oleh

Warga Di Pangandaran Bentrok, Karena Masalah Tanah dan Lahan

PANGANDARAN, KICAUNEWS.COM – Persoalan tanah menjadi aspek terpenting dalam kehidupan bermasyarakat, belum maksimalnya pengelolaan pertanahan di Indonesia acap kali banyak menimbulkan gejolak ditengah lingkungan masyarakat, belum lagi sejauh ini, masih adanya tumpang tindih kepemilikan lahan menjadi masalah pokok sebagaimana yang banyak terjadi di daerah-daerah.

Kali ini masalah tumpang tindih kepemilikan tanah ini, terjadi di Desa Sukajaya, Kec. Cimerak, Kabupaten Pangandaran Jawa Barat. Sengketa tanah yang diklaim milik PT Cikencreng mengerahkan massa bayaran yang di duga Preman, untuk menghentikan aktifitas para petani menggarap lahan.

Massa bayaran PT Cikencreng ini, di fasilitasi mesin rumput, untuk merusak tanaman yang digarap oleh masyarakat di tanah yang masih sengketa tersebut. Hal ini disampaikan warga Iis (45) tahun kepada wartawan kicaunews.com, Rabu (03/05) di Pangandaran.

“Saya takut dan sampai trauma kemarin, Pak H. Toto mengerahkan banyak orang, mereka sangar badanya, bertato dan bawa senjata tajam” ujar Warga Desa Sukajaya, Kec. Cimerak, Iis.

Selain itu, warga juga menjelaskan, massa bayaran yang disuruh oleh PT Cikencreng ini, mengancam warga, agar tidak menggarap lahan yang selama ini digarap oleh warga.

“kami  mendengar dari salah satu dari mereka mengatakan, kalau ada yang masih membandel menggarap lahan ini saya akan bakar rumahnya” jelas Iis.

Senada dengan Iis, Ketua Serikat Petani Pasundan kabupaten Pangandaran, Maman menyesalkan sikap pengancaman masa bayaran PT Cikencreng kepada warga.

Selain menyesalkan sikap massa bayaran PT Cikencreng, ketua Serikat Petani Pasundan ini juga merasa dirugikan, dan beramai-ramai warga pun mendatangi lahan yang masih menjadi sengket tersebut, (03/05)- Red.

Sebagaimana diketahui, H. Toto adalah orang yang diberikan kepercayaan oleh PT Cikencreng untuk menghentikan para petani agar berhenti menggarap lahan tersebut. Saat disambangi oleh warga kerumahnya, H. Toto pun tidak ada di tempat, dan warga pun langsung ke Kapolsek Cimerak, mengadukan masalah sengketa ini.

Baca juga :  Kapolsek Cisauk dan Tokoh Lintas Agama bagi Takjil ke Pengguna Jalan

Warga meminta perlindungan kepada Kapolsek Cimerak, agar mereka bisa menggarap kembali lahan yang mereka pernah garap.

Sebagaimana informasi yang himpun oleh wartawan kicaunews.com, Tanah yang diklaim oleh PT Cikencreng memiliki status dalam kategori, Tanah terlantar, dan masa pengelolaan Tanah oleh PT Cikencreng tersebut, sudah habis masa HGUnya, sejak tahun 1997 dan sudah di mohon oleh penggarap untuk diredistribusi. (Eva, Red-Den/Gol/Kicaunews.com).

Facebook Comments
Print Friendly, PDF & Email

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Berita Terbaru