oleh

Peringati Hari Bakti Rimbawan ke-34 dan Hari Hutan Internasional, KLHK Gelar Kemah Konvervasi

LAMPUNG, KICAUNEWS.com — Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI menyelenggarakan kegiatan Kemah Konservasi Tahun 2017. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Bakti Rimbawan ke-34 dan Hari Hutan Internasional Tahun 2017. Tema tahun ini yaitu “Aksi Konservasi untuk Penyadartahuan Masyarakat terhadap Hutan dan Konservasi”.

Peserta yang terlibat sebanyak 319 orang, berasal dari kader konservasi serta anggota Gugus Depan Pramuka Saka Wanabakti dan Saka Kalpataru. Kegiatan ini berlokasi di Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM), Kotaagung, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung selama tiga hari mulai tanggal 31 Maret hingga 2 April 2017.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menyebut, Indonesia memiliki 556 unit kawasan konservasi seluas 27 juta hektare, termasuk di dalamnya 52 taman nasional dan 118 taman wisata. Di dalam kawasan-kawasan konservasi itu terdapat 27.500 jenis tumbuhan berbunga atau sekitar 10 persen dari total populasi dunia serta 1.536 jenis burung yang setara dengan 17 persen populasi dunia.

Indonesia, sambung Siti, juga menjadi rumah bagi 781 jenis reptil dan amphibi serta lebih dari 25 persen ikan laut dunia. Keanekaragaman hayati tersebut merupakan kekayaan yang harus dijaga kelestariannya.

Menteri LHK memandang penting untuk menanamkan kesadaran melindungi kualitas lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati kepada generasi muda. “Agenda ini sangat penting untuk menjadi trigger atau gerakan untuk nasional,” ujar Siti Nurbaya.

Sejarah membuktikan bahwa generasi muda merupakan aktor utama terjadinya perubahan fundamental dalam tatanan kehidupan.

Telah menjadi kesepakatan nasional bahwa konservasi dikaitkan dengan tidak saja untuk kepentingan menjaga kelestarian dan fungsi konservasi kita. Disamping itu, konservasi juga terkait dalam upaya pengembangan wilayah dan manfaat wilayah.

”Hutan sekarang tidak boleh ditakutkan lagi, karena hutan sudah harus menjadi bagian dari program pengembangan wilayah provinsi atau kabupaten,” pesan Menteri LHK

Hal ini harus dijalankan dengan tetap menjaga kelestarian dengan konsep hutan sosial yang ada aturan-aturannya.

Pengelolaan kawasan konservasi tersebut seringkali menghadapi tekanan dan gangguan, perambahan dan perladangan liar, dan pencemaran lingkungan. Fakta di lapangan sudah ada masyarakat yang tinggal di dalam atau sekitar kawasan sebelumnya. Banyak desanya yang membutuhkan kehidupan. Terkadang ada yang mencoba menekan masuk kedalam kawasan hutan.

Hal ini yang sekarang pemerintah berusaha atasi dengan program perhutanan sosial. Program ini memberikan akses kepada masyarakat untuk memanfaatkan hasil hutan bukan kayu (HHBK). Disamping dapat juga dengan menfaatkan jasa ekowisata. “Yang disebut HHBK dan jasa lingkungan itulah yang harus kita optimalkan,” kata Siti Nurbaya.

Melalui pembinaan generasi muda seperti pramuka dan kegiatan kemah konservasi ini diharapkan dapat tersampaikan pesan-pesan konservasi kepada masyarakat. Pramuka adalah ujung tombak pembangunan karakter bangsa untuk mempersiapkan kader muda bagi masa depan. “Generasi muda perlu terus dibina dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat, keren, gembira dan asyik serta berwawasan konservasi dan lingkungan, tentu hasilnya akan luar biasa,” ungkap Siti Nurbaya.

Untuk itu Menteri LHK berharap ada penyempurnaan dan pengembangan materi konservasi, metode dan media latihan rutin di tingkat Saka.

Anggota pramuka dan Kader Konservasi ini harus mampu menjadi teladan bagi generasi muda lainnya dalam pelestarian hutan dan lingkungan. Dengan memegang prinsip 3P, yaitu: perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan.hutan dalam rangka konservasi. “Kehadiran mereka diharapkan dapat menjadi pejuang-pejuang konservasi masa depan,” pungkas Siti Nurbaya.

Beberapa kegiatan yang dilaksanakan dalam Kemah Konservasi 2017 adalah pelepasliaran 4 ekor elang bondol , penaburan benur (benih udang), dan penanaman 7.000 batang mangrove. Pada kesempatan ini, Menteri LHK Siti Nurbaya mengukuhkan anggota baru kader konservasi Indonesia Provinsi Lampung. Dilakukan juga penyerahan izin pemanfaatan air/energi, izin usaha penyediaan jasa wisata alam dan izin pemanfaatan HHBK oleh Plt. Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Bambang Hendroyono. Dilanjutkan dengan peluncuran Proyek “Transforming Effectiveness of Biodiversity Conservation in Priority Sumatran Landscape” di kawasan TNBBS.

Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Sutono menambahkan, di Lampung sendiri ada tiga wilayah yang akan dijadikan sebagai pusat konservasi, yakni Taman Nasional Way Kambas, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan serta Taman Hutan Raya Tahurawan Abdul Rahman. Khusus untuk Taman Nasional Way Kambas, Sutono mengatakan, selain sebagai lahan konservasi gajah, lokasi tersebut juga akan difokuskan untuk tempat konservasi badak Sumatra. Adapun Taman Hutan Raya Tahurawan Abdul Rahman akan dikembangkan sebagai pusat observatorium teropong bintang.

Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Kementerian LHK, Bambang Dahono Adji mengatakan, kebutuhan akan konservasi terus meningkat seiring dengan masifnya pembangunan. Sebab, pembangunan ekonomi tak dapat dipungkiri memiliki dampak negatif pada lingkungan yang menyebabkan habitat satwa liar semakin berkurang.

“Jangan sampai ada lagi satwa kita yang punah seperti harimau Jawa dan harimau Bali. Dua-duanya sudah hilang sejak tahun 1980-an karena pada waktu itu pemerintah belum punya strategi konservasi,” ucap Bambang.

Sumber : http://nasional.indopos.co.id/read/2017/04/04/93710/Kementerian-LHK-Bina-Generasi-Muda-dan-Masyarakat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Berita Terbaru