oleh

Membangun Toleransi Beragama

TANGSEL, KICAUNEWS.COM- Dalam bahasa Arab, istilah toleransi bermakna Tasamuh, atau “Tenggang Rasa”, secara harfiah Toleransi bermakna membiarkan orang lain berpendapat lain, melakukan hal yang tidak sependapat dengan kita, tanpa kita ganggu ataupun intimidasi.

Dalam konteks sosial, budaya dan agama, toleransi bisa dimaknai sebagai sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat.

Dalam konteks ini penulis akan memberikan pemahaman tentang pentingnya memiliki sikap toleransi dan juga akan memberikan contoh-contoh kongkret tentang apa itu toleransi, terutama toleransi dalam beragama. Dewasa ini  konflik keagamaan menjadi hal yang rentan terjadi terutama di Indonesia yang notabenenya sebagai negara yang mayoritas beragama Islam dan beragam suku bangsa.

Sebagai negara yang mayoritas penduduknya Muslim terbanyak, namun pedoman atau dasar negara Indonesia sendiri berasas Pancasila, artinya hukum yang digunakan oleh negara ini pun pada dasarnya bukanlah hukum yang mrnganut pada ajaran Islam.  Di Indonesia agama diberikan ruang untuk berekspresi, sehingga mau tidak mau toleransi adalah kunci utama dalam berbangsa dan negara di Indonesia.

Sikap Toleransi sejatinya harus dimiliki oleh bangsa ini, sebab tanpa adanya rasa toleran, maka kehidupan berbangsa ini akan kacau balau. Sebagai mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jurusan Perbandingan Agama sekarang Studi Agama-agama, kami mahasiswa yang menghimpun diri sebagai Aliandi Mahasiswa Studi Agama-agama melakukan kunjungan serta dialog interaktif dengan umat Kristen pada hari paskah kemarin.

Romo Rico begitulah nama panggilan akrab yang biasa kami sebut, dalam pertemuan itu kami melakukan dialog tentang hari Paskah. Membahas sejarah Paskah, secara panjang lebar, sampai dalam pembahasan tersebut, Romo Rico membeberkan perbedaan Paskah antara Katolik dengan Protestan.

Baca juga :  Lewat Masjid, Kelompok KKN GEMBIRA UIN Jakarta Ajak Warga Rawat Persatuan

Dalam dialog interaktif itu, mahasiswa Studi Agama-agama UIN Sayrif Hidayatullah Jakarta mengapresiasi dan sangat interaktif dengan Pendeta yang menjelaskan tentang Paskah. “Dengan adanya observasi keagamaan ini, mahasiswa Studi agama-agama selain darip ada memberikan wawasan kepada mahasiswa, juga memupuk rasa Toleransi antar umat beragama” tutur Shakeel Ahmad, di Gereja GBI Glow youth, jl. Kh. Noer ali No 68 F-H Kalimalang, Jakarta Timur,

Sehingga, tambah Shakeel Ahmad mahasisiswa dapat mencegah konflik berlatar belakang agama, seperti yang saat ini terjadi dan sedang hangat di perbincangkan di Sosial Media (Sosmed)”, tambah Shakeel Ahmad.

Dalam kunjungannya pun, mahasiswa Studi Agama-agama, disuguhkan dengan suara merdu musisi terkenal diera 80-an, Obbie Mesakh, yang menembangkan lagu, Kisah Kasih di Sekolah secara meriah. Kunjungan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, merupakan salah satu contoh sikap toleransi beragama.

Ditulis oleh: Muhammad Yusuf, Mahasiswa Jurusan Studi Agama-Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Semester 4.

Redaktur: Deni Iskandar/Goler.

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru