oleh

Peran Penyuluh Agama Dalam Meredam Berita Hoax

TANGSEL, KICAUNEWS.COM –Media sosial seperti Facebook, twitter, wathsapp, bbm, line, instagram sudah  menjadi kebutuhan primir bagi sebagian masyarakat Indonesia. Kegiatan yang dulu bisa dilakukan tanpa melalui media sosial sekarang tidak dapat dilakukan tanpa mengunakannya misalnya update status, mengunggah foto-foto kenangan yang indah dalam hidupnya sampai menyebarkan berita yang tidak jelas sumbernya atau berita hoax.

Istilah hoax belakang ini menjadi perbicangan yang cukup update, apalagi berbarengan dengan Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) jurus ini cukup ampuh dalam menjatuhkan reputasi dan mengiring opini masyarakat.

Hoax yang diartikan dengan “berita bohong” atau fitnah belakang ini memang cukup ramai dibicarakan, bahkan berita yang tidak jelas sumbernya ini meresahkan sebagian masyarakat karena masyarakat dibikin bigung seperti berita kematian ulama karena mendukung salah satu paslon (pasangan calon) di Pilkada DKI Jakarta atau pernyataan ulama yang disebarluaskan padahal mereka tidak mengeluarkan pendapat tersebut.

Kejadian ini hanya ingin memecah belah persatuan dan kesatuan umat baik internal atau eksternal umat beragama.
Dalam persoalan ini peran penyuluh agama sangat diperlukan karena tugas utama yang mereka emban adalah menumbuhkan kesadaran dan penghayatan beragama agar mereka kembali ke jalan yang benar dan menjadi warga Negara yang berakhlak baik dan taat dalam menjalan ibadah keagamaannya.

Peran Penyuluh dalam Membina Umat

Tugas pokok yang diemban penyuluh agama adalah membimbing umat beragama untuk menjalankan ajarannya dan menyampaikan gagasan-gagasan pembangunan yang direncanakan oleh Pemerintah dengan menggunakan bahasa Agama.

Penyuluhan agama sejak awal pra-Kemerdekaan Republik Indonesia sudah dilaksanakan oleh para Mubaligh, Ustadz dan Kyai yang berdakwah menyampaikan ajaran-ajaran agama kepada Masyarakat.

Mereka ditokohkan oleh Masyarakat bukan karena dipilih, diangkat tetapi karena mereka mempunyai kewibawaan. Dalam perjalanannya, peran dilaksanakan oleh mereka adalah membimbing, mengayomi, dan menggerakan masyarakat untuk berbuat baik dan menjauhi perbuatan yang terlarang, mengajak kepada sesuatu yang kepentingan masyarakatnya dalam membina wilayahnya baik untuk keperluan sarana kemasyarakatan maupun peribadatan. (Amirullah, 2016, h. 18)

Baca juga :  Kapuspen Kemendagri Mengecam Berita Hoax Larangan Rapat di Hotel

Penyuluh agama menjadi tempat bertanya dan mengadu bagi masyarakatnya untuk memecahkan dan menyelesaikan masalah. Kemudian memberikan petunjuk dan pengarahan denga nasihatnya.

Mereka juga memimpin dan mendinamisir masyarakat dalam melaksanakan berbagai kegiatan dengan memberi petunjuk dan penjelasan tentang apa yang harus dikerjakan, memulainya secara bersama-sama dan menyelesaikannya secara bersama-sama pula.

Keteladanan ini ditanamkan dalam kegiatan kehidupan sehari-hari, sehingga masyarakat dengan penuh kesadaran dan keikhlasan mengikuti petunjuk dan ajakan pemipinnya.

Dengan demikian tugas penyuluh agama tidak semata-mata melaksanakan penyuluhan agama dalam arti sempit berupa pengajian, akan tetapi seluruh kegiatan penerangan baik berupa bimbingan dan penerangan tentang berbagai program pembangunan.

Posisi penyuluh agama ini sangat strategis baik untuk menyampaikan misi keagamaan maupun misi pembangunan.
Dalam masa pembangunan dewasa ini beban tugas penyuluhan agama lebih ditingkatkan dengan usaha menjabarkan segala aspek pembangunan melalui pintu dan bahasa agama.

Oleh karena itu, penyuluhan agama berperan sebagai motivator pembangunan. Peran ini menjadi  penting karena pembangunan di Indonesia tidak semata membangun manusia dari segi lahiriah dan jasmaniyah saja melinkan membangun segi rohaniyah, mental spritualnya dilaksanakan sejalan secara bersama-sama.

Peranan penyuluh agama dalam pembangunan adalah sebagai motivator dengan usaha memberikan penerangan pengertian tentang maksud dan tujuan pembangunan, mengajak segera menggerakannya untuk ikut serta aktif menyukseskan pembangunan.

Penyuluh agama selain berfungsi sebagai pendorong masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan berperan juga untuk ikut serta mengatasi berbagai hambatan yang megganggu jalannya pembangunan khususnya mengatasi dampak negatif.

Cara penyampaian penyuluhan agama kepada masyarakat adalah dengan melalui bahasa yang sederhana dan dimengerti oleh masyarakat dengan pendekatan keagamaan. (Amirullah, 2016, h. 38-39)

Penyuluh Agama dan Trik Pengunaan Media Sosial secara baik
Penyuluh Agama yang mempunyai tugas pokok memberikan pencerahan kepada Masyarakat agar kembali pada ajaran yang benar, tentu dalam persoalan hoax mereka harus meberikan pencerahan agar masyarakat berhat-hati dalam menyebar berita yang tidak jelas sumber dan asal usul berita tersebut.

Baca juga :  DPD KNPI DKI Jakarta Buka Puasa Bersama dan Pemberian Santunan Anak Yatim

Ketidak  jelasan asal usul berita akan menyebabkan fitnah sehingga perlu kiranya masyarakat dalam mengunakan media sosial sangat  berhati-hati dan mengunakan dengan baik.

Hendaknya penyuluh perlu mengelorakan agar masyarakat menjalankan dan mengunakan media sosial atas dasar ketakwaan, persaudaraan, kesetaraan, saling wasiat pada kebaikan.

Mencegah kemungkaran, memperkokoh hubungan antar umat beragama baik eksteren ataupun interen dan juga memperkokoh hubungan umat dan umara (pemerintah) sehingga tercipta stabiltas keamanan dan ketertiban.

Sedangkan merespon munculnya berita yang tidak jelas atau isinya berupa ajakan provokatif hendaknya penyuluh agama mengkapanyakan agar masyarakat menvervikasi berita tersebut sebelum menyebarkan ke publik.

Adapun hal-hal yang perlu diverfikasi antara lain: informasinya harus akurat, bermamfaat, bersifat umum, tepat konteknya dan waktunya.

Oleh: Ach Baiquni,

Penulis Adalah Pengajar Agama Islam Non PNS di Ciputat Timur Tangerang Selatan, Banten.

Facebook Comments
Print Friendly, PDF & Email

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Berita Terbaru