oleh

Pemerintah dan Ormas Islam Tidak Fokus, HTI Semakin Membesar di Indonesia

KOTA TANGSEL, KICAUNEWS.COM – Masifnya gerakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), belakang ini membuat semua ormas di kalangan umat Islam cemas, hal ini ditandai oleh terstrukturnya pola kaderisasi di tubuh HTI terutama di bidang keagamaan.

Kehadiran HTI yang ingin membawa semangat “Khilafah Islamiyyah” ke Indonesia sangatlah radikal, sampai-sampai HTI menolak Pemilu, melarang upaca bendera dan lain sebagainya, bagi HTI tidak ada satu sistem negara yang sesuai dengan HTI kecuali “Khilafah Islamiyyah”, padahal di Indonesia, konsep negara yang ditawarkan oleh HTI jelas sangat bertentangan dengan konstitusi negara.

Demikian disampaikan Direktur eksekutif Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Anick HT, dalam acara diksusi yang diselenggarakan oleh Dewan Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jumat (28/04) di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.

“Di negara Arab Khilafah dilarang, seperti di Palestin, Mesir, Arab Saudi, Yordan maupun Libya, payung HTI terlalu sempit, sehingga tidak mungkin bisa menaungi semuanya, HTI masuk ke Indonesia tahun 1980-an sampai sekarang, berarti sudah hampir 37 tahun dengan jumlah 2 juta 7 persen dari jumlah penduduk Indonesia” ujar Anick HT, dalam acara Diskusi Publik.

Direktur eksekutif Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) lebih lanjut menjelaskan, kehadiran HTI, merupakan tamparan bagi ormas Islam, yang terlalu terlena dengan kondisi hirup pikuk politik. Sementara HTI tampil menarik dengan proses kadernisasi dan pembelajaran agama kepada umat Islam.

“Ormas Islam seperti NU, Muhamadiyah dan lainnya,  tidak fokus pada pembinaan umat, sehingga HTI berkembang pesat di Indonesia, untuk mewujudkan Khilafah” jelas Anick HT.

Acara Diskusi Publik yang diselenggaran oleh Dewan Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan tajuk “Khilafah; Ancaman Pancasila ?” ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa dan narasumber handal, salah satunya, Aktivis pusat studi pesantren, Anick HT, Sekjen PW Ikatan Pemuda Muhammadiyah Luthfi Hasanal Bolqiah, dan Aktivis Keragaman M Subhi Azhar.

Baca juga :  Soal Pembubaran HTI, Begini Sikap PP GMKI Kepada Wiranto

Hal senada juga disampaikan Presiden Dewan Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Riyan Hidayat menerangkan, acara diskusi ini tidak bermaksud untuk memojokan salah satu ormas, akan tetapi ini hanyalah diskusi, dengan menggunakan etika yang baik, jangan sampai ada perpecahan.

“Diskusi tentang Ideologi khilafah, apakah pantas diterima atau diterapkan atau di tolak di Indonesia” ujar Riyan Hidayat, dalam acara diskusi di di Aula Madya UIN Jakarta Jl. Ir H Juanda No 95 Ciputat Kota Tangerang selatan, Banten.

Pada kegiatan ini, lanjut Riyan, mengambil Ungkapan, Khilafah apakah mengancam Pancasila atau tidak, bukan menyudutkan, akan tetapi berdiskusi, bersasarkan aspek-aspek ilmiah, dengan menggunakan etika yang baik dalam beretorika saat diskusi, jangan sampai ada perpecahan dan salah faham. (Red- Den/Gol)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru