dan Perdagangan. Namun aturan tersebut seakan tidak mampuh menekan para pelaku usaha yang masih nekat menjual miras di kota yang bermotto Religius ini.

Jika aturan main yang dibuat oleh Pemerintah ini, benar-benar dijalankan oleh Pemerintah Kota Tangerang Selatan, seharusnya yang namanya minuman beralkohol (Miras) tidak ada di kota Tangerang Selatan, sebagaimana diatur dalam Pasal 122, Perda No 4 Tahun 2014.

Sabtu (13/05) Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) kota Tangerang Selatan bersama Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) kota Tangerang Selatan, berhasil mengangkut 1.846 botol dan 6 Barel Miras dengan tipe berbagai jenis. Ini jelas menjadi catatan yang harus direnungkan oleh pemerintah kota Tangsel.

Sebab dengan banyak beredarnya miras di kota yang bermoto “Cerdas, Modern dan Religius” ini secara impilisit maupun eksplisit akan berdampak buruk pada citra kota Tangerang Selatan itu sendiri.

Dengan melihat persoalan tersebut, ada dua hal yang membuat saya bertanya, Pertama, kenapa peredaran miras di Tangsel begitu masif terjadi padahal pemerintah sudah membuat aturan berbentuk Perda dan itu sudah disahkan oleh pemerintah ?. Kedua, sudah sejauh mana Perda yang dibuat itu dijakankan oleh Pemkot Tangsel, apakah sudah maksimal ?.

Disadari atau tidak dan diakui atau tidak, aturan main pemerintah yang berbentuk Perda ini belum maksimal dijalankan, sebab di Tangsel tidak sedikit persoalan maupun permasalah yang banyak menabrak aturan, salah satunya adalah tempat-tempat hiburan malam, yang notabenenya menjual minuman beralkohol (Miras).

Baca juga :  1.846 Botol Miras Digondol Satpol PP Tangsel Saat Razia

Pemerintah kota Tangerang Selatan yang saat ini dinahkodai Hj. Airin Rachmi Diany, sejauh ini belum berani bersikap tegas kepada pelaku usaha yang menabrak aturan pemerintah. Masalah miras bukanlah masalah enteng, sebab dengan banyak beredarnya miras di Tangsel, akan mempengaruhi masyarakat.

Walikota Tangerang Selatan, Hj. Airin Rachmi Diany, seharusnya malu sebab, kota Tangerang Selatan sudah terlanjur dicap sebagai kota “Religius”, secara umum kata ” Religius” selalu disematkan pada perilaku yang berbau ketaatan, agamis dan juga kesalehan, dalam konteks ini, jika peredaran miras di Tangsel tidak bisa diatasi maka penyematan “Religius” dengan sendirinya akan punah dan tinggal hanya nama tanpa makna.

Selain persoalan Miras, persoalan Pekerja Seks Komersial (PSK), saya menyebut ini, sebagai “Kupu-Kupu Malam” juga menjadi persoalan, bahkan saat ini jika boleh saya memberikan penilaian, “Kupu-kupu malam” telah menjadi bayang-bayang di kota Tangerang Selatan. Minggu (14/05) Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) kota Tangerang Selatan, bersama Dinas Sosial melakukan sweeping, menangkap “Kupu-kupu malam” ditempat-tempat hiburan, dalam aksinya Satpol PP berhasil memboyong tiga “Kupu-kupu malam”.

Masalah “Kupu-kupu malam” juga harus menjadi catatan penting Pemerintah, sebab dengan maraknya “kupu-kupu malam” justru akan lebih membahayakan masyarakat di Tangsel, selain ini merupakan bagian dari penyakit masyarakat, “kupu-kupu malam” juga akan banyak merugikan masyarakat, terutama masyarakat yang ada disekelilingnya.

Maka melihat hal itu Pemerintah bersama stakholder terkait, harus memiliki ribuan solusi untuk meretas persoalan tersebut. Baik Miras maupun PSK dua-duanya meruapakan penyakit bagi masyarakat, ini harus dibenahi.

Nyali Polres dan Satpol PP

Tak hanya Pemkot, salah satu upaya meretas peredaran Miras dan Kupu-kupu malam yang semakin marak yang terjadi di Tangerang Selatan, dibutuhkan pula sikap tegas dan komitmen Polres dan Satpol PP Tangerang Selatan. Jangan sampai ketegasan Polres dan Satpol PP bisa diukur oleh pengusaha.

Baca juga :  Jasa Tenaga Kerja di Bekasi Mandek, Kadis Disdikbud Dianggap Lalai

Di Tangerang Selatan sendiri, peredaran miras bukan hanya ada di tempat-tempat hiburan yang sifatnya ecek-ecek, di setiap hotel di Tangsel hampir memiliki tempat hiburan, dan sedikit banyaknya terdapat minuman beralkohol baik golongan A maupun golongan B.

Masalah tempat hiburan di Tangerang Selatan, sudah menjadi rahasia umum, dan sudah menjadi konsumsi publik bahwa, pemilik usaha miras kebanyakan melakukan “Setoran” kepada oknum Polisi maupun kepada Oknum Satpol PP, agar tidak dikotak katik.

Mungkinkah salah satu razia yang dilakukan oleh Satpol PP kota Tangerang Selatan, disebabkan karena faktor kurang atau tidak “Setoran”, jika memang Pemkot Tangsel, Polres maupun Satpol PP komitmen pada masalah peretasan miras di Tangerang Selatan, maka dua elemen ini harus berani menindak secara tegas tempat-tempat yang menjadi peredaran miras yang ada di Tangerang Selatan.

Sebagaimana yang telah diatur dalam Peraturan Daerah yang telah dibuat oleh Pemerintah Kota Tangerang Selatan, sebab bagaimana pun, Perda No 4 Tahun 2014 harus benar-benar ditegakan. Hukum harus menjadi Panglima tertinggi, meminjam istilah Thomas Hobbes, maka Perda yang harus bersikap ” Leviattan”.

Penulis Adalah Pengguna Aktif Akun Facebook, Haji Merah, sebelumnya akun itu bernama “Dheny Gholer Tea”.

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru