oleh

GMKI: Pemuda Jangan Mau Dipecah Belah, Konferensi Momentumnya

MANADO, KICAUNEWS.COM– Ketua umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Sahat Martin Philip Sinurat, mengajak semua elemen pemuda di Indonesia agar tidak mudah dipecah belah oleh isu sara atau pun berita Hoax.

Dalam keterangan tertulisnya, Ketua umum PP GMKI ini, meminta agar semua pemuda di Indonesia bisa memberikan inspirasi, solusi dan tindakan kongkret dalam memjawab persoalan yang dihadapi rakyat saat ini.

Hal ini disampaikan Sahat Martin Philip Sinurat, dalam siaran persnya, kepada wartawan Sahat menyampaikan, Indonesia dan dunia saat ini sedang menghadapi persoalan yang sangat krusial.

“Saat ini masyarakat Indonesia dan dunia sedang menghadapi berbagai persoalan intoleransi dan konflik seperti konflik etnis, agama, dan lainnya, pemuda harus menjadi motor penggerak untuk mewujudkan perdamaian Indonesia dan dunia” kata, Sahat dalam pesan singkatnya, diacara Konferensi Pemuda Kristen Global (Global Christian Youth Conference).

Hari ini, Minggu (23/04), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia sedang mengadakan Konferensi Pemuda Kristen Global (Global Christian Youth Conference) yang diikuti peserta dari 25 negara dan delegasi dari berbagai provinsi di Indonesia.

Dalam acara Konferensi Pemuda Kristen Global ini, rencananya Wakil Presiden Republik Indonesia, M. Jusuf Kalla akan membuka langsung kegiatan Internasional pemuda yang diadakan oleh Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia mulai tanggal 23 – 26 April 2017, di Ballroom Sintesa Peninsula Hotel, Manado.

Selain itu, dalam acara Konferensi Pemuda Kristen ini juga akan mengahdirkan pembicara yang kompeten diantaranya, pembicara kunci yakni Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrowi, Kepala BNN Budi Waseso, Pdt. A.A Yewangoe, Pdt. Albertus Patty, Direktur Leimena Institute, dan Wahid Institute.

Pancasila Sebagai Modal Bernegara

Tak hanya itu, Ketua Umum PP GMKI, Sahat juga menambahkan, bangsa Indonesia sangatlah beragam, baik suku, ras, etnis maupun agama, keberagaman itu dibungkus oleh Bhinek Tunggal Ika yang menjadi penunjuk bagaimana sebenarnya karakter bangsa Indonesia.

Baca juga :  Syukuran Pengecoran Jalan, Satgas TMMD 105 Kronjo & Warga Gelar Pengajian

“Kita memiliki Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang menunjukkan bagaimana sebenarnya karakter bangsa Indonesia. Seharusnya Indonesia dapat menjadi contoh bagi negara lain untuk belajar tentang hidup harmonis di tengah keberagaman,” tambah Sahat.

Digelarnya acara Konferensi ini lanjut Sahat, agar pemuda dapat menjadi Oasis ditengah sedang gemuruhnya konflik yang terjadi saat ini dikawasan dunia, seperti di ASEAN, Asia Timur, Timur Tengah, Eropa, Afrika, Amerika, dan bahkan di Indonesia sendiri.

“Pemuda harus menjadi mata air yang dapat melepaskan rasa dahaga perdamaian yang saat ini sedang dirasakan masyarakat Indonesia dan dunia”, lanjut Ketua Umum PP GMKI Sahat Martin Philip Sinurat.

Menurut Sahat, kegiatan ini penting agar pemuda dapat menjadi oasis di tengah konflik yang saat ini sedang terjadi di berbagai kawasan dunia, seperti di ASEAN, Asia Timur, Timur Tengah, Eropa, Afrika, Amerika, dan bahkan di Indonesia sendiri. Pemuda harus menjadi mata air yang dapat melepaskan rasa dahaga perdamaian yang saat ini sedang dirasakan masyarakat Indonesia dan dunia.

“Para pembicara akan menyampaikan bagaimana menyelesaikan konflik, menjaga keberagaman, dan menciptakan perdamaian. Kemudian para peserta akan diajak mengunjungi beberapa tempat di Sulawesi Utara yang dapat menggambarkan bagaimana masyarakat Indonesia dapat hidup berdampingan walau berbeda suku, agama, dan golongan.

Kita memiliki Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang menunjukkan bagaimana sebenarnya karakter bangsa Indonesia. Seharusnya Indonesia dapat menjadi contoh bagi negara lain untuk belajar tentang hidup harmonis di tengah keberagaman,” kata Sahat.

Menurut Sahat, kegiatan ini penting agar pemuda dapat menjadi oasis di tengah konflik yang saat ini sedang terjadi di berbagai kawasan dunia, seperti di ASEAN, Asia Timur, Timur Tengah, Eropa, Afrika, Amerika, dan bahkan di Indonesia sendiri. Pemuda harus menjadi mata air yang dapat melepaskan rasa dahaga perdamaian yang saat ini sedang dirasakan masyarakat Indonesia dan dunia.

Baca juga :  SDN I Karang ampel 66peserta didik sudah menerima program KIP

“Kegiatan ini kami gagas sebagai wadah bertukar pikiran bagi para pemuda lintas negara dan daerah tentang persoalan konflik yang sedang terjadi di tempatnya masing-masing,” ujar Sahat Martin Philip Sinurat.

Editor: Deni Iskandar/Goler

Facebook Comments
Print Friendly, PDF & Email

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Berita Terbaru