oleh

Pilkada DKI dan Skenario Perang Pollster

Oleh: Yarifal Mappeaty

JAKARTA, KICAUNEWS.COM – Hal yang tak kalah menarik adalah, ketika membicarakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta putaran kedua, eksistensi lembaga survei (Pollster), setidaknya, menjadi ajang pertunjukan bagi lembaga, siapa saja yang paling handal di antara mereka (Para Calon) yang menang, itu dituangkan dalam prediksi, yang dibuat secara ilmiah.

Pilkada DKI Jakarta putaran kedua, yang sempat begitu menyita banyak perhatian di seluruh lapisan masyarakat ini, membuat rilis hasil survei selalu dinanti-nanti dengan penuh harap dan cemas. Tak pelak, setiap hasil survei yang dirilis senantiasa membuat heboh nitizen di dunia maya, bahkan menjadi amunisi yang begitu menggairahkan bagi debat kusir di warung-warung kopi.

Menjelang masa tenang Pilkada, membludak hasil dari tujuh lembaga survei di media. Menurut masing-masing lembaga survei (Pollster) pasangan Anies Sandi dinyatakan unggul dibanding Ahok-Djarot.

Berikut hasil survei dimasa tenang Pilkada, LSI Pasangan Ahok-Djarot, 42,7 Persen- Pasangan Anies-Sandi 52,4 Persen dan yang belum menentukan pilihan sebanyak 5,9 Persen. Sementara hasil survei SDI Pasangan Ahok-Djarot 42,2 Persen, Anies-Sandi 49,2 Persen dan yang belum memilih sebanyak 8,6 Persen.

Berbeda dengan yang lain, lembaga survei Pollmark memprediksi, pasangan Ahok-Djarot sebanyak 41,1 Persen, Pasangan Anies-Sandi sebanyak 49,1 Persen, dan yang belum memilih sebanyak 9,8 Persen. Sementara hasil survei Median, Pasangan Ahok-Djarot sebanyak, 47,1 Persen, dan Anies-Sandi sebanyak 49,0 Persen, yang belum memilih sebanyak 3,9 Persen.

Sementara hasil SMRC pasangan Ahok-Djarot sebanyak, 46,9 persen, pasanhan Anies-Sandi sebanyak 47,9 persen, dan yang belum memilih sebanyak 5,2 persen, sementara Charta Politika Pasangan Ahok-Djarot sebanyak, 47,3 persen Anies-sandi, 44,8 persen, yang belum memilih sebanyak 7,9 persen, dan hasil survei Indikator, menunjukan pasangan Aho-Djarot sebanyak, 47,4 persen, Pasangan Anies-Sandi sebanyak 48,2 persen dan yang belum memilih sebanyak 4,4 persen.

Dari sekian banyaknya lembaga survei yang merilis, baik lembaga survei LSI, SDI, maupun Pollmark, ketiganya mengunggulkan pasangan Anies-Sandi secara mutlak. SMRC, Median, dan Indikator, mengunggulkan Anies-Sandi, sedikit di atas Ahok-Jarot. Hanya data Charta politika yang lain sendiri dengan mengunggulkan Ahok-Jarot hampir 3% di atas Anies-Sandi.

Baca juga :  Brimob Polda Jabar Kembali Semprotkan Disinfektan Ke SMPN 1 Rancaekek

Dari sekian banyak hasil penelitian tersebut, terdapat pertanyaan, Apa yang terjadi? pertanyaan itulah yang muncul. Berdasarkan Data real count KPUD Jakarta Pasangan Ahok-Djarot sebanyak, 42,05 persen dan pasangan Anies Sandi sebanyak, 57,95 persen, dari hasil tersebut, analisa lembaga survei semuanya meleset jauh.

Sementara untuk lembaga survei Charta Politika, salah total. Bagi yang pernah belajar Ilmu Statistik, tentu saja tak terlalu sulit memahami fenomena data-data survei tersebut. Bahkan dapat menangkap pesan dibalik sajian angka-angka itu.

Misalnya, para pollster terpolarisasi pada dua kubu. Pollmark, SDI, LSI di satu kubu yang pro Anies-Sandi. Meskipun SMRC, Median, dan Indikator, tampak seolah-olah netral, tetapi condong satu kubu dengan Charta Politika yang pro Ahok-Jarot.

Dari sinilah muncul spekulasi terjadinya “perang pollster” di hari-hari terakhir jelang masa tenang yang dilancarkan oleh kubu pollster pro Ahok-Jarot. Tujuannya ialah menjinakkan kecenderungan opini publik yang mengalir deras kepada Anies – Sandi, kemudian membalikkannya ke arah Ahok – Jarot.

Bagaimana skenario perang pollster itu dijalankan? seperti kita ketahui, bahwa SDI dan Polmark, merilis data surveinya lebih awal lalu disusul LSI pada akhir minggu kedua April 2017, Hal ini membuat kubu Ahok-Jarot “sakit gigi”.

Karena rilis itu memprediksi Anies-Sandi menang secara mutlak dan benar-benar terasa mempengaruhi opini publik Jakarta. Tentu saja pollster di kubu Ahok tidak tinggal diam, meskipun mereka sudah tahu bahwa Ahok-Jarot kalah, tetapi mereka tak mau menyerah begitu saja.

Apa upaya pollster yang pro Ahok-Jarot agar dapat membalik situasi yang tidak menguntungkan itu? Mereka tampaknya memilih melancarkan perang opini. Survei melawan survei. Dalam skenario perang pollster ini, pollster pro Ahok-Jarot, membelah diri menjadi dua.

Baca juga :  Hasil Empat Lembaga Survei, Paslon HDMY Unggul di Pilkada Sumsel

Pertama, SMRC, Median, dan indikator, bertugas meredam efek data survei kubu lawan. Caranya, memunculkan data survei dengan nilai persentasi kedua paslon yang beda tipis. Namun tetap memenangkan Anies – Sandi dengan jarak 1-2 persen saja, cara ini diharapkan dapat mengerem opini publik yang mengalir deras ke pasangan nomor urut 3, Anies-Sandi.

Kedua, pada jarak yang sudah tipis itu, muncullah Charta Politika, dengan gagah merilis data survey yang memenangkan Ahok – Jarot dengan jarak hampir 3 persen di atas pasangan Anies-Sandi. Tujuannya adalah, agar opini publik yang mengalir ke pasangan Anies-Sandi yang sudah melambat, selanjutnya dapat berbalik ke arah Ahok-Jarot.

Luar biasa sikap spartan Charta Politika mendukung Ahok-Jarot, sehingga rela melakukan “puputan”. Mungkin saja mereka berpikir bahwa cara ini dapat memenangkan Ahok-Jarot. Meskipum harus mengorbankan kredibilitas. Bahkan, juga integritas yang merupakan modal paling berharga bagi pelaku bisnis jasa di bidang ini .

Kubu pollster pro Ahok-Djarot ini, boleh saja membantah bahwa skenario ini tidak benar. Tetapi konsekuensinya, mereka harus menerima disebut sebagai pollster yang tidak kredibel, paling tidak, pada kasus Pilkada Jakarta. Sebab, bagaimana bisa data survei mereka itu sampai meleset sangat jauh.

Padahal, Median dan Indikator, bukan lembaga pollster yang baru kemarin sore. Apalagi SMRC yang dikomandani oleh Saiful Mujani (SM), yang tak lain adalah salah seorang dedengkot pollster di Indonesia. Bukan hanya itu, SMRC selama ini telah menjadi salah satu rujukan yang paling terpercaya setelah LSI milik Denny JA. Oleh karena itu, apapun dalih Saiful Mujani, penulis tetap saja merasa aneh terhadap SMRC yang merilis data dengan akurasi yang demikian rendah.

Penulis tidak percaya kalau SMRC bisa meleset begitu jauh. Sehingga dalam hal ini, penulis condong mengamini sinyalemen, bahwa data SMRC dan kawan-kawan itu, sudah diolah sedemikian rupa untuk menjalankan skenario perang pollster. Data survei yang dirilis SMRC dan kawan-kawannya, adalah data yang sudah “dimasak”, bukan data yang sebenarnya !.

Baca juga :  Peduli Pendidikan, Pelangi Bentuk Perpustakaan Untuk Anak Yatim

Dengan kata lain, mereka sebenarnya juga sudah memprediksi bahwa pasangan Anies-Sandi menang mutlak menang diatas pasangan Ahok-Jarot. Untuk itulah perang pollster dilancarkan sebagai upaya terakhir menggiring opini publik Jakarta dalam rangka memenangkan Ahok-Jarot.

Di tengah nikmatnya mengutak-atik data survei di atas, penulis tiba-tiba teringat Andi Agung Prihatna dari Index Institute, seorang pollster alumni LP3ES. Dalam pertemuan dengannya di suatu cafe di kawasan Senayan. Sehari setelah Pilkada Jakarta putaran pertama, ia memberikan amplop kecil kepada Penulis dan berpesan “Jangan dibuka sebelum data real count KPUD Jakarta dirilis”. Penulis lalu mengambil amplop tersebut dan membukanya.

Apa yang terjadi? Penulis hanya melongo ketika membaca angka “42-58” di atas potongan bungkusan rokok. Fantastis. Agung, demikian nama yang biasa dipanggil. Rupanya telah memprediksi kemenangan pasangan Anies-Sandi dengan tepat sejak jauh hari. Paling tidak, dua bulan sebelum pilkada Jakarta putaran kedua diselenggarakan.

Sebagai seorang pollster senior, tentu saja Agung tak asal menebak. Meski tidak begitu terkenal seperti, Denny JA dan Saiful Mujani, tetapi reputasinya di bidang penelitian atau Survei, tidak perlu diragukan. Agung telah melakukan kegiatan ini bersama Muh. Husein, Kadiv Penelitian di LP3ES sejak tahun 1996.

Kalau saja Agung bisa memprediksi Pilkada Jakarta secara tepat, dua bulan sebelumnya, mengapa prediksi Saiful Mujani (SMRC), Yunarto Wijaya (Charta Politika), dan lainnya, meleset begitu jauh? Padahal, mereka melakukan survei kurang lebih sepekan sebelum masa tenang. Aneh bin heran. (Editor, Den/Gol/Kicaunews.com)

Penulis adalah Peneliti pada Majelis Kajian Jakarta

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru