oleh

Ideologi Buruh Masih Dalam Jaringan Kapitalisme

Oleh: Muhammad Faqih

OPINI, KICAUNEWS.COM – Ideologi buruh tidak hanya ditemui dan dirasakan dalam ruang rapat. Aksi peringatan May Day, audiensi dengan parlemen, atau training legislasi, itu semua cuma program teknis. Bentuk, besaran, dan dinamikanya bisa beragam.

Kegiatan semacam itu bisa berlangsung karena mungkin akibat efek sentimentil buruh bergaji rendah. Bila kita bergaji belasan hingga dua puluhan juta rupiah perbulan, sedangkan pada saat yang sama UMR cuma Rp2,7 juta rupiah, belum tentu sebuah aksi buruh bisa terlaksana.

Jangankan membuat kegiatan, sekadar berkumpul saja mungkin sulit. Akan muncul alasan-alasan pribadi agar kita dimaklumi untuk absen rapat atau mengadvokasi rekan buruh lain.

Artinya, alam bawah sadar kita masih dalam jaring kapitalisme. Ada posisi dalam struktur sosial yang kita nikmati dan tidak ingin kita ubah. Istilah Lenin, masih ada pikiran-pikiran borjuis dalam meja kita sehingga kita ambigu dalam bersikap.

Perasaan ajeg dan mapan dalam kondisi ini disebut feodal, citra kapitalis dalam wajah kultural, Inilah penjara terbesar kita, dajjal atau iblisnya meja kita, yang menghambat kenapa gerakan buruh tidak muncul, apalagi militan dan progresif.

Andai pun ada, hanya sporadis dan terakumulasi pada buruh bergaji rendahan, yang memang terpaksa melawan perilaku korporasi dan kebijakan negara sekeras mungkin dari pada mati perlahan-lahan. (Red-Den/Gol/Kicaunews.com)

Penulis Adalah Ketua Bidang PPPA Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Ushuluddin dan Filsafat Cabang Ciputat.

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru