oleh

Pengamat Ormas: Pendidikan Kebangsaan Kepada Masyarakat Harus Digalakan

TANGSEL, KICAUNEWS.COM – Rencana pemerintah yang ingin membubarkan Ormas Islam yang Radikal, dianggap sebagai tindakan yang tidak tepat, dan tidak akan menghentikan gerakan radikal di Indonesia yang akan terjadi selanjutnya dikemudian hari.

Gerakan radikalisme  diera saat ini, harus dijinakan lewat pendidikan kebangsaan,  dengan melibatkan kekuatan masyarakat, seperti digalakanya pendidikan kebangsaan kepada ormas-ormas yang ada, pendidikan kebangsaan saat ini sangat minim sekali di adakan di masyarakat oleh pemerintah.

Demikian disampaikan Pengamat Gerakan Ormas di Indonesia, Son Haji Ujaji, M.si, saat dihubungi wartawan kicaunews.com, Selasa (09/05), lewat pesan singkat di Wats Apps.

Kepada Wartawan, Son Haji, menjelaskan saat ini pengetahuan masyarakat tentang kebangsaan dan ketahanan Nasional, sangat minim, tidak heran jika kemudian ada tindakan-tindakan yang muncul di Indonesia.

“Minimnya pengetahuan masyarakat terhadap kebangsaan dan ketahanan nasional, maka tindakan-tindakan yang tidak ber prikebangsaan akan muncul, sebagai bentuk ekspresi masyarakat yang tidak puas terhadap pola arah pembangunan bangsa selama ini,” jelas Son Haji.

Selain itu Son Haji juga menekankan agar pendidikan kebangsaan harus segera diarahakn kepada ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), dan ormas yang sejenisnya, yang memang terindikasi akan merongrong wibawa bangsa ini.

“Fenomena gerakan PKI dgn atributnya yg belakangan ini muncul, ini juga harus ditangani, secara serius dengan pendidikan kebangsaan itu. Gerakan komunis ini, adalah gerakan radikal yg perlu penanganan intensif di negara kita ini.” ujar, Pengamat Ormas di Indonesia, Son Haji Ujaji kepada wartawan.

Sebagaimana diketahui, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) merupakan organisasi Islam, yang getol menyuarakan “Khilafah Islamiyyah” untuk dijadikan sebagai landasan ideologi negara di Indonesia.

HTI saat ini sudah menjadi ormas Islam yang lumayan besar, di Indonesia, setelah NU, Muhammadiyah, Matlaul Anwar, dan Front Pembela Islam (FPI). (Red-Den/Haji-Merah/Kicaunews.com).

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru