oleh

Siasat Banteng Menjagal Naga ?

KICAUNEWS.com — ‘Inilah yang harus kita hindarkan. Jangan sampai dicampuradukkan antara politik dan agama, dipisah betul, sehingga rakyat tahu mana yang agama, mana yang politik’ demikian ungkapan Jokowi dalam pidatonya.

seperti Rilis yang diterima redaksi, Senin 27/3/2017, Agus Harta Wasekjen Bidang PTKP PB HMI Periode 2016-2018 akan mencoba menafsirkan pernyataan presiden Jokowi, dengan kaca mata politik saya selaku pemuda asli Indonesia. Mengedepankan pemikiran positif, yang dikatakan presiden mengandung sarat akan makna, maksud presiden bukan untuk menyinggung para pemeluk Agama, ini sebuah isyarat politik yang dinyatakan petugas partai politik. Saya menilai kondisi internal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) telah terjadi percikan yang akan membakar dan menjalar keranah perpecahan sesama kader PDIP.

Persoalan ini lahir ketika Pentolan PDIP mengusung Basuki Tjahya Purnama alias Ahok sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta, disinilah perpecahan kader PDIP terjadi, terlihat beberapa pengurus PDIP tingkat ranting dan cabang diwilayah Jakarta banyak spanduk penolakan Ahok sampai dengan Bang Boy Sadikin salah satu elit Partai PDIP dengan tegas mendukung pasangan yang diusung oleh Gerindra dan PKS. Mungkin kesadaran itu tumbuh di internal PDIP karena semenjak PDIP mengusung Petahana di Pilkada 2017.

Ternyata banyak kasus perkara yang menimpa calon gubernur yang diusungnya, dimulai dari kasus perkara Penistaan terhadap Agama, isu-isu korupsi dan lain sebagainya. Dirasa para pemegang saham partai merah ini dan kader-kader PDIP perjuangan arus bawah sudah merasa cukup untuk pasang badan dan menjadi tameng membela mati-matian hanya untuk seorang Calon Gubernur yang bermasalah (Ahok).

Tidak sedikit kader-kader potensial PDIP yang mengundurkan diri dari jabatannya, lantaran Jarot kader tulen PDIP diposisikan sebagai Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta. Kita kembali ke persoalan Jokowi yang berpidato tentang pemisahan Agama dan Politik, Saya menilai mungkin saja dengan kronologis konflik internal diatas, PDIP mulai membuat siasat untuk menyingkirkan Ahok.

Baca juga :  Penyidikan Kasus Penyerangan Terhadap Petugas oleh Simpatisan MRS Dilakukan Secara Scientific Crime Investigation

Pernyataan presiden Jokowi mengandung 2 unsur makna, yaitu Memisahkan Urusan Politik dengan Agama, Mungkin saja 2 perkara tersebut sekali lagi bagian dari pada siasat Partai PDI-Perjuangan untuk calon gubernur yang diususngnya yang memiliki status sebagai terdakwa pada perkara Penistaan Agama, mungkin ini pertanda keras.

Soal Yang pertama, Yaitu memisahkan Agama, Mungkin jokowi akan memisahkan soal penista agama (Ahok) dengan perkaranya yaitu jika terbukti bersalah Ahok akan masuk penjara, dan soal yang kedua, Yaitu memisahkan Urusan Politik, siasat Partai PDI-Perjuangan berhasil memisahkan hubungan politik Ahok dengan Jarot.

Akhirnya Jarot selaku kader tulen PDIP menduduki kursi Gubernur DKI Jakarta, itupun kalau menang pada Putaran kedua. Skenario Politik PDIP Jarot For DKI 1. Megawati pun tidak ingin di tinggalkan kader-kader militan Partai PDI-Perjuangan. Saya yakinkan itu. Dan saya berharap kepada para pemuka agama, para aktivis agar tidak terpancing dengan statement Presiden Jokowi tentang pemisahan Agama dan politik.

Kita yakin Presiden Indonesia tidak mungkin memecah NKRI. Presiden sangatlah mengerti makna dari sila ke 3 yaitu Persatuan Indonesia. Kita selamatkan Presiden Jokowi dari jebakan Ahok yang terus berusaha berlindung dibalik kekuasaan. Sudah saatnya Partai PDIP mendaulat Orang Indonesia Asli, sebagaimana Konsep Soekarno yang cinta terhadap bangsanya. Soekarno selalu memprioritaskan Kedaulatan politik, ekonomi dan demokrasi sepenuhnya untuk Orang Indonesia Asli.

Oleh : Agus Harta Wasekjen Bidang PTKP PB HMI Periode 2016-2018

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru