oleh

DIA yang Berani!

Oleh : Syarifaeni Fahdiah

Pemikiran-pemikiran si – DIA dalam surat-suratnya tidak pernah bisa dibaca oleh beberapa orang pribumi yang tidak dapat berbahasa Belanda. Baru pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkan versi translasi buku dari Abendanon yang diberi judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Buah Pikiran, dengan bahasa Melayu.

Pada tahun 1938, salah satu sastrawan bernama Armijn Pane yang masuk dalam golongan Pujangga Baru menerbitkan versi translasinya dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Versi milik Pane membagi buku ini dalam lima bab untuk menunjukkan cara berpikir si – DIA yang terus berubah. Beberapa translasi dalam bahasa lain juga mulai muncul, dan semua ini dilakukan agar tidak ada yang melupakan sejarah perjuangan si – DIA semasa hidupnya itu.

Makna dari usaha pendidikan perempuan yang dikembangkan Kartini yang di Dhomirkan si – DIA tak hanya berdasarkan pembangkitan kebiasaan membaca, menulis, dan belajar secara teratur.
Makna itu jadi lebih besar dan menentukan bagi jalannya kehidupan kaum perempuan meningkatkan kemampuannya mengambil keputusan dan melalui kemampuan itu meningkatkan derajat kebebasannya.

Kebebasan dalam arti mampu mengambil sendiri keputusan yang harus diambilnya, dan tak diambilkan orang lain di luar dirinya—hanya dengan dalih bahwa dia perempuan karenanya tergolong ”kaum lemah” yang harus dilindungi, dengan sendirinya ”perlu perlindungan” tanpa ditanya atau diminta. Dan hanya termandsetkan oleh -masih sebagian orang- Sumur, Kasur, dan Dapur!
Dengan begini menjadi jelas betapa besar makna dan peranan pendidikan bagi kaum perempuan yang dipelopori dan dikembangkan si – DIA yaitu RA Kartini di zamannya. Tidak hanya bagi kebebasan perempuan, tetapi bagi manusia Indonesia itu sendiri.

Happy Kartini’s Day

Baca juga :  Polsek Arcamanik Polrestabes Bandung Lakukan  Yanmas Malam Bandung Lautan Biru1

Penulis Adalah Ketua Umum Kohati Cabang Ciputat.

Redaktur : Deni Iskandar

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru