oleh

KH Abdullah Syafii Sang Singa Betawi

JAKARTA, KICAUNEWS.COM — Betawi Adalah Tanah Para Ulama Yang Istiqomah Dan Menjunjung Tinggi Agama Islam, Allah Dan Rasulnya Seperti KH.Abdullah Syafi’ie. Kalau Saja “Sang Singa Betawi” Ini Masih Ada, Si Pendeta Berjubah Nuril Arifin Mau Menyebarkan Faham Sesatnya Di Tanah Betawi Ini Bisa Habis Dibikin Perkedel Oleh Beliau…

SANG SINGA BETAWI: K.H. ABDULLAH SYAFI’IE AL-BATAWIE ( Salah satu Guru Habibana Muhammad Rizieq bin Husein Syihab ) Kampung Bali Matraman 1974. Beberapa saat sebelum adzan Subuh dikumandangkan oleh seorang mu’adzin di Masjid Al-Barkah, lelaki tua berbaju koko putih dan berkopiah haji itu telah duduk bersila di mimbar masjid. Betapa khusuknya ia mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bibirnya melafazkan Asmaul Husna. Tubuhnya yang tegap merunduk. Matanya berkaca-kaca. Ia memohon kepada Allah agar perjuangannya mencerdaskan bangsa dapat terlaksana dengan baik

Lelaki tua bertubuh gemuk itu siapa lagi kalau bukan K.H.Abdullah Syafi’ie. Kiprahnya dalam menyiarkan agama Islam di Indonesia memang sudah tidak asing lagi. Nama K.H. Abdullah Syafi’ie bagi kaum Muslim, khususnya warga Jakarta, tentunya sudah tidak asing lagi. Ulama karismatik ini dikenal dengan kedalaman dan keluasan ilmunya. Lebih dari itu, K.H. Abdullah Syafi’ie juga terkenal dengan ketegasan, kegigihan, dan semangat pantang mundur dalam memperjuangkan kebenaran Islam.

Tokoh Betawi kelahiran Kampung Bali Matraman, 10 Agustus 1910, ini sering melakukan dakwah, baik di Perguruan As-Syafi’iyah yang dirintisnya sejak tahun 1930 maupun berbagai pelosok Tanah Air.

Semasa kecil, K.H. Abdullah Syafi’ie banyak menuntut ilmu dari para ustadz di mana pun berada. Guru-gurunya antara lain Ustadz Marzuki, Ustadz Musanif, Ustadz Sabeki, Habib Ali Al Habsyi-Kwitang, Habib Alwi Bin Muhammad Al Hadad, Habib Alwi Bin Thahir Al Hadad (Mufti Johor), dan banyak lagi. Ia juga pernah mengenyam pendidikan agama di Makkah.

Pada masa Habib Ali Alhabsyi (meninggal September 1968), sang kiai hampir tiap Ahad pagi hadir di majelisnya. Apalagi sang kiai pernah berguru di madrasah Unwanul Walah yang dibangun Habib tahun 1920-an. Habib Ali selalu meminta muridnya itu untuk berpidato di majelis taklimnya di Kwitang.

Dari ilmu agama yang diperolehnya itu, saat usia 17 tahun ia membuka madrasah di kampung kelahirannya. Lembaga pendidikan agama yang menggunakan tempat bekas kandang sapi itu dinamakan Madrasah Islamiyah Ibtidaiyah. Puluhan tahun kemudian, berganti nama menjadi AsSyafi’iyah. Nama tersebut merupakan perpaduan antara nama Syafi’ie dengan mazhab Imam Syafi’i yang dianutnya.

Ulama terkenal Prof. K.H. Ali Yafie pernah mengatakan bahwa “K.H. Abdullah Syafi’ie adalah tokoh pemberani, ikhlas, dan tak jemu dalam berdakwah. Beliau sangat tegas dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.”

Kasus yang sangat monumental terjadi dalam penolakan RUU Perkawinan tahun 1974,”. RUU itu ditolak keras oleh umat Islam karena isinya yang sangat sekular. Puncak protes umat Islam, Akhirnya, massa Islam berhasil menduduki ruang sidang paripurna dan menggagalkan pengesahan RUU sekular tersebut.

Menurut K.H. Ali Yafie, pada saat itu gedung DPR diduduki siswa dan mahasiswa yang mayoritas pelajar dan mahasiswa Asy-Syafi’iyah. Kabarnya, salah faktor di belakang gerakan siswa dan mahasiswa ini adalah K.H. Abdullah Syafi’ie yang terus memberi semangat melalui siaran radio yang disiarkan setiap subuh. Bahkan Menteri Agama saat itu, Mukti Ali terpaksa dibawa keluar DPR lewat pintu belakang karena gedung DPR dikepung para demonstran. (Lihat, K.H. Abdullah Syafi’ie di Mata Para Tokoh, Ulama, dan Cendekiawan Muslim, hlm: 36)

Baca juga :  Kolaborasi Pandawarta dan FPK Jaksel, Bersama Lawan Covid 19 Dengan Gelar Baksos

Kecintaan Kyai Abdullah Syafi’ie terhadap ilmu dan pendidikan juga luar biasa. Saat usia 18 tahun ia meminta ayahnya, H. Syafi’ie, untuk menjual sapi-sapi miliknya yang kandangnya dibuat di samping rumah. Ia ingin menjadikan tempat tersebut untuk berkumpul dan mendalami serta mendiskusikan ilmu agama dengan teman-temannya. Ayahnya meluluskan. Itulah madrasah pertama yang didirikan K.H. Abdullah Syafi’ie pada tahun 1828.
Tahun 1933 K.H. Abdullah Syafi’ie berhasil melebarkan sayap dakwahnya dengan membeli sebidang tanah yang kemudian diwakafkan dan dijadikan masjid dengan nama Masjid al Barkah. Sejak itulah Masjid al Barkah semakin dikenal karena keramaian jama’ah dan kepiawaian K.H. Abdullah Syafi’ie memikat hati jamaah dalam berbagai ceramahnya.

Tahun 1954, Kyai Abdullah Syafii membeli lagi tanah di depan Masjid al Barkah yang diniatkan untuk pengembangan Sekolah Menengah atau Tsanawiyah yang kemudian resmi dinamakan Perguruan Islam As-Syafi’iyyah. Di dalamnya ada lembaga pesantren untuk putra dan putri dan madrasah yang berjenjang mulai Ibtidaiyyah, Tsanawiyyah dan Aliyah. Dari hari ke hari, Perguruan Islam As-Syafiiyah semakin berkembang.

Dunia pendidikan pun menyatu dalam dirinya. Melalui Perguruan Islam As-Syafi’iyah, ulama yang kerap dipanggil H. Dulah ini, berusaha memberikan pendidikan agama semaksimal mungkin kepada para santri. Makanya, tak heran, jika sebagian santri yang diasuhnya puluhan tahun kemudian menjadi ulama terkenal.
Kedisiplinan menuntut ilmu serta menjalankan ibadah yang diterapkan K.H. Abdullah Syafi’ie kepada para santri memang tidak tanggung-tanggung. Ini tentu pernah dialami bagi siapa saja yang pernah mondok di perguruan tersebut.

Keunikan K.H. Abdullah Syafi’ie, ia bukan hanya mendirikan lembaga. Tapi, ia mengajar langsung murid dan santrinya. Sesekali, Kyai masuk ke kelas-kelas, sekolah atau masjid dengan memberi dorongan dan keteladanan. Seorang alumni As-Syafi’iyah berbagi pengalaman, K.H. Abdullah Syafi’ie setidaknya datang ke sekolah tiap dua bulan. Dalam setiap kunjungannya, ia menulis kalimat bahasa Arab di papan tulis. Lalu dimintanya salah satu murid untuk mengi’rab (menganalisis secara tata bahasa Arab) kalimat tersebut. Jika murid tersebut berhasil mengi’rab dengan benar, maka beliau langsung mendo’akannya. Jika gagal, ia memberi peringatan keras dan mendorong murid belajar lebih giat. Dalam kegiatan pengajian pun, K.H. Abdullah Syafi’ie sangat memperhatikan bacaan para muridnya saat membaca kitab kuning, sampai titik koma, dan tata bahasanya.

Kesan yang mendalam terjadi ketika beberapa menit sebelum melaksanakan shalat Subuh. Saat-saat seperti itu, K.H. Abdullah Syafi’ie selalu membangunkan para santri serta guru-guru yang tinggal di kompleks perguruan tersebut.

Ketika pintu tempat pemukiman diketuk-ketuk dengan keras, para santri sudah tahu kalau yang mengetuk-ketuk itu pasti Pak Kiyai. Ini memang pengalaman yang menarik bagi para santri. Bagi santri yang gampang bangun setelah mendengar ketukan pertama atau sudah terbiasa bangun sebelum Pak Kiyai membangunkan tentu saja buru-buru pergi ke kamar mandi. Tapi, bagi yang kebluk, ini yang menjadi keprihatinan Pak Kiyai.

Pak Kiyai boleh jadi marah. Santri yang kebluk itu pun dibangunkannya berkali-kali. Ia juga geram kalau santri itu malah mengigau. Maka, lewat usaha keras untuk membangunkannya, akhirnya si santri itu pun bangun. Setelah melihat Pak Kiyai yang membangunkannya, si santri bergegas ke kamar mandi.

Usai shalat berjamaah di Masjid Al-Barkah, para santri acapkali disuruh datang ke rumah Pak Kiyai. Letak tempat tinggal Pak Kiyai sekitar 200 meter dari masjid. Sebagian besar santri laki-lak ini tentu saja bertanya-tanya di dalam hati: ada apa gerangan sehingga PaK Kiyai memanggil?. Memang, perintah Pak Kiyai ini seringkali mendadak. Tidak diduga sebelumnya. Namun, karena ini perintah yang harus ditaati, para santri pun segera ke rumah Pak Kiyai.

Baca juga :  Polsek Bojongloa Kidul Polrestabes Bandung Melaksanakan Pelayanan Gatur Lalin Pagi

Sesampainya di rumah Pak Kiyai, Ustadz Rohimi (alm), salah seorang guru di madrasah menyuruh para santri untuk masuk ke ruang tamu. Pak Kiyai masih ada di dalam kamar saat itu. Para santri tentu masih diselimuti tanda tanya di dalam hati tentang panggilan secara mendadak dari Pak Kiyai. Salah seorang santri menatap jendela. Matahari mulai menampakkan wajah.

Sepuluh menit kemudian, Pak Kiyai muncul. Para santri buruburu mencium tangannya. Tapi, Pak Kiyai segera menarik tangannya. Ini selalu dilakukan pada siapa saja. Parasantri tak mempermasalahkan soal itu.

Namun, hatinya deg-degan saat Pak Kiyai menunjuk salah seorang santri untuk menguraikan ilmu fiqih yang telah diperolehnya di madrasah. Kebetulan, buku-buku fiqih di As-Syafi’iyah menggunakan bahasa Arab. Makanya, saat menguraikan ilmu tersebut, para santri harus menggunakan bahasa Arab.

Pak Kiyai akan menggeleng-gelengkan kepala kalau penguraian itu tidak tepat, apalagi salah. Maka, dengan tegas ia menyuruh santri itu untuk mempelajarinya kembali. Suatu saat, santri tersebut akan dipanggil lagi. Bagi yang mampu menjelaskan dengan benar ilmu fiqih tadi, Pak Kiyai pasti manggut-manggut. Ia mendekati santri itu dan mengusap-usap kepalanya disertai dengan doa.
Panggilan mendadak ini, tentu saja menjadi pelajaran berharga. Kedisiplinan menuntut ilmu akan tertanam di dalam hati. Kapan saja dan di mana saja, para santri selalu mempelajari kembali berbagai ilmu yang diperolehnya di madrasah.

Di tengah kesibukannya mendidik para santri, baik di Perguruan Islam As-Syafi’iyah yang terletak di Kampung Bali Matraman maupun di jatiwaringin, juga berdakwah di berbagai tempat, termasuk di Majelis Taklim As-Syafi’iyah yang berlangsung setiap hari Minggu. Kepiawaiannya menyampaikan ajaran agama tak perlu diragukan lagi. Dia lah satu-satunya kiyai yang mampu menggugah hati masyarakat untuk larut dalam wejangannya. Banyak masyarakat, begitu juga ulama, yang mengucurkan air mata ketika ia berceramah tentang alam kubur. K.H. Abdullah Syafi’i memang ulama yang mempunyai kharisma yang tinggi. Ia juga tokoh yang mampu menegakkan kebenaran.

Saat Gubernur Ali Sadikin melemparkan wacana agar “umat Islam yang meninggal dunia tidak perlu dikubur melainkan cukup dibakar saja karena tanah di Jakarta sudah mahal”, maka K.H. Abdullah Syafi’ie menjadi salah satu penentang terdepan.

Ia juga menolak legalisasi perzinahan dan perjudian yang ketika itu sedang diusahakan. Ia bukan hanya menentang melalui ceramah. Sang Kyai juga mendirikan Majlis Muzakarah Ulama dengan merangkul ulama lainnya seperti K.H. Abdussalam Djaelani, K.H. Abdullah Musa dan lain sebagainya. Dalam majlis itulah dibahas berbagai masalah umat dan bangsa, seperti soal perjudian, P4, kuburan muslim, dan sebagainya. Saat ada wacana akan ada batasan azan subuh, Kyai juga muncul sebagai penentang keras kebijakan tersebut.

Saat pemerintah berencana melegalisasi Aliran Kepercayaan, K.H. Abdullah Syafi’ie juga termasuk orang yang keras menentang. Bahkan ia sampai mengumpulkan 1000 ulama yang memiliki integritas untuk berbaiat menolak kebijakan pemerintah tersebut. Kabarnya, itulah yang antara lain membuat Pak Harto mundur dari gagasannya.

Namun sikap tegas tersebut, diimbangi dengan dakwah yang persuasif yang pada akhirnya meluluhkan sikap keras Ali Sadikin dan membuatnya berubah pikiran di hadapan K.H. Abdullah Syafi’ie. Karena itu, bukan aneh, jika K.H. Abdullah Syafi’ie memang seorang ulama yang sangat disegani oleh umat dan penguasa.

Baca juga :  Kampus UIA Siap Cetak Sarjana Berkualitas

K.H. Abdullah Syafi’ie memang sangat peduli terhadap permasalahan yang akan menjermuskan masyarakat. Karena itu, ia dipandang sebagai ulama yang vokal, tegas, dan jujur. Maka, tak heran, kalau para pejabat di DKI Jakarta khususnya sangat menyukai Pak Kiyai. Malah, Menteri Agama Munawir Sadzali mengakuinya sebagai guru yang patut dicontoh dan ditiru.

Meskipun ia aktif di Masyumi, tapi sangat dekat dengan tokoh-tokoh lain dari berbagai organisasi, seperti dengan Buya Hamka, K.H. Hasan Basri,K.H. Idham Chalid, dan banyak lagi. Karena itu, para pejabat, termasuk Ali Sadikin, selalu mendukung gagasan yang disampaikan oleh K.H. Abdullah Syafi’ie.

Salah satunya, tentang pengembangan Perguruan As-Syafi’iyah dan perenovasian Masjid Al-Barkah. Dengan demikian, perguruan yang semula hanya terletak di Kampung Bali Matraman, akhir tahun 60-an merambah ke daerah lain, seperti jatiwaringin, Cilangkap, Jakasampurna, Payangan, Cogrek, dan sebagainya. Malah, Jatiwaringin dijadikannya sebagai Kota Pelajar. Di Jatiwaringin terdapat Pesantren Putra, Pesantren Putri, Pesantren Tradisional, Pesantren Khusus Yatim As-Syafi’iyah, Taman Kanak-kanak, dan Universitas Islam As-Syafi’iyah.

Kiyai juga merupakan salah satu pendiri MUI (Majelis Ulama Indonesia). Selain pernah menjabat sebagai Wakil Ketua di MUI Pusat, juga sebagai Ketua Umum MUI DKI Jakarta. Ia juga salah seorang yang giat mengadakan pendidikan dalam pemberantasan buta huruf Al Quran. Di samping itu, kiyai yang cuma mengenyam pendidikan SR kelas dua ini, juga dipercaya sebagai pengurus Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT).

Tahun 1967 Sang Kyai membuat terobosan besar dalam dakwah dengan mendirikan stasiun Radio As Syafi’iyah. Ini bisa dibilang baru dalam dunia dakwah. Salah satu tujuannya, membentengi umat dari kekuatan komunis yang saat itu telah mendirikan UR (Universitas Rakyat) dan memiliki pengaruh kuat.

KH Abdullah Syafi’ie memanfaatkan media radio tersebut untuk membentengi umat dari paham komunis, perjudian, dan berbagai masalah yang dapat menghancurkan keimanan umat Islam. Melalui radio yang dimiliknya, ia terus mengajak umat untuk melawan kebijakan yang menyudutkan umat Islam. Sikapnya berpedoman pada sabda Nabi: “Qul al Haq wa lau kana murran” (katakanlah kebenaran, meskipun itu pahit). Kyai Abdullah Syafi’ie tidak segan dan gentar untuk berseberangan sikap dengan penguasa saat itu.

Kehadirannya tentu saja selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat dari berbagai lapisan serta para ulama yang mengundangnya Ceramahnya di Radio Dakwah As-Syafi’iyah yang didirikannya yang juga tak lepas dari telinga masyarakat Jakarta dan sekitarnya.

KH Abdullah Syafi’ie meninggal dunia tanggal 3 September 1985 dalam usia 75 tahun. Kemudian, dari radio Islam Asyafi’iah bergema ayat-ayat suci Alquran diselingi berita-berita duka cita. Ribuan orang datang unyuk ber-takziah. Suara tahlil, takbir dan tahmid bergema tiada henti.

Dari rumah duka di Kampung Balimatraman ke peristirahatan terakhir di Pesantren Asyafi’iyah, Jatiwaringin, mesin mobil pembawa jenazah dimatikan. Karena, ribuan pelayat rela untuk saling rebutan mendorongnya sejauh 17 km. KH Abdullah Syafi’ie memang dikenal luas oleh masyarakat.

Menjelang meninggalnya beliau menyuruh anaknya Abdul Rosyid untuk membacakan kitab dihadapan jama’ah majlis taklim dan dengan suara yang terbata-bata beliau mendoakan anaknya, beliau meninggal dunia dipangkuan anaknya sewaktu dibawa kerumah sakit….innalillahi wa inna ilaihi rojiun…

Kini, umat merindukan hadirnya ulama-ulama yang berilmu tinggi dan bermental singa seperti ini.

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru